
"Kau udah bangun, Canda? Givan masih tidur kah?" tanya mamah Dinda kemudian.
"Udah, Mah. Biasa, morning sick. Mas Givan masih tidur, Mah." aku harus ingat, bahwa aku adalah seorang Nadya yang tengah hamil.
"Bangunin aja, Dek. Takutnya kau kepeleset di kamar mandi atau kau lemas." aku bisa melihat mamah Dinda yang tengah menggulung rambutnya.
"Nenek.... Sakit perut."
Itu adalah anak sulungku, Mikheyla. Aku selalu teringat akan diriku yang dimarahi, karena lupa menyuapi Mikheyla makan.
"BAB belum? Makan tak sore tadi?" si Ikal lincah dipangku oleh mamah Dinda. Rambut anak-anak di sana tidak begitu keriting, tapi tidak lurus juga. Ikal sempurna, seperti buatan salon.
"Biyung... Biyung kenapa tak pulang-pulang? Key kangen."
Deg....
Bagaimana ini?
"Key yang tak pulang-pulang, Biyung kan ada di rumah." Ghifar menyelematkanku.
"Wah, Key gimana sih?" mamah Dinda merunduk untuk bisa melihat wajah Mikheyla.
"Nenek... Makan. Sakit perut, bunyi terus." aku bisa melihat Mikheyla merengek pada neneknya.
"Makan tak sore tadi?" tanya nenek yang selalu adil tersebut.
"Makan, Nek. Tapi udah laper lagi." Mikheyla sudah menarik-narik tangan mamah Dinda.
"Yuk..." mamah Dinda berdiri, ia mengikuti tarikan tangan cucunya.
"Bikin makan dulu, Canda." ucap mamah Dinda berlalu dari hadapan kamera.
"Tuh, Far. Dengerin! Kau ini cuma bosan." ucapku pada Ghifar yang masih memasang wajah lesu.
__ADS_1
"Entahlah. Rasanya pengen liburan sendirian, biar paham apa yang aku rasa." Ghifar mengusap wajahnya kasar.
"Papa..." tangis anak perempuan kian mendekat.
"Papah di sini, Kal."
"Udah dulu, Canda."
Panggilan video langsung dimatikan.
Ghifar menjadi aneh menurutku. Ia tidak seperti Ghifar ya aku kenal dulu. Pasti ada yang hal yang mendasar, membuatnya berubah drastis seperti ini.
Aku bangkit, mencolokkan charger. Lalu memilih untuk pergi ke kamar mandi. Ini sudah sore, setidaknya aku harus mandi dan sholat.
Membosankan sekali rasanya. Apa lagi, aku adalah orang yang malas ke luar jika tidak ada yang mengajak. Lepas maghrib, aku sudah asik rebahan kembali.
"Assalamualaikum... Adek...."
"Bang Daeng...." aku memanggilnya sebelum membukakan pintu.
"Iya, Dek. Ini Abang."
Senyumku terukir sempurna. Suamiku akhirnya pulang juga.
"Kangen." aku langsung menubruk tubuhnya.
"Ughhh.... Abang juga kangen." ia mengusap punggungku, lalu mencium pucuk kepalaku.
"Masuk yuk." ia merangkulku.
"Maaf ya, Abang gak bawa tentengan."
Ia menaruh ransel, yang ia bawa saat berangkat. Wajah bang Daeng terlihat hitam mengkilap, pasti ia terkena paparan sinar matahari setiap hari.
__ADS_1
"Abang bersih-bersih dulu." bang Daeng berlalu ke kamar mandi.
Aku membuka ranselnya, yang ternyata berisi pakaian kotor. Bahkan, pakaian ini sampai memiliki kerak keringat berwarna putih.
"Nanti laundry aja, Dek. Wearpacknya berat kalau digosok pakai tangan." serunya dari dalam kamar mandi.
"Ya, Bang." sahutku kemudian.
Aku pun menyimpan map yang terdapat di sela khusus, di dalam ransel ini. Seperti untuk tempat laptop, yang disekat di dalam tempat ransel.
PT. Indo Walet Internasional
Bang Daeng bekerja di pabrik walet?
Saat aku membuka lembaran dokumen tersebut, terdapat materai yang ditandatangani oleh bang Daeng. Aku hafal tanda tangannya, di bawah tanda tangan tersebut pun tercantum nama bang Daeng. Yang membuatku tidak mengerti, ini menggunakan bahasa Inggris.
Ya, mungkin bahasa Inggris. Karena ada this dan kata baku dalam bahasa Inggris yang aku pahami dulu.
Ia mengatakan dirinya bekerja untuk mengirim barang ke Singapura. Tapi, ia malah mengirim hasil walet. Ya mungkin sarang walet. Rasanya tidak mungkin, PT dengan nama walet malah mengirim beras.
Aku cepat-cepat menyimpan dokumen itu, ditumpukkan koleksi novelnya. Karena terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, sepertinya ia sudah selesai membersihkan diri. Lalu aku meraih ransel itu, untuk aku angin-anginkan di luar.
"Gofood, Dek. Abang laper, nanti Abang yang bayar." ucapnya ketika tengah memilih pakaian di depan lemari.
"Ya, Bang." aku kembali menutup pintu, setelah menggantung ransel itu di luar.
Aku meraih ponselku, mencari aplikasi ojek online. Beberapa menu makanan langsung terlihat jelas, membuat rasa laparku bangkit.
"Adek mau rumah yang kek mana sih?"
...****************...
Wah, sekali pergi kerja jauh. Nawarinya..... 😳
__ADS_1