Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD415. Minta jajanan


__ADS_3

"Ya udah, biar aku yang putuskan. Mamah ikut aku, Papah terserah ikut siapa. Terus rumah nanti masuk harta gono-gini, dengan kalian aku proses perceraiannya."


Kedua orang tua itu, mendelik cepat mendengar keputusan mas Givan.


Sungguh, aku menantikan mereka berdua mengeluarkan protesnya. Sayangnya, mereka hanya diam dan saling memandang.


Mas Givan bangkit, "Far... Nanti bajunya."


Ghifar hanya mengangguk samar.


"Ayo, Mah." mas Givan mengulurkan tangannya mengajak mamah Dinda.


Namun, ia tetap membantuku untuk bangun.


"Mas.... Sesak." aku merasa perutku seperti sampai ke dada.


Ini kram perut, sering terjadi setiap hari. Yang aku lakukan, hanya mengusap-usap bayiku yang suka ngambek dari dalam kandungan.


"Canda.... Kau berdarah." suara papah Adi terdengar panik.


Aku langsung menarik rokku. Benar saja, noda merah bahkan mengotori sofa tamu Ghifar.


"Cepat dirujuk, Bang." Ghifar bangkit, ia terlihat langsung cemas.


"Kau mau lahiran, Canda?" mas Givan langsung mengusap perutku.


Aku menggeleng, "Aku...." aku mendongak menatapnya, "Aku sering pendarahan, Mas."


Tarikan nafas mas Givan begitu jelas. Ia terdiam, dengan pandangan yang kosong.


Hingga, brughhhh....


Suamiku terjatuh lemas dia atas sofa.


"Mas...." aku tidak bisa melihatnya shock seperti ini.


"Mas Givan!" aku menepuk-nepuk pipinya.


"Dih, masa dua-duanya dibawa ke rumah sakit?" Ghifar malah garuk-garuk kepala.


"Kau tak pernah ngabarin Bang Givan kah, Kakak Ipar?" Kinasya berjalan memutar, lalu membenahi posisi kepala mas Givan.


Aku menggeleng, "Aku tak bilang, tapi dia tau aku ada plasenta previa." aku memijat-mijat jemari suamiku.


Entah efektif atau tidak untuk membangunkannya. Yang penting, suamiku bangun.


Jika aku lemah, suamiku lemah. Lalu, kami bersandar pada siapa?


"Mas Givan....." aku semakin terisak, melihat bola matanya ke atas saat Kinasya memeriksanya.


Aku teringat bang Daeng saat akan menemui ajalnya. Aku tidak bisa diingatkan seperti ini.


"Mas Givan......" aku memeluk leher suamiku.


"Malah suamimu bisa mati loh, Kakak Ipar. Masa iya dipersulit gitu jalan napasnya."


Aku segera bangkit, lalu memberi ruang untuk Kinasya yang membantu menyadarkan mas Givan.


"Udah ayo ke rumah sakit, Canda." malah Dinda menarik lenganku.


Aku menggeleng, "Sama Mas Givan, Mah. Nanti aku pegangan sama siapa, kalau dia tak ikut?" aku menangis sambil berbicara. Jangan lupakan tarikan air hidungku pun, membuat penampilanku semakin kacau.

__ADS_1


"Ayo, Kakak Ipar. Suami kau biar diurus Kin." Ghifar memperhatikan istrinya, "Dihandle sendiri bisa ya, Yang?" tanya Ghifar pada istrinya.


Kinasya mengangguk, "Ya, Yang. Cepat antar Kakak Ipar aja. Sama Mamah tuh, Yang." Kinasya membubuhkan minyak angin di tempat kumis mas Givan.


Lalu, Kinasya memijat tumit dan tungkai kaki mas Givan.


"Papah juga ikut, Far." papah Adi sudah bangkit dari kursinya.


"Ya udah ayo. Canda, bangun! Bisa jalan tak?" Ghifar mendekat ke arahku.


Aku memasang telapak tanganku di depan tubuhku. Aku menghindari tindakan, yang membuat Kinasya tak terkendali. Karena meski ia yang meminta Ghifar mengantar, tapi sindromnya bisa kambuh tanpa ia sadari.


"Aku bisa bangun." aku bisa bangun, meski perutku terlampau besar.


"Ayo, biar Mamah tuntun." mamah Dinda membantuku berjalan.


Biar nanti saat di mobil, aku akan menelpon Ria untuk menjemput Ceysa di rumah Kinasya. Aku lebih percaya Jasmine yang menjaga adiknya, ketimbang Ceysa tetap bersama Kinasya. Karena, aku takut Kinasya tiba-tiba kambuh.


Aku sekarang sudah berada di rumah sakit, dengan sudah meminta Ria untuk menjemput Ceysa. Kini, aku kembali dipasangkan jarum infus di punggung tanganku.


"Far.... Coba telpon mas Givan." aku menepuk punggungnya, yang duduk di tepian brankar dengan memunggungiku.


"Mau apa sih?" Ghifar melirikku sekilas.


"Mau pegangan." aku tidak muluk-muluk. Aku ingin memegang mas Givan terus menerus, itu membuatku nyaman.


"Ya Allah." Ghifar bangkit dari duduknya dan memandangku, "Nih pegang!" Ghifar menyodorkan tangan kanannya.


"Ada CCTV, Far. Takut hari sial kau."


Namun, Ghifar malah tertawa geli.


"Ya udah, bentar. Tadi sih katanya masih pusing." Ghifar merogoh sakunya.


"Bang.... Pengen pegangan katanya, Bang. Boleh tak pegangan aku?"


Aku langsung menarik kemejanya, sebagai bentuk protes dari ucapannya.


Ghifar melirikku, kemudian ia tertawa geli dengan teleponnya.


"Sementara, Bang. Pegangan tangan aja, Bang. Ya ampun, pelit betul kau Bang." Ghifar ini benar-benar.


Bukannya meminta mas Givan untuk datang. Ia malah melobi mas Givan, agar dirinya diizinkan untuk aku pegang.


"Ok, siap. Ditunggu, Bang." Ghifar menyelesaikan panggilan teleponnya.


"Eh, Far. Mamah sama papah mana?" aku teringat akan barang bawaanku itu.


Ya, bukannya barang. Melainkan, ibu dan ayah mertuaku. Entah bagaimana nasib ibu Bilqis yang ditinggal di rumah Ghifar. Mungkin, ia telah kembali ke rumah.


"Ngobrol di lorong depan. Cuma satu keluarga yang boleh masuk ke sini. Ya udah aku ngajuin diri aja, biar mereka ada waktu ngobrol sebelum bang Givan bener-bener buat proses perceraian mereka."


Ya, semoga mereka tidak sampai bercerai.


Aku masih diminta menunggu saja, karena pasien di sini begitu membludak. Ada anak kecil yang tersedak, ada bapak-bapak yang sesak nafas, belum lagi korban kecelakaan dan ibu-ibu hamil yang sudah meringis menahan kontraksi.


"Far.... Beli minum dong, air mineral dingin. Sama keju silices yang isi dua belas lembar itu. Sama apalagi ya???" aku memutar bola mataku, mengingat cemilan yang biasa aku stok di rumah.


"Kau pernah disuruh nelen tak sama bang Givan? Doyan betul sama keju, jadi curiga." Ghifar mengusap-usap bulu dagunya.


Jika berekspresi seperti ini, Ghifar terlihat cabul.

__ADS_1


"Nelen apa?" aku memperhatikannya yang menarik kursi lipat yang berada di pojok ruangan yang disekat tirai ini.


"Nelen cairannya, cairan suami kau."


Aku menatapnya datar. Aku paham cairan apa itu.


"Pernah pun tak sering lah. Memang gimana sih?" dia kira variasiku monoton seperti dulu kah?


Apalagi sekarang mas Givan pandai memberi sogokan.


'Coba dulu, Canda. Nanti aku belikan ini deh, atau nanti kita jalan-jalan.' hadits mas Givan yang selalu berulang.


Ghifar terkekeh, "Suka kah rasanya? Sampai jadi doyan keju."


Perasaan, tidak ada kemiripan rasa. Ya memang, sama-sama asin. Hanya saja, yang itu rasa ingus. Ya, aku tahu rasa ingus saat masih kecil. Yang keju ini, ya asin gurih rasa keju.


"Beda lah!" aku menyabet lengannya dengan ujung pashmina milikku.


Ghifar terkekeh geli, dengan menutupi mulutnya.


"Memang kau tak apa sendirian di sini? Aku tinggal ke minimarket, memang tak apa?" Ghifar menggulung lengan kemeja biru dongkernya.


"Ya tak apa. Minimarket dalam aja, Far."


Ghifar mengangguk, "Ya, airnya yang dingin kah?" ia bangkit dari kursinya, dengan menghadap ke arahku.


"Ya, Far. Air dingin." aku jarang minum air putih yang tidak dingin.


Bahkan, rasa mualku mereda jika minum air dingin.


Beberapa saat kemudian, Ghifar telah kembali dengan jajanan yang aku inginkan. Ia bahkan sedari tadi memperhatikanku, yang tengah menyobek keju silices ini.


"Mau kah?" aku menawarinya untuk kesekian kalinya.


Namun, Ghifar tetap menjawab dengan gelengan.


"Canda.... Sekarang kau bahagia kah sama bang Givan?" ia berpangku dagu, dengan siku yang berada di tepian ranjang.


Aku langsung berhenti mengunyah.


Kenapa Ghifar tiba-tiba menanyakan hal itu?


"Aku tak muluk-muluk sih untuk sekarang, Far. Tak nuntut mas Givan berubah, jadi begini-begitu. Mas Givan ngertiin aku pun, aku udah cukup bahagia. Karena dulu, aku kaget kan dengan sifat dan watak dia. Sekarang, udah paham dan bawa santai aja. Malah dia marah, aku sering ketawa. Keknya lucu aja gitu, cepat marah, cepat ilang juga sewotnya gitu loh." aku mengingat-ingat di setiap waktuku yang dimarahi mas Givan.


Ghifar tersenyum manis, "Syukurlah. Aku kira, bang Givan masih suka ngamuk tak jelas. Tapi kenapa kau gampang betul nangis?"


Aku pun tidak tahu, kenapa aku bisa sering menangis?


"Dari dulu pun sering nangis, tapi ngumpet." aku membeberkan aibku dulu.


Ya, aku sering menangis diam-diam. Bahkan, sering menangis tanpa suara.


Ghifar terkekeh dengan geleng-geleng kepala, "Nih, air dinginnya." Ghifar membukakan tutup botolnya.


Aku langsung menerimanya, dengan langsung meneguknya.


Uhh, segernya.


"Ehh... Ada telpon." Ghifar buru-buru merogoh sakunya.


"Ya, hallo."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2