Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD418. Membuat Giska mengerti


__ADS_3

"Boleh ya, Mas?" aku tengah meminta izin dari telepon pada mas Givan.


"Sama siapa coba, Dek? Kau tak boleh capek-capek. Nanti capek tak kalau jalan kaki ke Giska? Pulangnya sore aja, biar aku jemput. Aku lagi nanggung nih, lagi cari tambahan buat bekal lahiran kau."


Hah, ternyata ia sedang bekerja?


"Kerja di mana, Mas?" aku memiliki feeling ia bekerja bersama Zuhdi.


Karena hanya Zuhdi, teman yang berani mengajaknya bekerja. Ya, setahu aku sih memang dia.


"Di meubel aku, di rumah Ghifar dulu yang di dalam ladang itu. Ada yang tak berangkat, udah dua hari, katanya istrinya baru melahirkan. Jadi aku ambil alih dulu. Kan lumayan, nanti aku dapat bayaran juga, meski aku yang bayar."


Bagaimana konsepnya?


Ah, sudahlah. Aku tidak mengerti dan pusing.


"Udah kau tau aku bisa cari uang aja, Canda. Masak, mandi, sholat, makan, tidur, urus anak yang bener. Biar aku yang mikir cari uang." lanjutnya yang membuatku terkekeh.


"Ya udah, Mas. Jadi aku diizinkan tak? Aku bosen, kalau sama Giska bisa ketawa-ketawi. Mamah keluar bawa mobil dari jam sebelas siang."


"Minta anter kak Ifa atau siapa. Motor Beat mamah dipegang kak Ifa kan?"


Eh, iya. Benar juga, biar aku tak terlalu capek.


"Iya, Mas. Berarti boleh ya, Mas?" aku memastikannya kembali.


"Ya boleh, pulangnya sore aja nanti aku jemput."


Yey, alhamdulilah.


"Oke, Mas. Udah dulu ya? Assalamualaikum."


Tut.....


Aku langsung mematikan panggilan teleponku. Dengan segera, aku berbenah dan membawa jengkol itu. Aku membawanya semua, karena para pengasuh pun tidak doyan. Entah karena masakanku yang aneh, entah karena memang tak suka dengan jengkol.


Aku pun langsung meminta bantuan pada kak Ifa untuk mengantarku. Kemudian, kini sampailah aku di rumah panggung yang penuh dengan mainan anak laki-laki.


Duh, anak pemborong. Mainanya pun borongan semua.


"Adiiii...." Ceysa langsung girang, begitu tahu bahwa aku membawanya ke rumah Hadi.


"Assalamualaikum dong, Dek." aku membantunya naik ke tangga teras.

__ADS_1


"Adiiii, mikum." senyumnya begitu ceria.


Beginilah Ceysa ketika akan bertemu Hadi. Hadi seperti mood booster untuk Ceysa.


"Wah, ada Ceysa. Sini masuk." Giska muncul dari dalam rumah.


Jangan lupakan si botak Fandi yang nemplok saja padanya.


"Adi mana, Nda?" tanya Ceysa, dengan melongok ke dalam rumah.


"Ada, Hadi lagi demam. Jadi mainanya di kamar aja." Giska membuka pintu lebih lebar.


"Sakit sejak kapan?" aku masuk ke dalam rumah Giska.


"Sore, pas dilihat mulutnya itu tumbuh gigi geraham atas." sahut Giska, dengan menutup satu daun pintu.


Aku duduk di kursi ruang tamu, membiarkan ceys yang mulai mengitari rumah Giska.


"Di kamar itu Hadinya, Dek." Giska menunjuk salah satu kamar.


"Mana?"


"Ayo, ayo." Giska mengantar Ceysa ke kamar.


"Mau mainan apa, Eunceysa?" Hadi sedikit unik saat menyebutkan nama Ceysa.


Seperti ibu, yang memanggil Ceysa dengan sebutan Inces. Dengan mas Givan, yang memanggil dengan sebutan Ces.


"Mainan wana-wani."


Warna-warni maksud Ceysa.


"Yang mana?" Hadi mengerti bahasa Ceysa.


"Pulas tuh, pulas-pulas." Ceysa seperti tengah memulas warna di objek yang tidak nyata.


Hadi manggut-manggut, "Ada di kamar Hadi, Hari ambil dulu ya?" anak itu berlari ke kamar kembali.


Tak lama, ia datang dengan membawa tas karakter jerapahnya itu. Mereka langsung anteng, dengan menggosokkan krayon ke majalah anak yang memiliki karakter yang harus diwarnai. Ceysa belajar ini, saat bermain bersama Kal dan Kaf.


"Kau handle anak sendirian, Giska? Ipar kau ke mana?" tanyaku kemudian.


Giska duduk di kursi yang sama denganku.

__ADS_1


"Di rumah ma. Akhirnya sih, orang tua lagi. Kan begitu lah ya? Amarah orang tua itu sesaat." jawab Giska, dengan menundukkan Fandi di pangkuannya.


"Anaknya udah berapa bulan sekarang?" tanyaku, sesekali melirik ke arah anak-anak.


"Mau tiga bulan. Sekarang Ardi nganggur aja, karena bang Adi tak dapat borongan." ternyata keadaan ekonomi Giska sedang tidak baik juga.


"Udah berapa lama Zuhdi tak dapat borongan?" aku ingin tahu, barangkali nanti mas Givan bisa membawa Zuhdi untuk bekerja.


"Dari papah di rumah sakit, sampai sekarang. Berarti, waktu Aini hamil sembilan bulan itu. Emasnya banyak, biarin aja, aku bahkan cuma amplopin seratus ribu waktu anaknya lahir. Gemes aja, makan hidup numpang, uangnya sendiri buat investasi emas."


Aku tertawa kecil, "Mungkin dia udah feeling kalau mau nganggur lama." sahutku dengan mencolek pipi Fandi.


Fandi terlihat gempal, hingga banyak memiliki lipatan di lengan dan pahanya. Aku belum pernah memiliki anak yang sampai begitu gempal begini. Chandra standar, Ceysa malah kurus. Mungkin yang ada di rahimku ini. Di kandungan saja, beratnya sudah luar biasa.


Kenapa tidak segera disesar? Karena usia kandungannya belum cukup, bayiku masih dalam masa pertumbuhan mematangkan organ tubuhnya.


Aku pun tidak paham, kenapa bayiku bisa begitu besar. Padahal, aku makan normal saja. Ya menurutku, aku makan dengan normal. Susu untuk ibu hamil pun, aku tidak setiap hari meminumnya. Kalau ingat saja, kalau tengah ingin saja.


Giska hanya diam, mungkin di benaknya tengah menghujat Ardi dan istrinya.


"Giska, kau tau papah tinggal di rumah abusyik?" tanyaku kemudian.


Ia menoleh padaku, "Tau, semalam di sini sampai jam sepuluh. Diminta tetap tinggal, katanya ruwet sama Hadi. Aku sih yakin, itu cuma alasan aja. Kalau Hadi lama tak main ke beliau kan, malah aku ditelpon suruh main."


Ya, aku yakin itu.


"Di pikiran aku, gudang gabah itu rawan dimasuki ular dan tikus. Aku khawatir beliau sendirian di sana, dengan keadaan rumah yang penuh gabah dalam karung." aku memikirkan yang bukan-bukan.


"Sama, Giska. Aku sampai ngomong, apa papah tuh pengen bebas kah sama si Bilqis itu. Papah malah jawab, papah tak ada apa-apa sama dia, papah bahkan udah tak pernah kontekan sama dia. Jujur ya, Kakak Ipar. Aku tuh tak percaya. Entah tiba-tiba, aku kek kurang respect sama papah. Apa papah tuh tak mikir, kalau aku bisa aja disakiti bang Adi, dengan tindakannya yang secara tidak langsung seolah mendidik anak menantunya berbuat jelek." aku bisa melihat mata Giska yang berkaca-kaca, pasti ia pun tidak sampai hati menuduh ayahnya seperti itu. Hanya saja, keadaan seolah menyiratkan bahwa papah seperti itu.


"Kalau mas Givan, Ghifar aja buat kesalahan yang berhubungan dengan perempuan. Terus mereka tetap bersama keluarga dan pasangan mereka. Apa kita tak terlalu berlebihan, jika menghukum papah dengan cara kek gini? Cukup mamah dan papah yang bermasalah, kita tak boleh sampai menelantarkan beliau, apalagi berkurangnya rasa percaya kita pada beliau. Beliau banting tulang, buat hidupi keluarganya. Aku yang jadi menantunya aja tuh, banyak menikmati uang dan jerih payah beliau."


Namun, Giska malah terisak dengan bersembunyi di punggung anaknya yang berada di pangkuannya.


Aku salah berbicara ya?


"Tugas kita itu menyatukan loh, Giska. Bukan untuk berpihak pada salah satunya aja. Kasian papah udah tua, kasian mamah udah bukan waktunya cari nafkah sendiri. Kasian juga yang bungsu. Mereka cuma dapat kasih sayang mamah aja loh, karena papah tak ada biaya untuk nengok dan jamin mereka. Keadaan kita begini sendiri, bantu-bantu pun sekedarnya." aku menepuk-nepuk punggung Giska.


"Nanti nih papah datang sama Zuhdi, minta dia tinggal sama kau aja. Kau anak perempuan satu-satunya, papah sungkan dengan menantunya. Kalau mamah tak sama aku, mungkin aku bakal jadi orang pertama yang penjarakan papah di rumah. Sayangnya lagi, aku adalah menantu dari anak sambungnya. Mas Givan masih kaku, untuk berpikir jernih tentang papah." aku masih mencoba membuat Giska mengerti.


Agar aku memiliki massa, untuk mendukung agar mamah dan papah bersatu kembali.


"Aku harus gimana?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2