Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD89. Canda Pagi Dinanti


__ADS_3

"Malam pi ko datang." suara itu berasal dari ponsel bang Daeng.


"Aku masih di Sulawesi. Maksudnya, aku mau datang nanti. Mangge ada di mana?" aku menggeliatkan tubuhku, karena tidurku tambah dikacaukan dengan suara bang Daeng.


Aku menemukannya tengah menghadap layar ponsel, sembari bersandar di kepala ranjang.


"Di kantor... Banda Aceh." logatnya seperti saat bang Daeng berbicara santai.


"Udah gak di Jawa?" bang Daeng menyahutinya kembali.


"Baru balik semalam, Mangge baru sampai di kantor. Mau briefing dulu, sama buat laporan masuk." ungkap seseorang di dalam telepon tersebut.


"Ya udah, nanti aku langsung datang ke rumah yang di Banda Aceh." bang Daeng memutuskan panggilan telepon tersebut, lalu ia tersenyum padaku yang terang-terangan tengah memperhatikannya.


"Jemput Chandra sekalian." ia langsung menghujamkan ciuman di pipiku.


Namun, setelahnya ia malah menggigit pipiku.


"Rese!" aku memukul dadanya.


"Abang suka gigit. Ati-ati loh nanti." bang Daeng memelukku begitu posesif.

__ADS_1


Ia membelai pelipisku, "Jarang sholat sih jadinya. Masa, jam tujuh baru bangun. Padahal, abis isya udah ngorok." ia menggosokkan wajahnya di ceruk leherku.


"Aku bau, Bang. Belum mandi. Awas Abangnya!" aku mencoba mendorong tubuhnya.


"Mandi bareng yuk?"


Ide gila!


"Aku tak mau. Kita belum muhrim, Bang Daeng." terangku dengan memperjelas kalimat yang aku ucapkan.


Bang Daeng tertawa geli, "Bang Daeng...." ia menurunkan caraku menyebutkannya.


"Abang kan waktu itu minta dipanggil daeng." aku memamerkan gigiku yang seputih salju.


"Yaaaa... Tapi bunyinya Daeng Lendra. Bukan Bang Daeng!" ia meraup wajahku.


"Masa mau ganti lagi?" aku memundurkan kepalaku.


"Terserah Adek aja lah!" ia memajukan kepalanya, lalu giginya terpajang kembali. Sedetik kemudian, ia menancapkan giginya lagi di pipiku.


"Abang!!" aku tertawa geli, ia begitu rese padaku. Tanpa ba-bi-bu lagi, ia menggesekkan kumisnya yang mulai tumbuh itu.

__ADS_1


Tawaku renyah menggema. Bahagiaku sederhana saja, hanya canda pagi seperti ini.


Canda Pagi Dinanti, telah aku rasakan di hari ini.


"Berisik aja tuh! Ganggu orang tidur aja." suara keras kak Raya seperti akan menangis.


"Video call terus sih sampai mata belekan." bang Daeng melepaskanku, lalu ia menoleh ke arah kak Raya yang berada di sofa panjang.


"Biarin!" kak Raya menarik kembali selimut berbulu lembutnya, yang selalu ia bawa dalam trip kerja ke manapun.


"Gih mandi! Terus beli sarapan di luar yuk? Mau gak?" bang Daeng sudah menapakan kakinya di lantai, tetapi kepalanya kembali berputar ke arahku.


"Mau, Bang." aku tersenyum bahagia, dengan bergegas bangun dari posisiku.


Hal sederhana, yang membuatku bahagia.


Ini bukan pertama kalinya bang Daeng mengajakku sarapan di luar. Tapi ini begitu berarti untukku, karena sebelumnya aku tak pernah merasakannya.


Sekali makan sarapan, bang Daeng berani membeli nasi dengan pilihan lauk yang banyak dengan harga kisaran lima puluh ribu. Itu hanya sepiring makanan untukku, belum dihitung untuknya. Padahal, hanya warung tenda pinggir jalan. Mahal, karena menu yang kami pilih tidak hanya satu dan selalu terselip sepotong daging sapi di dalamnya.


Makan siang dan makan malam pun, bang Daeng yang selalu mengeluarkan uangnya. Setiap pembagian trip seperti ini, aku hanya memamerkan gigiku. Bang Daeng pun hanya bisa geleng-geleng kepala, karena aku tak mengganti biaya makanku. Hanya bayaran kak Raya yang dipotong biaya makannya. Karena sebelumnya, bang Daeng yang selalu membayar makanan kak Raya.

__ADS_1


...****************...


Ditunggu ya, nanti crazy up kok.. cuma, untuk crazy up yang satu minggu itu. Aku belum dapat kabar, katanya masih dalam antrian. harap-harap cemas, pas masuk list crazy up satu minggu, eh malah novelnya udah tamat 😂🤭


__ADS_2