
"Jangan berlebihan, Put. Dia cuma anak kecil." nada suaranya begitu lembut seperti tutur kata Ghifar.
Begini kah laki-laki jika berbicara pada kekasihnya?
"Anaknya yang anak kecil. Ibunya kan orang dewasa!" ketusnya dengan melirikku sekilas.
Aku tahu, ia tengah menyindirku.
"Kau balik lak ke Makassar. Aku ini lagi kerja, segala kau susulin. Dikira gak ganggu kah?" ucapan bang Lendra seperti menggerutu.
"Ohh, jadi aku lebih ganggu? Ketimbang anak kecil ini, yang repotin kamu dalam segala hal? Kerja kamu bawa! Mandi makan anak itu, kau handle sendiri!"
Tangis Chandra begitu pilu. Ia takut mendengar teriakkan Putri, yang begitu dekat dengan posisinya.
"Ya, tolong tenangin Chandra dulu. Nih, ajak dia ke minimarket. Dia suka milih-milih ciki, dia juga suka es krim." bang Lendra menyerahkan Chandra pada kak Raya, lalu memberikan uang pecahan lima puluh ribu itu.
"Kurangnya pakai uang kau dulu, Ya. Aku belum ambil uang lagi di ATM." lanjut bang Lendra, saat kak Raya semakin melangkah menjauh.
Aku memalingkan wajahku, saat melihat bang Lendra memperhatikan pergerakanku. Aku pura-pura fokus pada televisi, meski telingaku mampu mendengar suara mereka.
"Udah, mau kau apa?" bang Lendra berbicara pelan. Mungkin, agar aku tidak mendengarnya.
"Aku pengen quality time sama kamu, Yang! Kamu kenapa sih, gak bisa ngertiin aku?!" Putri pun menekan nada suaranya.
"Aku udah bosen sama hubungan kita, udah terlalu lama. Monoton!"
Jleb....
Ucapannya langsung mengenai ulu hatiku, padahal kalimat itu bukan untukku. Kontan saja, isakan samar langsung terdengar sampai ke gendang telingaku.
"Kamu jahat, Yang!" suara lirih Putri, mampu tertangkap telingaku.
"Halah! Buktinya pun kau sama bosennya sama hubungan ini. Hampir satu tahun, begini-begini aja. Capek tau, tuker kabar hanya untuk nanya makan belum. Sampai kapan harus pura-pura?" cekcok kali ini, didominasi oleh suara pelan.
Tidak seperti saat bang Lendra beradu argumen dengan kak Venya saat itu.
"Ya, kalau kek gitu. Ya harusnya kamu ajak aku nikah dong, Yang!" suara Putri terlihat sedikit meninggi.
Memang sih, siapa yang tidak kesal. Jika mulut pasangan kita terlalu frontal seperti bang Lendra ini.
Jika cara bang Lendra seperti itu. Dia tidak beda jauh dengan mas Givan.
"Bolehkah aku milih?" bang Lendra membuka tirai dan jendela bermodel kaca nako.
Angin dari luar, terhembus cukup kencang. Meski hanya masuk melewati celah-celah kaca nako. Pendingin ruangan pun, kalah sejuknya dengan angin alami ini.
"Gak! Aku bukan pilihan! Kalau memang kamu mau nikah, ya kamu harus nikahin aku!"
Aku menangkap kepandaian dari isi kepala perempuan ini.
__ADS_1
"Hubungan kita monoton, Put. Se*s sama kau pun, cuma gitu-gitu aja rasanya!"
Ya Allah, mulut bang Lendra ini sungguh biadab.
"Rasanya gitu-gitu aja, makanya kamu coba buang karet pelindung yang kamu pakai!" luar biasa jawaban wanita ini.
"Bentuklah tubuh kau semenarik pandangan mata aku. Minimal kek Canda lah. Pinggul besar, perut datar, part belakang menonjol, dada pun gak tepos. Temuin aku, kalau memang di tubuh kau udah ada perubahan! Aku bosan tengok hidangan, yang cuman kek gitu-gitu aja bentukannya. Aku gak selera!"
Kenapa laki-laki sepertinya masih hidup sampai sekarang?
Apa tidak ada yang berani menyantetnya saja?
"Aku tau ini cuma alasan kamu aja, Len! Aku tau kamu kek gimana. Ini bukan kamu! Mulut kamu cuma biar aku pergi dari hadapan kamu! Ucapan kasar kamu, buat jadikan alasan aku pergi dari hubungan ini!"
Kenapa aku tidak berpikir sampai sini?
Persis seperti mulut Ghifar. Ghifar berkata kasar padaku, karena ada alasan di baliknya.
"Terserah kau, Put! Pergilah balik ke kampung! Aku pusing!"
Pengusiran yang sungguh luar biasa tajamnya.
Aku ingin menyumbangkan tepuk tangan meriah pada bang Lendra setelah ini.
Karena ia benar-benar hidup sebagai laki-laki yang bermulut lepas. Mas Givan sepertinya kalah jika dibandingkan dengan bang Lendra.
Semoga kelak aku tidak berjodoh, dengan laki-laki sepertinya.
Hah?
Sudah ditolak dengan puluhan kilogram cabai, ia tetap menginginkan laki-laki brengsek ini? Luar biasa ego Putri.
Harusnya aku memiliki strategi sepertinya, saat berambisi mendapatkan Ghifar dulu.
Ya, aku hanya membicarakan hal terdahulu. Karena kenyataannya, sekarang ataupun nanti. Aku sudah tidak pernah bisa bersama Ghifar kembali.
"Aku, Gak. Aku pengen Canda. Kau pergilah, biar aku bisa cepat lakuinnya. Mumpung Raya dan Chandra belum balik."
Aku menelan ludahku kasar. Bagaimana caranya aku berlari?
"Okeh! Silahkan! Tapi liat aja nanti, Yang! Aku pastikan, kamu bakal mohon-mohon ke ambo."
Sebutan untuk siapa ambo ini?
Aku melihat Putri, berlalu pergi dengan ransel travel miliknya. Hanya ransel itu, yang Putri bawa dengan kehadirannya.
"Huh!" bang Lendra terlihat berjalan memasuki ruangan lain.
Harap-harap cemas. Apa lagi keadaan intiku tengah koyak sekarang. Maksudnya, belum layak dipergunakan.
__ADS_1
Bisa-bisa, aku mati kesakitan.
Lama bang Lendra tak muncul. Kak Raya dan Chandra pun, tak kunjung datang.
"Mau gak?"
Aku melongo, melihat bang Lendra muncul dengan semangkuk mie instan.
Apa ia takut tidak kenyang kah, jika berbagi mie instan dengan Putri?
Sampai-sampai, ia mengusir Putri. Sebelum mie instan miliknya siap terhidang.
Aku menggeleng, menolak tawarannya tentang mie instan itu.
Jika Putri saja sampai ia usir, apa lagi aku jika meminta mie instan miliknya?
"Bang... Abang pelitnya na'udzhubilah. Ketimbang mie instan aja, sampai ngusir Putri dulu. Rupanya takut tak kenyang kah? Kalau Putri masih di sini, terus nyicipin mie instan buatan Abang." ucapku dengan memperhatikannya, yang tengah meniup-niup mie di dalam sendok.
Ia berada di sofa yang tadi, persis di depan jendela nako yang terbuka.
Bang Lendra melirikku, garis bibirnya tertarik samar.
"Pengen cepet putus. Udah capek sandiwara terus. Coba nanti tanggapan bapaknya apa lagi. Kalau ngancem buat cari orang baru, untuk bisnisnya. Biar Abang rusak pasarannya, di pasar luar negeri nanti."
Oh, pantas saja Putri merasa tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut bang Lendra. Ternyata, ini hanya strategi bang Lendra untuk meninggalkan Putri.
Sayangnya, malah terbaca oleh Putri.
Jika Putri adalah aku, aku sudah menangis kejar dan memukuli bang Lendra dengan sebuah bantal.
"Tinggal Abang bilang, barang dari pak Hanung udah gak original lagi aja. Udah auto banned dari pasaran luar negeri."
Aku baru tahu, jika sarang walet saja diuji keasliannya.
"Tapi Bang Daeng, keknya Abang keterlaluan deh sama Putri."
"Uhuk, uhuk..." aku khawatir, karena wajah bang Lendra langsung merah padam.
Aku teringat ceritanya, tentang adik bayinya yang meninggal karena permasalahan saluran pernafasan.
"Jangan bang Daeng juga, Bondeng!" makinya dengan melirik sinis padaku.
Aku tertawa lepas, aku baru menyadari kekeliruanku.
"Astaghfirullah memang ciptaan rupa wujud Canda Pagi Dinanti ini." bang Lendra geleng-geleng kepala, dengan fokusnya pada mie instannya.
"Nanti kita punya anak perempuan. Bang Daeng ini bakal kasih nama anak kita... Ceysa Jangan Seperti Ibunya." lanjut bang Lendra, membuatku semakin terlepas dari beban hidup. Saat dirinya mengatakan sebutan dirinya sebagai bang daeng, lalu tambahan nama anak yang di luar nalar itu.
...****************...
__ADS_1
Yee. Gak gantung.