
Mamah Dinda dan ibu terkekeh geli. Aku memelototi laki-laki itu tajam, aku tidak suka bergurau dengan bang Ardi dibawa-bawa. Ditambah lagi, ia seolah tengah mengejekku dan bang Ardi.
Bang Daeng mengedipkan sebelah matanya genit, "Udah ah. Pamit dulu semuanya. Nitip Canda, Ceysa, sama Chandra ya Bu? Mah?" bang Daeng menatap semua orang satu persatu.
"Ya, pasti lah dijagain." sahut mamah Dinda.
"Anak cucu sendiri, pasti dijaga Len." tambah ibu kemudian.
"Maaf nih, aku gak bisa nunduk." bang Daeng mengulurkan tangannya, dengan badan tetap tegap.
"Aduh, aduh! Mamah gaplok juga kau!" mamah Dinda sampai terbawa tegak.
Aku tertawa lepas. Begitu lucu, melihat mamah Dinda dari duduk sampai berdiri karena tangannya dicium oleh bang Daeng.
Mamah Dinda yang tingginya seratus lima puluh lima sentimeter, sepertiku. Pasti begitu kesulitan untuk mengimbangi bang Daeng, yang tingginya seratus tujuh puluh lima sentimeter itu.
Papah Adi, sekitar seratus tujuh puluh sentimeter. Kalah tinggi dengan mas Givan dan bang Daeng.
"Maaf, Mah." bang Daeng masih terkekeh kecil.
"Udah sama Ibu gak usah salim, Len. Takut gak nyampe." ujar ibu membuat kami tertawa rata.
"Pulang dulu, Dek." bang Daeng menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Aku mengikuti hal yang sama, "Ya ati-ati." hanya itu yang aku ucapkan.
"Mari semuanya. Assalamualaikum." bang Daeng menatap kami satu persatu.
"Ya, wa'alaikum salam. Ati-ati, Len." sahut ibu dan mamah Dinda.
__ADS_1
"Nek... Iyo nana ya?" Zio menarik-narik rok mamah Dinda, lalu tangannya terulur menunjuk Ria yang aktif bermain ponsel di tempatnya.
"Sini aja, Iyo. Adek Ceysa tak ada kawannya." mamah Dinda menarik Zio, agar ia mendekati Ceysa yang anteng memberantakan makanan ringan di atas kursi itu.
Ceysa suka makanan yang diacak-acak oleh tangannya sendiri.
"Dek, Bang nta." Zio mendekati Ceysa.
Ceysa malah memberikan makanan ringan yang sudah berantakan itu.
"Yang baru itu loh, Dek." mamah Dinda menunjukkan makanan ringan yang dikalungkan di leher Ceysa.
Ceysa menggeleng, "No, no." ia mendelik tajam pada Zio.
"Lit." Zio mengerucutkan bibirnya.
"Iya ya, Bang? Adek Ceysa pelit." mamah Dinda menyudutkan Ceysa.
"Bang Da." Ceysa malah menarik kursi yang bercecer makanan itu.
"Ya tak apa, Bang Iyo kasih. Buat bang Chandra disimpan." ujar mamah Dinda.
Ceysa menggeleng, ia menarik kursi tersebut semakin menjauh.
Zio langsung menghentakkan kakinya ke lantai, tangisnya langsung pecah dengan berderai-derai.
Ampun, anak-anak. Begitu saja, sampai menangis heboh.
"Ayo, beli sama Nenek." mamah Dinda langsung menggendong Zio.
__ADS_1
Tangis Zio masih lepas.
"Dek, awas Gibran sama Gavin pulang. Tolong, nanti suruh mereka salin terus makan. Jangan boleh mereka main dulu, suruh di rumah. Nanti setengah dua, mereka harus madrasah." mamah Dinda ngeloyor pergi.
"Ya, Mah."
Memang sekarang sudah pukul dua belas siang. Waktunya anak-anak pulang sekolah. Gavin dan Gibran pun, biasanya lewat sini.
Beberapa saat kemudian, aku langsung mengurus kakak beradik yang dikenal nakal itu. Mereka adalah anak-anak yang tebal telinga, jika diberitahu oleh seseorang, mereka tidak mau mengerti. Tapi, jika sudah pada ibunya. Mereka langsung menurut dan melakukan, apa yang ibunya perintahkan.
Aku menemani mereka makan juga. Sampai akhirnya, mamah Dinda sudah kembali dengan Chandra di belakangnya. Ternyata, papah Adi pun, sudah pulang dari ladang.
Aku pulang kembali ke ruko, dengan menggandeng Chandra. Aku akan menyuapi anak-anak dulu, lalu memaksa mereka untuk tidur. Karena seumuran Chandra ini, mereka seolah enggan untuk tidur.
Hingga sore harinya, aku menunggu balasan pesanku dari bang Ardi. Bahkan, beberapa pesan terbaca. Namun, tak kunjung dibalas olehnya.
Bang, sore main dong. Apa abis maghrib.
Aku kembali menuliskan pesan itu.
Sekarang pukul lima sore, sudah satu jam yang lalu ia pulang kerja.
Drttt....
Chat masuk, membuat garis bibirku tertarik.
Abang......
...****************...
__ADS_1
Marahan gak ya 🤔