Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD219. Curahan kekecewaan


__ADS_3

...Semoga gak bosen ya ☺️ naik turun terus ceritanya 😌 percaya deh, ini semakin seru. Yang gak disangka-sangka, malah bikin kalian shock di sini. ...


...**CRAZY UP...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...


"Ihh, Mah. Bang Givan mana?"


Aku menoleh cepat pada wanita yang baru masuk, yang memiliki perut buncit itu.


"Hai... Kakak ipar, turut berdukacita." ia langsung menyambarku, kemudian bercipika-cipiki manja.


"Turut berdukacita?" aku terheran-heran menatapnya.


Icut terkekeh kecil, "Iya, turut berdukacita atas kandasnya rumah tangga kalian. Meme mana tuh? Mee.... Masuk, Nak. Bapak.... Masuk dong." Icut kembali keluar.


Jadi Icut baru berkunjung kembali?


"Mah... Ada Icut." seruku dengan berjalan ke arah belakang.


"Apa tuh?! Suka betul teriak-teriak."


Ternyata ada komplain, dari si manggenya anakku yang berdiri di pintu samping. Dengan menimang Chandra yang rewel.


"Udah biasa di sini ramai orang teriak." timpal mamah Dinda yang baru keluar dari dapur.


Bang Daeng terlihat melongo saja, dengan bola mata yang mengikuti arah mamah Dinda.


"Len... Sini dulu! Ayah Jefri udah datang." teriak papah dari arah depan.


"Yuk, Abang sama Biyung. Mangge mau kerja dulu." aku menghampiri bang Daeng, lalu mengambil alih Chandra.


"Ayah Jefri itu siapa, Dek?" tanya bang Daeng.


"Ayah angkatnya mas Givan, besty-nya mamah Dinda." jawabku dengan mengusap-usap Chandra.


"Tak apa kah gendong Chandra? Perutnya nyaman kah?" bang Daeng menyentuh perutku.


"Aman aja. Udah sana!" aku sudah kesal kembali padanya, aku mendorong tubuhnya.


"Iya! Iya!" bang Daeng berjalan ke depan.


Okeh, sudah selesai menemaninya. Sudah waktunya aku untuk tidur.

__ADS_1


Bang Daeng ala-ala sekali. Turun ke lantai bawah saja minta ditemani.


Baru juga beberapa saat terlelap. Aku sudah terusik dengan sesuatu yang menusuk pipiku.


Plak....


"Ya Allah, Adek! Gaplok-gaplok aja."


Aku langsung menyipitkan mataku, karena mataku begitu berat terbuka.


"Ngapain sih?! Ganggu aja!" ternyata ada bang Daeng di sebelah bantalku.


"Cium Adek." jawabnya kemudian.


Aku menggeser posisiku, lalu memperhatikan dirinya yang masih memperhatikan wajahku itu.


Dasar otak mesum!


"Ngapain itu tangan?! Pengangguran betul!" aku menepis tangannya yang penuh gel tersebut.


Ia tengah mengurut batangnya, dengan tangannya sendiri.


"Butuh pelepasan. Adek udah tidur." ujar bang Daeng, dengan memainkan ponselnya.


"Biasanya juga sama Putri." aku bersuara lirih.


"Sok tau! Putri mana sudi main sama Abang, masa tau ternyata Abang udah beristri. Dia orangnya resik, mana doyan barang milik umum." ungkapnya kemudian.


Dengan ia mengatakan demikian, berarti ia mengaku bahwa batangnya memang bekas umum.


"Ya udah, sana jajan aja! Ngapain sama aku?! Abang kan milik umum!"


"Abang gak ngajakin Adek. Gak doyan ya udah. Tadi pun ibu keceplosan, Adek main sama yang lain. Gak doyan ya udah, kek bersih sendiri aja." ia memunggungiku.


Apa maksudnya?


Aku bangkit, lalu menarik lengannya. Dengan cepat, bang Daeng dalam posisi terlentang kembali.


Dengan segera, aku menutup intinya dengan selimut tidur. Rasanya mataku ternodai, melihat miliknya yang terekspos seperti itu.


"Apa?!" urat wajahnya tak terlihat bersahabat.


"Aku tak begitu!" kesalku padanya.

__ADS_1


"Terus?" bang Daeng menegakkan punggungnya, ia bersandar pada kepala ranjang.


"Abang udah ketemu Ghifar, Kinasya, Ghava, Ghavi, Winda, Tika. Kinasya, Icut, Zuhdi. Minim Giska aja, karena dia di rumahnya sendiri. Kinasya cerita semuanya. Abang pun baru ngerti sekarang, papahnya Chandra ini memang Ghifar. Bukan si mas Givan, yang tengah ada di pulau Kalimantan itu. Abang udah dikenalin sama anak-anak juga." terangnya dengan nada ngegas.


Aku menelan ludahku kasar.


"Sok mau jelasin apa?" pintanya kemudian.


"Entahlah, Bang." aku memilih untuk merebahkan tubuhku kembali.


"Kita udahan aja. Abang pun biar tenang, tak usah diatur ini itu sama mamah Dinda." lanjutku kemudian.


Tiba-tiba, aku semakin hambar padanya. Rasa rindu kemarin, seolah-olah tiada sekarang.


Namun, aku merasakan bahwa aku dipeluk dari belakang. Bang Daeng memelukku yang tengah memunggunginya ini.


"Coba peluk Abang. Kayaknya, Adek udah gak sejalan sama Abang. Kalau memang mood swing, tolong pikirkan juga tentang perasaan Abang. Tolong, jangan keterlaluan. Kalau memang Adek minta cerai, betulkah gak nyesel kalau Abang kabulkan? Mungkin Abang bakal nikah lagi sama Putri setelah cerai itu. Tapi Abang berpegang teguh sama ajaran mangge. Abang gak akan nikah lagi, entah itu cerai mati atau cerai pisah. Bukan berarti Abang nikah lagi sama Putri, karena ingkar sama pendirian Abang sendiri. Tapi biar Abang tenang dari Putri. Setidaknya, hidup Abang bakal tenang, kalau Putri udah dapat apa yang dia tuju. Karena setelah itu pun, Abang bakal jadi dudanya Putri." tangannya mengusap-usap perut cembungku.


"Coba sini peluk Abang dulu."


Entah kenapa, aku malah berbalik badan dan memeluknya. Aku menyelami detak jantungnya, yang terdengar begitu jelas di telingaku.


Aku menghirup oksigen lebih banyak, mengingat aroma tubuh yang tengah aku peluk ini.


"Abang cinta tak sama aku?" suaraku sudah bergetar saja.


Aku mendapat usapan lembut di punggungku, "Cinta, makanya Abang usahain kehidupan Adek dan kenyamanan Adek. Abang sengaja gak pernah ngatur ini itu, gak pernah nuntut Adek harus kerjain tugas rumah tangga. Itu semata-mata biar Adek nyaman hidup sama Abang, biar Adek bahagia pikirannya. Abang ngebebasin Adek mau tidur jam berapa aja, mau bangun jam berapa aja, itu sengaja. Biar Adek itu bersyukur, karena meski udah jadi istri, tapi masih bisa ngerasain hidup sesuai keinginan diri sendiri. Abang paham, hidup dengan ikut aturan orang itu sesak, berat untuk dilakukan, lebih-lebih malah banyak gerutunya."


Aku terisak-isak lirih. Aku memang banyak ngelunjak. Bukannya bersyukur, telah mendapat pasangan hidup sepertinya.


"Jangan nangis, nanti anak Abang sesak di dalam sana." usapan lembut itu masih aku rasakan.


"Sebelumnya, demi Allah Abang gak pernah nyentuh Putri. Abang tau, itu dosa besar karena Abang kini udah beristri. Dosa Abang dilipat gandakan. Saking sibuknya kehidupan sehari-hari Abang, batang ini pun sampai-sampai cuma berguna untuk kencing aja. Abang marah, Abang kesel, Abang kecewa rasanya. Masa denger cerita, aduan seorang istri yang udah ngasih dua keturunan. Ia sampai hampir rela dimadu, karena kesalahan suaminya dan istri orang ini. Cukup, Dek. Jangan nyakitin banyak pihak lagi. Abang ampuni, kalau Adek ngakuin." ia menarik daguku, sehingga pandangan kami bertemu.


Wajahku sudah basah, mungkin sudah bercampur juga dengan cairan dari hidung. Aku sudah payah menangis kali ini.


"Maafin aku, Bang." aku mengeratkan pelukanku kembali, menyembunyikan wajahku di dadanya.


"Cinta pertama itu memang berat, Dek. Seberat itu juga Abang sama Adek. Karena Adek lah cinta pertama Abang." suaranya tidak stabil.


Tarikan air hidungnya terdengar jelas, "Jangan ulangi, Dek. Jangan lagi-lagi, Dek. Abang tau, Abang salah. Tapi Adek pun tak berhak balas kesalahan Abang sedalam ini. Demi Allah, Abang terpaksa tunangan sama Putri. Abang terpaksa nyakitin Adek. Bukan karena uang, bukan juga karena kedudukan. Abang coba raba kesalahan Abang sama Putri, yang nyatanya Abang memang janjikan pernikahan waktu menembus keperawanannya dulu. Abang paham, laki-laki dipercaya dari ucapannya. Mau menghilang pun bagaimana, Abang sekarang cuma bisa minta saran dari mamah Dinda. Karena dulu, Abang memang ngerasa janjikan pernikahan untuk Putri. Abang juga minta maaf, Dek. Tolong, pertahanan rumah tangga kita."


...****************...

__ADS_1


😢😢😢 Author cengeng, baperan 😭


__ADS_2