Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD31. Istirahat


__ADS_3

Aku tertawa geli, melihat Chandra tengah makan dengan tangannya sendiri. Mungkin ia tidak sabar, menunggu ibunya yang tengah melamun ini.


"Lagi makan, Om. Om ini, ngagetin Adek aja." aku berpura-pura menjadi Chandra.


"Ma kau ngelamun aja, Nak. Mungkin takut tak laku dia." ia tertawa renyah.


Oh, jadi?


Ia mengira aku memikirkan nasibku setelah perceraian ini?


Hm, aku malah plong karena ikut bersamanya dan kak Anisa kembali.


Mas Givan harusnya memahami, kenapa aku lebih memilih pergi. Ketimbang bertahan bersamanya.


Aku ingin bercerita pada mamah Dinda, tentang rumah tanggaku yang harus seperti ini. Mamah Dinda sepertinya punya cara unik, untuk memecahkan masalah rumah tangga kami. Hanya saja, aku tidak yakin. Lantaran, mamah Dinda adalah ibu dari mas Givan.


Mamah Dinda tak mungkin membenarkan tindakanku hari ini.


"Kawan kau suruh pada istirahat dulu, Bang! Udah Ma siapkan tempat tidurnya." kami menoleh secara bersamaan, pada sosok ibu di rumah ini.


"Ya, Ma." bang Dendi mengisyaratkan dagunya, agar aku masuk ke dalam rumah.


Chandra pun sepertinya sudah kenyang. Ia hanya mengacak-acak nasinya. Ia pun menggeleng, saat aku hendak menyuapinya lagi.


Setelah mencuci tangan dan membersihkan diri. Aku memilih untuk mengistirahatkan tubuhku, dengan Chandra yang sudah tergeletak pulas di atas tempat tidur.


"Dek... Ada pegangan tak? Beli lah pakaian kau sama Chandra." bang Dendi masuk dengan menghantarkan tas milikku.


"Aku bawa baju kok, Bang. Canda memang cuci, kering, pakai." kak Anisa yang menjawabnya.


Terdengar suara helaan nafas bang Dendi, "Yang namanya baju, usahakan milik pribadi. Nanti deh, kalau ada rejeki kita pasar maleman. Cari baju kau sama Chandra, Dek." bang Dendi berkata dengan menoleh padaku, kalimat itu berarti ditujukan untukku.


"Aku juga, Bang. Daster aja deh, sama jajanan." wajah bang Dendi langsung masam, ketika melirik kak Anisa yang tengah merengek tersebut.


"Iya!" ketusnya suara laki-laki itu.


Aku dan kak Anisa saling memandang, kemudian mentertawakan wajah kesal bang Dendi.


Bang Dendi berbalik badan, lalu ia pergi dari kamar ini.


"Ashar bangun, terus kita siap-siap berangkat." kak Anisa berucap, dengan merebahkan tubuhnya di sisi lain tubuh Chandra.


"Kata bang Dendi istirahat dulu, Kak." aku sempat mendengar, bang Dendi yang mengatakan sakit pinggang dalam panggilan teleponnya bersama bang Lendra.


"Iya, kata bang Lendra balik aja lepas ashar. Biar sampai kos-kosan kan enak tidurnya puas. Kalau di sini kan, kita gak enak sama ma Amah."


Oh, jadi nama ibu bang Dendi adalah Amah.

__ADS_1


"Ya udah, Kak." aku pun merebahkan diri, mencoba menenangkan pikiranku dengan cara tidur.


~


Alhamdulillah, kami sampai di Padang dengan selamat.


Bang Dendi sudah kembali mengantarkan mobil sewaan. Kami semua, tengah berisitirahat di kos milik kak Anisa.


Aku membiarkan Chandra merangkak ke sana ke mari, tapi pandangan mataku tak lepas dari aktivitas Chandra.


Chandra sepertinya bosan duduk selama di perjalanan. Ia begitu aktifnya mengitari ruangan satu petak ini.


"G*food enak kali, Nis." ucap bang Dendi yang merebahkan tubuhnya dekat dengan pintu.


"Aku pengen bang Lendra, aku kangen." kak Anisa sepertinya tengah ngawur.


"Besar kah punya bang Lendra?"


Pembahasan apa ini?


Kak Anisa tertawa sumbang, lalu ia meladeni Chandra yang berada dekat dengan posisinya.


"Besar, panjang umumnya orang Indonesia punya. Kepalanya tuh kek lebar gitu, tak pipih, tebal, tapi kek lebar." bodohnya aku malah membayangkan.


"Aduh, Abang menang panjang aja." nada suara bang Dendi begitu lemas.


"Gumush. Kamu mirip ayah coba, Nak. Biar ganteng gitu. Ini sih, kek arab nanggung." lalu kak Anisa menoleh padaku.


"Kamu ada turunan arab, Dek?" tanya kak Anisa padaku.


"Hmmm... Ada, tapi jauh. Kakek buyut aku, dia punya orkes gambus. Kebetulan, dia keturunan arab langsung. Ya memang sih arab perantauan. Tapi, malah ibu aku yang sampai sekarang jadi ART di Arab." kak Anisa terkekeh kecil di akhir kalimatku.


"Tapi kok kamu pendek sih, Dek?"


Uhh, sepertinya ejekan ini akan merambat padaku.


"Kalau Canda laki, besar panjang itu Nis." tambah bang Dendi dengan tawa samarnya.


"Bapak aku pendek katanya sih." aku belum pernah bertemu, dengan sosok pak Mansyur yang diklaim sebagai ayahku itu.


Pernah aku berpikir. Apa ibuku hamil dengan orang Arab, sampai wajahku terlihat mirip dengan keturunan dari negeri itu. Hingga ayahku pun meninggalkan kami, apa karena masalah itu?


Namun, penjelasan dari bibi Hana mengungkapkan segalanya. Nyatanya pun, wajah bibi Hana kearab-araban juga. Bibi Hana menjelaskan dengan detail, perihal kakek buyut aku yang merupakan keturunan arab asli. Tetapi ia menikah dengan pribumi asli Solo.


"Katanya lagi! Memang kau tak tau rupa bapak kau, Dek?" bang Dendi menanyakan perihal itu padaku.


Masalah ini, menurutku cukup sensitif. Aku tidak suka, dengan pembahasan ini.

__ADS_1


Aku hanya menggelengkan kepala samar, aku menyamarkan rasa miris ini dengan senyum palsuku.


Aku tak suka membahas hal ini.


Aku sudah merasa plong dan cukup lega, karena memiliki teman seperti mereka.


"Dek... Bang Lendra minta kamu beresin kosannya. Ada tumpukan baju kotor juga katanya, mungkin setengah bulan lebih belum dicuci." kak Anisa menghadap padaku.


"Nanti dikasih jajan, tenang aja. Gak sekarang juga gak apa, yang penting udah ada bilang. Kalau bang Lendra sih, pulangnya masih lama. Cuma katanya, biar pas pulang gak usah beres-beres kosan lagi." lanjut kak Anisa.


Aku mengangguk, aku merasa tidak enak jika menjadi benalu untuk kak Anisa.


"Ya, Kak. Tapi ngomong-ngomong, kalau lulusan MA bisa kerja apa ya?" setidaknya, aku harus ada perubahan. Aku tidak mungkin selamanya menjadi seseorang yang diberi uang jajan.


Terdengar bang Dendi tertawa geli. Aku menoleh memperhatikan dua orang dewasa ini.


"Aku S1, jadi tukang foto. Dia D3, jadi penyanyi. Bukannya merendahkan, tapi SMA atau MA itu harusnya lanjut kuliah. SMK lah lumayan gampang masuk pabrik, nanti jadi operator produksi." jelas bang Dendi kemudian.


"Aku udah semester dua, tapi milih berhenti." aku bisa melihat reaksi kaget dari wajah mereka.


"Ohh, paham-paham. Milih kawin sih ya?" aku memahami, bahwa bang Dendi cukup ceplas-ceplos dalam berbicara.


Aku mengangguk, "Sebenarnya, bukan pilihan yang pas juga. Tapi kalau udah kek gini, nyesel pun udah tak ada gunanya."


Chandra sudah berada di dekatku.


"Betul. Cepat selesaikan, urus surat cerainya, idda, janda, terus kita nikah."


Aku melihat, aku dan kak Anisa menoleh serentak ke arah bang Dendi.


Sedangkan bang Dendi, ia malah tertawa tanpa dosa.


"Bisa-bisa Jeni hitung semua uang-uang yang udah Abang minta." celetuk kak Anisa kemudian.


"Ya, kan? Setidaknya, dia belum bekas bang Lendra." aku tahu, itu sindiran tajam untuk kak Anisa.


"Ehh, tapi Dek. Kamu kenapa sih kok bisa lepas dari Ghifar? Apa selera Ghifar begitu tinggi kah? Tapi, kalau kamu dirawat bener-bener. Rasanya, fisik kamu tuh gak bakal kalah dari istrinya Ghifar sekarang. Cuma memang, kau kalah tinggi badan aja."


"Aku yang lepasin Ghifar. Sungguh, Kak. Aku nyesel kali sampai hari ini. Lepas aku pergi dari rumah, dia peduli betul sama aku." aku teringat saat berada di rumah makan nasi liwet itu.


"Awas, jangan-jangan nanti malah kek Kakak kau itu sama si Bobby. Istrinya sampai.......


...****************...


Sampai apa?


Kasian ya Anisa, lepas dari Bobby malah jadi tempat pembuangan airnya bang Lendra. Ya meski, tertampung dalam karet rasa durian.

__ADS_1


Nasib tuh kadang mempermainkan takdir ya? Takdir menggariskan dia hilang perawan, tapi tidak untuk menikah. Nasib, nasib 😢


__ADS_2