Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD136. Aktivitas di atas kloset


__ADS_3

Style baru harus aku coba. Kini, aku tengah berusaha menyeimbangkan kakiku di bawah guyuran shower. Gila memang, tapi tetap kami lakukan.


Stand d*ggy, kini tengah aku nikmati.


Yang menjadi masalah adalah, karena kakiku pendek. Otomatis aku harus berjinjit, ditambah lagi bang Daeng pun sedikit menekuk lututnya agar tinggi kami seimbang.


Sulit memang.


Namanya juga Nalendra Daeng, ia selalu mempersulit yang mudah.


"Jangan kuat-kuat suaranya. Nanti Raya iri, Gue gak kuat gilirnya."


Aku sampai terbahak karena gurauannya.


Bang Daeng melepaskan penyatuan kami. Lalu ia memutar tubuhku agar menghadap dirinya. Ia memelukku, dengan dirinya yang ikut meramaikan tawaku.


"Lama sih gak keluar-keluar, Abang udah encok padahal." tambahnya yang membuatku semakin terbahak.


Ia bisa saja membuat moodku tetap bagus.


"Keringin badan. Satu lutut Adek nahan ke tutup kloset, satu kakinya biarkan buat berdiri." ia menarikku untuk keluar dari shower box.


Aku hanya bisa menurut sekarang. Karena aku sudah terlanjur dibuat ingin olehnya. Aku bisa meledak, jika tidak mendapatkan pelepasanku.


Aku diarahkannya, sesuai posisi yang ia inginkan. Lalu, ia memulainya kembali di kamar mandi hotel.

__ADS_1


Kegilaan Nalendra memang tiada duanya.


Aku dulu selalu melakukan kegiatan ini di ranjang. Aku tidak pernah melakukannya di tempat manapun, meski di dalam kamar mandi pribadi.


"Adek...." ia begitu aktif menampar part belakangku.


Mulutnya sudah meracau saja, bang Daeng tengah kelabakan sendiri.


"Ughhhh..." ia mencabut miliknya, "Adek di atas." ia langsung menggeser posisiku, lalu ia duduk di atas kloset yang tertutup.


Hah?


Aku harus bagaimana?


Aku menatapnya bingung, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Bang Daeng tersenyum manis padaku, lalu ia menegakkan miliknya dengan jarinya.


Aku mencoba hal baru lagi. Namun, yang masalahku sekarang adalah telapak kakiku tak menyentuh lantai. Aku menjadi bertambah bingung di sini.


"Bang..." aku menunjuk kakiku yang menggantung.


Bang Daeng mengikuti arah pandangku, sesaat kemudian ia tertawa renyah.


"Ya udah, Abang bantuin. Adek dominan kanan aja, jinjit, biar Abang bantu goyang."


Sudah kubilang, Nalendra adalah orang yang suka membuat hal mudah menjadi sulit. Aku mencoba bergerak di dalam kesulitan ini. Agar bang Daeng bisa menuntaskan fantasi dan kegilaannya, agar ia selalu semangat untuk memberiku nafkah lahir dan batin.

__ADS_1


Hingga akhirnya, kesulitan ini berakhir sudah. Aku meledak berbarengan dengannya, paha kami belepotan dengan cairan putih miliknya.


"Cepet tinggi, biar gak gantung lagi kakinya." ujar bang Daeng dengan mengusap pahaku.


Aku tertawa dengan memukul dadanya, ia iseng sekali, segala meledekku.


"Junub yuk."


Aku paham, aku harus bangkit dari atas pahanya. Namun, aku langsung terduduk di lantai. Lututku begitu lemas, aku tidak kuat untuk berdiri.


"Ya ampun." bang Daeng langsung mengangkat tubuhku, lalu mendudukkanku di atas kloset yang tertutup.


"Gak apa kan?" tanyanya kemudian.


Aku menggeleng, "Aku butuh istirahat sebentar aja. Abang mandi aja dulu." jawabku dengan mendongak menatapnya.


"Ya udah, bentar ya?"


Aku langsung mengangguk, bang Daeng pun langsung melangkah masuk ke dalam shower box. Aku memperhatikannya di dalam kaca transparan itu. Ia begitu gagah dan terawat sekarang.


Namun, kapan aku bisa memberikannya keturunan?


Sudah dua bulan kami berumah tangga, tetapi aku masih rutin haid saja. Aku ingin segera mendapat garis dua, agar ia tidak merasa kehilangan Alambara Ahmadinejad lagi.


...****************...

__ADS_1


Kalau ingat namanya Nalendra gitu tuh, udah kek jaman kerajaan. Alambara Ahmadinejad, Nalendra, bentar lagi juga, Nakula, Sadewa, Abimanyu, Hadiyata, Adhinata, Bhadrika 🤭


__ADS_2