
Misinya mengolah dan memasakku sudah berhasil. Kini, kita tengah mengobrol bersama mencangkup hal yang banyak. Kita bersenda gurau di dalam selimut, dengan suara yang pelan. Apalagi, kalau bukan karena khawatir Ceysa terbangun.
"Canda.... Jangan tersinggung ya? Aku bukan tak mau punya anak sama kau, tapi ditunda dulu gitu. Anak-anak kita rata, masih pada kecil-kecil. Kau keteteran jadi ibu, aku keteteran menuhin kebutuhan dan perhatian untuk mereka. Apalagi sama Zio, yang malah kek kurang perhatian dari aku." ujarnya dengan suara lirih.
Ya, benar. Zio benar-benar kekurangan kasih sayang. Ditambah lagi, anak itu yang hanya mau dengan ibu. Zio tidak dekat dengan anggota keluarga yang lain, ia pun tidak mau berbaur dengan keluarga yang lain.
"Nadya gimana kabarnya?" tanyaku tiba-tiba.
Karena, aku teringat dengan ibu jarinya Zio itu. Yang tak pernah sekalipun menanyakan tentang Zio, atau datang untuk menengok Zio. Ia lebih parah dari Fira. Fira aja, masih datang meski tidak lama. Fira pun, kadang sampai mengajak anaknya jalan-jalan.
Padahal ia tidak seberuntung Nadya. Fira tidak dinikahi oleh mas Givan, tidak seperti Nadya. Anak-anaknya pun, sama-sama tidak beruntung. Untungnya, ada aku yang menjadi ibu sambungnya dan ibu di akte kelahirannya.
Bolehkah aku berpikir, bahwa aku seperti dimanfaatkan oleh mas Givan?
Ya karena menurutku, meski mas Givan tak meminta. Ia langsung membuatkan akte kelahiran, dengan aku sebagai ibu untuk anak-anaknya.
Namun, jika aku menegaskan tentang hal ini. Mas Givan pun akan mengamuk dan menarik tentang segalanya. Ia tukang debat yang tidak mau kalah.
"Nadya balik sama suaminya katanya sih. Itu pun, aku tau dari sosial medianya. Bukan tau langsung, atau dia ngabarin sendiri. Bener-bener lost kontak sama dia."
Oh, jadi seperti itu kabar tentang Nadya?
Ia kembali dengan suaminya?
Tanpa teringat sedikit pun, dengan anak yang pernah ia lahirkan itu?
"Mas.... Berapa kali sih bikin Zio sama Nadya?" tanyaku kembali.
__ADS_1
Aku memperhatikan wajahnya, karena ia tidak kunjung menjawab.
"Nanti nangis lah. Jangan bahas tentang itu lah, Canda. Nanti kau cemburu." jawabnya dengan mengusap wajahnya sendiri.
"Tak, Mas. Aku penasaran tentang Mas sama Nadya." terangku jujur.
Mas Givan mengangguk samar, "Bikin Zio sekali, malam reuni itu aja. Itu pun kan, aku tak mau tanggung jawab. Ada perjanjian di dalamnya, ada perjanjian di mana aku lepas tangan nanti."
Bolehkah aku menyebutnya sebagai pecundang dan bajingan?
Tapi masa itu, ia suamiku sendiri. Yang artinya, mas Givan memilih hal itu. Karena ia ingin hubungannya denganku baik-baik saja, karena ia ingin rumah tangga kami tetap utuh.
"Terus, setelah rumah tangga?"
Aku menanyakan hal ini, karena hubungan mereka saat aku tinggal di sini, jelas tidak baik-baik saja. Mas Givan pun, selalu menciptakan keributan, ketika berada di rumah.
"Apanya?" mas Givan mengusap pelipisku.
"Awal aja, itu pun jarang. Malas tuh rasanya, tak betah di rumah, di kamar apalagi. Ditambah, sampai rumah mulutnya ribut uang aja. Dia kira, uangnya cuma buat perut dia. Aku kasih uang segitu tuh, ya buat perut kita. Maksudnya kita tuh, dia, aku, anak-anak. Aku kan mampunya segitu, tapi dia banyak betul ngata-ngatain. Aku kan jadi sakit hati sendiri, Canda."
Benarkah?
"Memang mas kasih berapa sih, Mas? Lagian kan, Chandra juga ikut Ghifar. Bukan ikut sama Mas kan?"
Ternyata, aku cukup beruntung berumah tangga dengan bang Daeng. Aku bisa merasa menjadi ratu, meski tidak seperti di negeri dongeng. Ia mampu meratukanku, meski aku tidak mendapat kesempatan yang lama.
"Satu setengah juta, sama kek kau. Kau kan perhari mintanya, jadi kau stabil di akhir bulan. Kalau Nadya, mintanya kek gajian gitu. Bruk satu setengah juta, dikasih ke dia semua. Kan jadinya, pas di pertengahan bulan dia kolaps. Dia tak bisa atur keuangannya. Bukannya aku pelit, toh aku masih kasih dia jatah juta. Aku kan ikhlasnya segitu buat dia, aku ikhlasnya segitu buat jatah istri. Karena aku punya planning nih, aku mau punya rumah, aku mesti bayar cicilan. Meski pendapatan toko lebih besar dari jatah yang aku kasih ke istri juga, bukan berarti aku dzolim, karena aku tetap jatah istri aku. Tapi halnya, aku yang ngatur uang, untuk bayar ini itu, untuk nabung ini itu."
__ADS_1
Benar juga sih. Aku sedikit memahami, tentang suami yang boleh menyimpan uang dengan tujuan baik. Namun, tidak boleh dzolim juga ke istrinya.
Mas Givan pun demikian. Ia benar, hanya komunikasinya saja yang kurang.
"Dia sampai jual mobilnya sendiri. Emas-emas punyanya pun dijual semua. Soalnya orangnya suka foya-foya. Aku sampai sekarang ada uang juga tuh ya, entah kenapa males gitu foya-foya." lanjutnya kembali.
"Kenapa Mas tak suka foya-foya? Waktu itu kita belanja banyak juga loh." aku teringat, ketika aku baru pulang dari rumah sakit.
"Soalnya udah pernah. Dari kecil aku tak kekurangan apa-apa. Kemarin pun, aku beli yang aku butuh aja. Sama beliin kau skincare itu kan? Menurut aku, begitu bukan foya-foya. Itu beli, sesuai yang kita butuhkan. Kalau foya-foya, kita beli yang tak kita butuh. Kita beli, yang tak kita tau kegunaannya untuk kita. Kek laper mata aja gitu tuh, itu namanya foya-foya."
Beginilah the real anak orang kaya? Buka orang kaya baru sepertiku? Sampai saat ini, aku kecanduan belanja online jika melihat-lihat Shopee atau semacamnya. Pasti saja, aku membeli perintilan yang kurang bermanfaat. Ujung-ujungnya, hanya memenuhi pojok kamar.
"Nah, si Nadya suka tuh jalan-jalan ngemall. Nonton, kumpul bareng teman, foto-foto gitu. Dia suka tuh, kegiatan yang nguras dompet begitu." tambah mas Givan kembali.
Ia mengusap lenganku, "Makanya kenapa aku pilih kau. Selain kau nurut, kau anteng di rumah. Kau tak punya teman, kau tak suka nonton." ia berkata dengan cekikikan.
Bibirku mengerucut, "Aku perempuan kuno dong?"
Mas Givan menggeleng, "Perempuan anteng. Coba kalau bisa jadikan suaminya sendiri teman, mungkin kita minim bertengkar. Tapi menurut aku sih benar kan? Kau ini bukan perempuan yang kek Nadya."
Lah, memang bagaimana pendapatnya tentang aku? Masa iya aku diminta untuk menilai diriku sendiri.
"Aku belanja online, Mas. Tapi sebenarnya sih, lebih suka belanja langsung. Tapi tuh, males gitu keluar. Nanti capek tuh, Mas. Jadi tuh, capeknya kek dua kali lipat. Udah di rumah repot urus anak yang dibawa keluar, aku mesti dandan. Terus pulang jalan-jalan, aku dihadiahkan kerjaan yang numpuk, belum lagi meski cuci bersih dan nyetrika baju yang bekas dipakai pergi ini."
Mas Givan menghela nafasnya, "Ya itu namanya kaum rebahan. Pantesan sakit kalau ada kegiatan. Jualan sakit, kecapean sakit. Usia muda, kek nenek-nenek jompo. Tak bisa bayangin, kek mau kau kemarin pas kerja. Pantas aja, Lendra lebih sudi ninggalin kau di kos-kosan, ketimbang dibawa kerja. Keknya, kau malah repotin bos kau ya?"
Mas Givan memang menyebalkan.
__ADS_1
...****************...
Mohon maaf kakak-kakak semua. Episodenya direvisi full. Mohon maaf, karena alurnya tidak sinkron dengan alur selanjutnya. Semoga memahami dan menikmati bacaannya 😢