
"Tak mungkin rasanya, kalau aku hamil anak suami kau." aku berkata dengan berhati-hati.
"Kenapa kau ngomong kek gitu? Mamah ingat tanda merah itu, Canda. Ghifar ngakuin, dia tahan kau beberapa hari di kamar hotel." tanya mamah Dinda dengan mengambil alih Kaf dari Kinasya.
Tangis Kaf semakin menjadi. Bahkan, bayi itu sampai terbatuk-batuk saking kuatnya menangis.
"Iya, memang." aku melirik ke arah Kinasya dan Ghifar.
Sungguh aku tidak enak hati padanya.
"Maaf, Kin. Tolong jangan marah sama aku." pandanganku fokus pada Kinasya.
Kinasya memberiku anggukan.
"Memang begitu, Mah. Tapi tak lebih jauh, apa lagi sampai hamilin aku. Maaf-maaf, memang aku dan Ghifar keterlaluan. Tapi, masa itu Ghifar tak masukin aku dengan miliknya. Ghifar..." aku melirik pada Ghifar, lalu aku menunduk kembali.
Aku tidak tega mengatakannya.
"Suami aku kenapa, Canda?" Kinasya rupanya menantikan penjelasanku.
"Batang Ghifar tak bisa berdiri." ucapku lirih. Tapi aku yakin, suaraku mampu ditangkap telinganya.
Diam, tidak ada suara. Kaf pun mulai tenang, karena mamah Dinda kini tengah mengayunkan tubuh Kaf.
Helaan nafas dari papah Adi, menjadi pusat perhatian kami sekarang.
__ADS_1
"Jadi?" tanya papah Adi dengan menggulirkan pandangannya padaku.
"Aku punya suami, Pah."
Senyap.
Suasana semakin menjadi sepi. Kaf pun bisa dikendalikan oleh neneknya. Cucu rewel, selalu takluk dengan neneknya.
"Mana suami kau? Suruh datang dia ke sini!" mamah Dinda berjalan ke arahku.
"Jangan asal ngomong. Jangan bilang ini cuma akal-akalan kau, biar Ghifar aman dari tanggung jawab." mamah Dinda kini duduk di sebelahku.
"Demi Allah, Mah. Aku punya suami. Kalau masa itu, batang Ghifar mampu berdiri. Mungkin aku ragu, dengan pernyataan ini. Tapi, masa itu aku terselamatkan dengan keadaan Ghifar yang tak bereaksi ke perempuan lain. Memang, aku udah lama tak jumpa suami Mah. Aku pergi dari dia, karena sekarang dia udah bertunangan sama perempuan lain." aku terisak, aku tak kuat menceritakan kepedihan yang mulai aku lupakan ini.
"Siapa suami kau? Orang mana dia?" tanya papah Adi kemudian.
"Nikah siri?" mamah Dinda menggenggam jemariku yang membeku.
"Resmi, di Banda Aceh. Tapi KTP, KK baru, buku nikah, ada sama bapaknya."
"Sulit, Dek." tukas papah Adi.
"Setelah ini kau mau cari suami kau, atau gimana?" mamah Dinda lebih banyak memberiku pertanyaan.
"Mah... Aku mau obatin Ghifar dulu." terlihat Kinasya membantu suaminya untuk bangun.
__ADS_1
"Ya, Kaf biar sama Mamah. Belum pulas keknya dia." mamah Dinda mengayunkan tubuhnya kembali, dalam posisi duduk.
Ghifar pergi dengan dirangkul istrinya.
Sebesar itu cinta Kinasya pada Ghifar. Ia bahkan rela diduakan, jika memang suaminya salah langkah. Semoga, setelah ini Ghifar tidak ceroboh lagi. Tidak mengurung wanita lain di dalam kamar hotel.
"Gimana, Canda?" mamah Dinda menepuk pundakku.
"Biarin aja, Mah. Aku tak mau apa-apakan dia. Biar aja, aku pengen hidup masing-masing." aku sedikit plong, setelah mengatakan kebenarannya.
"Kau tak bisa pergi dari masalah kau, Dek." tutur papah Adi.
Aku segera menoleh ke arah beliau.
Memang aku harus bagaimana?
Bang Daeng sudah bahagia bersama Putri di sana. Aku tak mungkin datang ke sana, lalu mengemis diakui olehnya di hadapan Putri.
"Dia udah pulang ke daerah asalnya, Pah. Dia udah tunangan sama mantan pacarnya kemarin. Tak lama lagi, pasti mereka bakal nikah."
"Kau harus ngasih tau suami kau, Canda. Seharusnya kek gitu. Karena ada anak, yang bila mana anaknya perempuan kelak pasti minta untuk mewalikan pernikahannya." terang mamah Dinda.
"Kenapa harus kek gini? Kau pergi, dengan status kau sebagai istri Givan. Terus, sekarang kau ulangi lagi. Kau pergi, dengan status kau masih sebagai istri orang." aku tengah mencerna kata-kata papah Adi ini.
"Jalan keluarnya gimana ini, Bang?"
__ADS_1
...****************...
Up satu lagi sore nanti 😉