
"Mas kenapa tak bisa ngomong baik-baik? Kan aku tak ngerti." aku baru membuka suaraku.
"Capek, Canda. Aku males jelasin, kalau orangnya memang tak pernah mau sadar. Cuma pahamnya membatin, merasa paling tersakiti. Tapi tak pernah mau introspeksi diri, cuma bisa ngelimpahin kesalahan."
Begitu kah aku?
"Kau itu orang pandai loh, Bang. Kau orang baik, orang pengertian, sayang orang tua." aku melongo mendengar penuturan Ghifar.
"Iyalah, S1. Memang kau? Tamatan SMA!"
Aku malah cekikikan mendengar jawaban mas Givan.
Bukannya memuji Ghifar balik, tetapi ia malah menyombongkan dirinya.
Ghifar memukul kipas tangan ke paha kakaknya. Tawa mas Givan begitu renyah, ia terlihat senang melihat adiknya kesal.
"Kau punya apa coba? Pabrik kopi satu, bos travel. Abang dong." mas Givan menepuk dadanya bangga, "Bos tambang, dua perusahaan batu bara. Yang punya toko material ujung jalan, makelar mebel jati dan ulin. Plus, yang punya tiga anak beda ibu. Kau apa coba?! Istri baru satu, tak pernah ganti. Anak baru dua, satu ibu lagi. Tak ramai cerita!"
Sungguh, aku tidak sanggup menahan tawa. Semoga, Chandra yang tengah mencari posisi nyaman ini tidak terganggu dengan tawaku.
"Balik aja sana kau, Bang!!!" Ghifar ngambek.
Ia berjalan ke spring bed single, kemudian menjatuhkan tubuhnya di sana.
Dulu mas Givan adalah anak yang tidak beruntung masalah usaha. Tetapi apa sekarang? Ia lebih unggul dari saudara-saudaranya yang lain.
Aku tidak menyangka nasib begitu mudah berubah di dalam novel.
Eh, real life dong.
Yang Kuasa, yang maha membolak-balikkan hati dan roda kehidupan.
Mas Givan menghampiri adiknya.
Aku memutar kepalaku, karena rasa penasaranku pada dua saudara beda ayah itu. Pasti mereka akan bergulat kembali, karena memang mereka sulit untuk akur.
Cup...
Aku cukup shock melihat mas Givan mencium pipi Ghifar.
Ghifar langsung sigap, ia menutupi pipinya yang tadi dicium kakaknya. Ia langsung beringsut ke kepala ranjang spring bed single itu.
"Najis kau, Bang! Serius kau mau jadi m*ho?"
Aku bisa merekam jelas kilat panik dari Ghifar.
Mas Givan tersenyum amat manis. Aku jadi curiga melihat senyumannya.
"Oh, iya dong. Sini makanya, Abang mau jajal p*n*at kau dulu." mas Givan menepuk kasur tersebut.
"Najis kau, Bang!" Ghifar sampai memeluk bantal.
Ia seperti diriku, yang dulu akan diperkosa oleh mas Givan. Namun, melihat keadaan seperti ini. Aku malah ingin tertawa, bukannya teringat trauma masa laluku.
Tiba-tiba mas Givan manarik pergelangan kaki adiknya.
__ADS_1
Sejurus kemudian, Ghifar heboh karena ia berada dalam pelukan kakaknya.
Aku lelah terbahak-bahak.
"Abang! Abang! Nyebut, Bang."
"Astaghfirullah."
"Ingat Tuhan kau, Bang!"
Aku sampai lupa bahwa Chandra tengah mencari posisi nyamannya, karena asik menonton tingkah kakak beradik itu.
Aku melihat senyum geli dari mas Givan.
Entah Ghifar yang polos, atau bagaimana. Aku bisa melihat dari awal, bahwa mas Givan hanya bergurau.
"Ayah, Papa." Chandra terduduk dari posisinya, ia memperhatikan dua panutannya itu.
Cup, cup, cup....
Mas Givan terus menerus memberi suara, saat ia mencium pipi adiknya. Ghifar langsung meronta tiada henti.
Hingga akhirnya ia bisa terlepas dari kakaknya. Dengan mas Givan tertawa puas di atas spring bed single tersebut.
Dasar!
Ada saja lawakan jam satu kurang lima belas malam ini.
~
Namun, aku harus ikhtiar lebih lama lagi. Karena, tiga hari di sini. Keadaanku masih sama saja.
Sampai-sampai, dokter pun tidak menyarankan agar aku dirawat di rumah. Karena, keadaan kaliumku yang selalu terbawa air seni. Tentu, akan membuat keadaanku tidak stabil atau malah semakin memburuk.
Meskipun booster asupan dari masakan yang Kinasya berikan, tetap tidak mampu mencukupi kebutuhan kalium yang aku butuhkan. Tetapi cukup untuk memberiku tenaga dan perubahan baik untuk tubuhku, karena terus-terusan diberikan asupan sehat.
Lagi dan lagi. Perawat menyuntikan sesuatu ke selang infusku, berharap agar kaliumku mampu diserap tubuh. Bukannya malah terbawa air seni, atau kotoranku kembali.
Ada yang aneh di hari ketiga ini. Karena, aku hanya di rumah sakit seorang diri.
Ke mana perginya mas Givan dan Ghifar hari itu?
Tentu paginya mereka sibuk bekerja, lalu kembali setelah malam tiba. Siang harinya, digantikan dengan mamah Dinda atau saudara ipar yang lain.
Satu pertanyaanku.
Ke mana perginya bang Daeng? Ia sampai tak mengabariku apapun.
Apa kesehatannya memburuk kah?
Atau, lebih buruk dari yang aku bayangkan?
Keluarga pun, seolah bungkam saat aku menanyakan keadaan bang Daeng.
Sepertinya, memang terjadi sesuatu.
__ADS_1
Persis saat kejadian, aku masuk rumah sakit. Keluarga besar bungkam, akan kabar Chandra yang masuk UGD puskesmas Simpang Tiga. Mereka berpikir, aku pasti stress jika mendengar kabar buruk itu. Maka dari itu, mereka lebih memilih merahasiakannya sampai aku mendengar kabar itu sendiri.
"Sus... Apa tak ada keluarga Saya yang datang?" tanyaku, saat ada perawat yang menggantikan kantong infusku.
"Belum ada ya, Bu."
Aku sempat berpikir, ada salah satu keluargaku yang datang. Namun, diminta untuk ke ruangan dokter lebih dulu. Untuk membahas keadaanku.
Tapi, ternyata tidak demikian.
"Ibu butuh apa? Apa mau ke kamar mandi?" tanya perawat tersebut kemudian.
Untuk aktivitas kamar mandi, aku dibiasakan untuk mandiri. Semata-mata, untuk melatih otot dan tulangku agar tidak kaku. Tetapi tetap, aku tidak boleh ke kamar mandi sendiri. Harus ada keluarga, atau perawat yang membantuku.
"Tak, Sus. Cuma butuh teman ngobrol aja."
Perawat tersebut tertawa samar, "Telepon aja, Bu. Video call, atau bisa main HP juga. WiFi tersambung kok di kamar inap ibu. Biar tak merasa kesepian. Mohon maaf ya, Bu. Karena Saya bertugas dan memiliki tanggung jawab di sini, jadi Saya tidak bisa menemani ibu mengobrol." jelasnya ramah.
"Ya, Sus. Tak apa." aku cukup mengerti tanggung jawab perawat di rumah sakit ini.
Karena, ia bukan cuma merawatku. Ia memiliki tanggung jawab, untuk merawat dan mengecek keadaan pasien lainnya.
"Mari, Bu. Permisi."
Aku hanya mengangguk halus, saat perawat tersebut berlalu pergi.
Yah, sendirian lagi aku di kamar inap ini.
Sakit, di rumah sakit, sendirian, tanpa kerabat dan keluarga. Bukannya bertambah sehat, tapi bertambah sakit karena stress kesepian.
Aku mengetikan sesuatu pada Ria.
Dek, bang Lendra ke mana?
Ria adalah manusia yang susah untuk kompak. Terkadang, ia pun keceplosan atau lupa dengan kesepakatan.
Apa Giska melahirkan kah?
Tapi, Giska baru menginjak trimester kedua.
Apa terjadi sesuatu di rumah megah itu?
Aku rumit menerka-nerkanya sendiri. Rasanya aku ingin pulang saja, untuk memastikan keadaan di rumah.
Ria menelepon.
Aku segera menerima panggilan telepon tersebut.
"Ya, Dek." dengan cepat aku menyahuti, kala Ria menyebut namaku.
"Aku lagi ada di.......
...****************...
Di mana? Jangan-jangan di rumah sakit lain jenguk bang Daeng 😱 tolong dong Ria, jangan sepotong-sepotong kalau ngomong. 😩
__ADS_1