
"Jangan buru-buru, dari pada nanti jadi janda pada akhirnya." bang Dendi ternyata ada bijaknya juga.
"Tuh, dengerin!" bang Lendra berbicara ngotot pada kak Anisa.
"Ya makanya, jangan ngasih harapan terus kalau gak mau nikahin!" ketus kak Anisa begitu tajam.
"Heh, bukan ngasih harapan. Tapi coba pahami keadaan. Mau suaminya belum mapan? Mau ikutan kerja, karena suaminya gak mampu nyukupin? Mau nangis-nangis mohon pengertiannya, pas PLN datang buat cabut listrik di rumah kau nanti, karena suami kau belum ada uang buat bayar listrik?" mereka berdebat dengan penuh semangat.
"Tau, ah. Memang dasarnya gak ada niat buat serius." kak Anisa mengerucutkan bibirnya, lalu ia langsung pergi dari kamar ini.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara bantingan pintu kamar. Pasti itu kak Anisa, yang sengaja membanting pintu kamarnya agar bang Lendra memahami bahwa ia tengah marah.
"Pernah denger, katanya gajinya sepuluh jutaan. Masa tak bisa buat nyimpen buat bekal nikahan kelak?" ucapku dengan mengipasi wajah Chandra dengan selembar kertas. Matanya sudah terpejam rapat, tapi mulutnya masih terlihat lapar melahap ASI.
"Mulut kau ternyata rese juga ya?" bang Lendra menunjukku dengan tersenyum ceria.
"Aku memang gini, sempat hilang jati diri, tapi udah ketemu lagi sekarang." akuku, membuat bang Dendi yang masih mengunyah terkekeh geli.
Para laki-laki di sini, suka sekali menambahkan nasi ke piring mereka.
"Gaji memang sepuluh jutaan, belum lagi kalau uang transport sama uang makan cair. Tapi kan, bayar tiga kamar kos ini udah satu juta. Belum, biaya makan yang kadang minta ditransfer dulu. Udah gitu, godaan jam tangan sama kacamata menggoda mata."
Apa ia juga penggila brand luar negeri?
"Bang Lendra, suka kacamata yang sepuluh jutaan itu? Jam tangan Rolex Daytona gitu-gitu?"
Aku pernah bertengkar hebat, karena paket datang dari Rolex Daytona itu.
"Ya, suka juga." ia mengambil sesuatu, yang bertengger di atas tas kerjanya.
"Ini Chanel, enam jutaan. Nah, yang itu." bang Lendra menunjuk rak kaca transparan yang menggantung di sisi tembok paling kiri, "Bvlgari, tiga koma delapan jutaan. Yang gagangnya tipis itu, Ana Hickman dua jutaan."
Sepertinya, manusia seperti bang Lendra ini satu dua dengan mas Givan.
"Kacamata mahal itu, mereka bisa apa Bang?" pertanyaanku menimbulkan senyap.
Krik, krik...
Untuk beberapa saat, bang Lendra hanya menaikkan sebelah alisnya dengan memandangku.
Sedangkan bang Dendi, ia berhenti mengunyah dengan memberiku tatapan misterius.
__ADS_1
"Dia bisa kasih kekayaan, kalau bisa dapatkan tumbal janda anak satu." celetuk bang Lendra begitu serius.
Benarkah merk luar negeri bisa memeberi pesugihan seperti itu?
"Apa lagi, kalau jandanya masih muda kek kau. Terus, bodoh juga. Pasti pas kau ditumbalkan, Abang langsung kaya raya."
Detik itu juga, bang Dendi tersedak makanannya karena tawanya sampai membuat Chandra kaget dari tidurnya.
"Taruhlah anak kau di kamar Enis sana! Terus beresin dulu kamar ini, Abang mau istirahat. Jam tigaan nanti, Abang buatkan CV kau." pintanya dengan berjalan ke luar kamar ini dengan sebungkus rokok di tangannya.
"Bang... Tadi bang Lendra cuma bercanda kah?" tanyaku pada bang Dendi, yang masih berada di hadapanku.
Bukannya menjawab, ia malah tertawa puas kembali. Apa ia tidak trauma tersedak lagi kah?
"Bang... Dih, malah ketawa!" aku kesal karena tak mendapat jawaban puas.
"Ya iyalah, Canda! Kacamata mahal, cuma dapat kepuasan aja. Bukannya ladang pesugihan!" jelasnya kemudian.
Kepuasan?
Ranjang kah?
Bang Dendi menatapku seperti terheran-heran.
"Apa, Bang?" aku tidak mengerti, kenapa bang Dendi tak cepat menjelaskan saja.
"Muasin laki-laki kek mana maksud kau? Tentang kacamata mahal tadi?"
Aku mengangguk cepat, pandanganku pun fokus ke wajahnya.
"Pertanyaan kau tadi, kek nanya caranya biar laki-laki puas di ranjang. Bukannya condong ke kacamata mahal." raut wajahnya terlihat marah.
Hei, memang apa salahnya aku bertanya?
"Katanya, kacamata mahal cuma dapat kepuasan aja?" ujarku mengulang pernyataannya.
Helaan nafasnya begitu berat, "Udahlah, aku kabur aja." ia malah berlalu pergi, dengan membawa sepiring makanannya yang belum habis.
Adakah yang bisa membantuku menjelaskan tentang ini?
Aku malah ditinggal dengan kebingungan ini.
__ADS_1
~
Aku tengah diwawancarai bang Lendra, seputar pendidikanku dan alamatku.
"Ini nih nembak semua. KTP, SKCK, surat kuning, domisili juga. Abang udah pesan, nanti kalau ada orang datang anterin. Tinggal kau terima aja, kalau ada tamu di tempat Abang. Uangnya udah dibayar, udah Abang transfer."
Kami tengah duduk di teras kos kak Anisa. Sedangkan pemilik kamar kos ini, tengah berangkat kerja sejak pukul satu siang tadi. Kak Anisa bercerita, malam nanti ia akan pergi bersama bang Lendra.
Kak Anisa mengatakan, ia ingin jual mahal. Ia pun sudah meminta bang Dendi untuk menelponnya, lalu beralasan apa saja agar dirinya pulang ke kos. Saat kak Anisa sudah memberikan kode pada bang Dendi.
Ia berujar, bang Lendra mengajaknya ke tempat hiburan malam. Bang Lendra butuh hiburan, pikirannya pun butuh ketenangan dengan menyicipi alkohol. Itu yang kak Anisa katakan, saat ia tengah berhias sebelum berangkat kerja.
"Nanti, kau tulis tangan aja surat permohonan kerjanya. Tulis di kertas polio, contohnya nanti Abang ambilin punya Abang dulu. Riwayat hidup juga tulis tangan, nanti dari pendidikan kau SD, sampai SMA di tulis taahun lulusnya."
Aku belum pernah melamar pekerjaan, aku tidak paham yang seperti ini.
"Tak paham, Bang." ujarku menanggapi penjelasannya.
Terlihat bang Lendra menghela nafas beratnya, kemudian ia melirikku sekilas.
"Tunggu." bang Lendra bangun, ia berjalan ke arah kamar kosnya.
"Yum..." Chandra merangkak cepat, ia mengejar bang Lendra.
Oh, aku baru paham. Ia ingin mengatakan om, hanya saja ia tidak bisa menirunya. Ia hanya bisa mengatakan yum, saat ingin memanggil bang Lendra.
Aku membiarkan Chandra mengikuti bang Lendra. Aku baru bangun tidur, mataku tak bisa terbuka sempurna.
Tak lama, Chandra sudah kembali. Ia berada di gendongan bang Lendra. Sedangkan di tangan bang Lendra, terdapat beberapa lembar kertas dan bolpoin.
"Nih... Abang contohin. Di bagian atas sini, kau tuliskan daftar riwayat hidup, pakai huruf besar semuanya. Terus di sini tuliskan nama, tempat, tanggal lahir, usia, nomor telepon. Kasih titik dua, terus isi nama lengkap kau, tempat tinggal kau sekarang, pokoknya isi yang sesuai. Terus di bawah ini, menerangkan bahwa yang bertanda tangan di bawah ini."
Dari samping tulang wajahnya tegas sekali, pantas saja kak Anisa begitu mengaguminya.
Nada bicaranya, tergantung ekspresi wajahnya. Tidak seperti mas Givan, yang selalu keras. Tidak seperti Ghifar, yang selalu bernada lembut. Bang Lendra berbicara sesuai ekspresi wajahnya. Jika tengah marah, nada bicaranya sedikit naik. Namun, tidak terlalu menggelegar seperti papah Adi. Jika tengah bergurau, bang Lendra berbicara begitu ceria tetapi tidak berlebihan.
"Heh, Dek. Apa kau? Naksir? Jatuh cinta? Jatuh hati? Terkesima? Terlena? Terpesona?"
...****************...
Wah, ke-gap yang punya wajah 🤣
__ADS_1