Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD29. Berkunjung ke Kuala


__ADS_3

"Bukka jo pintoe nyoe!" bang Dendi menarik-narik gagang pintu itu beberapa kali.


"Hai, Nong. Buka pintu, Abang datang." bang Dendi berbicara pada gadis kecil yang mengintip di jendela, yang dekat dengan pintu utama rumah ini.


"Ma....." teriakan anak kecil itu semakin menjauh.


"Tak cepet, pengen kencing tuh."


Aku terkekeh kecil, melihat bang Dendi memegangi tengah-tengah tubuhnya.


Brakkk....


"Ingat Ma juga kau?"


Kak Anisa terlihat begitu syok. Apa ia memiliki penyakit jantung bawaan?


"Kak, kenapa?" aku menggoyangkan lengan kak Anisa.


"Heh! Nyelonong aja kau!" wanita paruh baya itu menatap bang Dendi dengan bengis.


"Bentar, Ma. Mau kencing dulu." bang Dendi tanpa dosa meninggalkan kami di depan pintu seperti ini.


"Jeni ya?" telunjuk seseorang yang dipanggil ma itu, menunjuk ke arah aku.


"Bukan, saya Canda." aku tersenyum ramah, kemudian tangan kananku terulur untuk mencium tangannya.


Setelah itu, ia tersenyum ramah padaku. Pandangannya tiba-tiba bergulir pada kak Anisa, yang masih kaku di sampingku.


"Kau Jeni?"


Kenapa ibu itu selalu menuduh? Kan lebih baik mengajak kami berkenalan secara baik-baik. Aku jadi bingung.


"Saya Anisa, Bu." kak Anisa melakukan hal yang sama sepertiku.


"Ohh, masuk-masuk. Abis dari mana? Udah pada makan belum?" ibu bang Dendi ternyata begitu ramah.


Aku dan kak Anisa dipersilahkan untuk duduk di sofa mewah ini. Sofa berbahan kulit, berwarna marun.


"Dari rumah keluarga aku, Bu. Dari Bener Meriah, mampir ke sini, katanya mau nengokin orang tua dulu." aku menjawab pertanyaan ibu bang Dendi.


Ia tersenyum ramah pada aku dan kak Anisa, "Tinggal dulu ya?"


Aku hanya mengangguk, kemudian dirinya berlalu meninggalkan kami.


"Dek... Aku orangnya gak bisa denger suara bentakan gitu. Nada ngomong ibunya kek lagi marah, aku takut." ia memegangi lenganku begitu erat.


Rupanya kak Anisa takut dengan ibu bang Dendi. Aku kira ia memiliki penyakit jantung bawaan.


"Keknya cara ngomongnya memang kek gitu deh, Kak." aku berasumsi sendiri.

__ADS_1


Aku terperangah, kala melihat bang Dendi muncul dengan bertelanjang dada. Bersihnya kulit itu, bagai warna kulit orang tajir. Yang jelas, tanpa tatto seperti bang Lendra.


Namun, ia terlihat seperti pemuda kampung. Karena ia berjalan ke arah kami, sembari memakan mangga secara langsung. Kulitnya tak dikupas, buahnya pun tak dipotong-potong.


"Ma masak ikan, Nis. Gimana?" ia duduk di sofa single.


Apa kak Anisa punya pantangan makan ikan?


"Kalau gak dimakan, pasti ma Abang ngamuk. Aku takut." jawab kak Anisa, ia terlihat ketar-ketir.


Memang ada apa sih dengan ibu bang Dendi itu?


"Kenapa, Kak?" aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Gak apa sih. Cuma aku gak makan ikan, aku gak bisa. Sedangkan kan, harus hormatin tuan rumah. Kalau gak dimakan, nanti ma marah takutnya."


Aku paham, jadi bang Dendi mengetahui perihal kak Anisa tak bisa makan ikan.


"Aku bukan tak bisa, tapi aku harus makan cepat. Kalau milahin duri terus, Chandra tak mungkin sabar nungguin aku." ungkapku kemudian.


Aku menangkap dari beberapa kejadian, saat aku tengah menikmati makanan buatan Kinasya. Kinasya suka sekali memasak sea food. Sayangnya, saat hadirnya Chandra. Aku tidak bisa menikmati makanan itu dengan penuh semangat, karena Chandra tak sabar menungguku makan.


"Abang pernah cerita kan, tentang ma nangis kalau masakannya tak ada yang makan?" bang Dendi berbicara seperti berbisik.


Aku reflek menggeleng, bersamaan dengan kak Anisa yang menganggukkan kepalanya.


Kami menoleh secara bersamaan. Ibu bang Dendi muncul, bersama dengan gadis kecil. Sepertinya, gadis kecil usia enam tahunan itu adalah adik bang Dendi. Aku kurang tahu berapa usia gadis itu, hanya saja perawakan anak itu seperti usia anak enam tahun.


"Hai, Adoe." gadis kecil itu melambaikan tangannya pada Chandra.


Chandra langsung girang saja, ketika ada yang menyapanya dengan ramah.


Kami melangkah, mengikuti bang Dendi yang mengomandoi kami.


"Silahkan, silahkan. Ada ikan goreng, ada yang dimasak bumbu gulai juga."


Air liurku langsung banjir, saat melihat ikan dalam balutan bumbu kental tersebut.


Aduh, Chandra. Andai saja ada yang mau mengajak kau bermain, karena biyung langsung berna*su makan melihat masakan itu.


"Sini Adeknya, Dek. Kau makanlah dulu!" ibu bang Dendi, yang tak diketahui namanya tersebut mencoba mengajak Chandra bermain.


Aku jadi terharu, aku teringat mamah Dinda yang selalu seperti ini ketika aku akan makan. Aku rindu padanya.


"Adoe..." gadis kecil itu mencium pipi Chandra, yang sudah beralih ke tangan ibu bang Dendi.


Setahuku, adoe sama saja dengan adik. Tapi, ruang lingkup adoe lebih luas. Seperti untuk menyebutkan adik sepupu, atau orang yang tidak akrab dengan kita. Sedangkan adek, itu panggilan lumrah untuk orang yang umurnya lebih muda dari kita.


Namun, panggilan adek lebih terdengar halus dan sopan. Ketimbang dengan menyebutkan adoe.

__ADS_1


Aku melihat bang Dendi mengisengi gadis kecil itu. Ia terlihat marah, saat kuncir tanduknya dimainkan oleh bang Dendi.


"Abang!" dia berseru dengan mendelik tajam pada bang Dendi.


Bang Dendi tertawa puas, ia langsung menahan tubuh gadis kecil itu. Lalu ia menciumi gadis itu bertubi-tubi.


"Jangan gangguin coba, Den!" ibu bang Dendi menarik telinga bang Dendi.


Jadi seperti itu ya rasanya memiliki ibu?


Aku tak pernah sama sekali bercanda atau bercerita dengan ibu kandungku.


Hanya mamah Dinda, figur ibu yang aku kenal. Tapi menurutku, ia tidak seperti ibu kandung. Jelas, karena dia adalah ibu suamiku.


Bukan karena mamah Dinda selalu berpihak pada anaknya. Hanya saja, kesibukan mamah Dinda mengurus semua anak-anaknya kadang membuat aku tak mendapatkan perhatian darinya.


Memang, aku harus sadar diri. Karena aku cuma menantu di rumah itu.


"Ka bereh. Sana pergi kejar b*bi!" bang Dendi mengacak-acak rambut ikat tanduk adiknya.


Makian itu sering aku dengarkan di rumah megah itu. Entah Ghava yang tidak mau diganggu oleh Ghavi, atau salah satu dari saudara itu tengah bertikai. Pasti ada saja yang mengatakan, jak let bui keudeh. Artinya sama, sana pergi kejar b*bi.


Kadang aku tidak mengerti, bahwa itu makian yang mengungkapkan emosi. Pernah aku berpikir, kenapa tidak mengejar yang lain? Kenapa harus b*bi yang mereka kejar? Padahal binatang sejenis b*bi dan a*jing, begitu dihindari di provinsi ini.


Pernah pada suatu ketika. Aku, Kinasya dan Tika dikerjai oleh salah satu pemuda. Saat kami tengah membuat story dalam sosial media kami, ketika pesta penyambutan Giska dilangsungkan di rumah Zuhdi. Ia meminta kami, untuk mengatakan pap ma.


Yang ada di pikiranku, adalah meminta foto ibu. Karena ma di sana, dipakai untuk sebutan seorang ibu. Sedangkan pap, berarti post a picture.


Alhasil, kami dimarahi habis-habisan oleh ayah mertuaku. Ia menjelaskan, bahwa pap ma begitu kasar. Pap ma memiliki arti, melakukan hubungan se*sual dengan ibu.


Aku, Kinasya dan Tika begitu syok. Kami saling memandang, kemudian segera menghapus story dalam sosial media masing-masing.


Resiko menjadi pendatang di provinsi ini.


"Ndhuk... Cepet dimakan, malah ngelamun lagi!"


Aku terperangah pada......


...****************...


Siapa nih yang manggil ndhuk? 🤔


Ndhuk itu bahasa rawan menurut aku. Di Jawa sendiri, ndhuk itu untuk panggilan pada gadis yang kita sayang, pada anak, atau pada adik perempuan.


Tapi, kalau di Cirebon. Ndhuk ini, rawan diucapkan dengan ndog. Ndog artinya telor.


Cirebon menurutku tidak disebut suku Jawa, meski masuk dalam daerah perbatasan. Cirebon tidak termasuk suku Sunda juga, meski masuk dalam wilayah Jawa Barat.


Sekedar pengetahuan saja ya 😅

__ADS_1


__ADS_2