Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD132. Belajar pargoy


__ADS_3

Bang Daeng menarik tumpuan duduknya, ia bersandar pada tembok yang terlapisi satu bantal tidurnya.


"Kek gini kan enak." bang Daeng langsung melepaskan pengait yang berada di punggungku. Pabrik ASIku ini, langsung tumpah dari wadahnya.


"Abang!" aku berusaha turun dari atas perutnya. Namun, lututnya naik menjepitku dalam posisi ini. Tangannya pun, menahanku agar tidak turun dari atas perutnya.


"Obatin suaminya. Badan pada capek nih, sakit kepala nih."


Mulutnya langsung mencaplok pucuk dadaku.


"Enakin Abang, Sayang." bang Daeng memutar pinggangku.


Ternyata, aku menduduki intinya. Bukan perutnya.


Ia bersandar kembali, matanya terpejam dengan masih memutar pinggangku.


"Aku tak bisa." aku mencoba turun di atasnya.


"Abang bakal bener-bener males minta, kalau Adek selalu gak bisa. Orang tuh coba dulu. Jangan gak bisa, gak bisa terus. Abang gak kasih-kasih, Adek gak minta-minta. Mau jadi apa rumah tangga kita? Belum punya anak aja udah begini, gimana nanti? Kan kasarnya begitu." urat wajahnya begitu tegas.


Bagaimana ini?


Aku tidak pernah bergoyang di atas laki-laki.


"Bang, aku tak bisa goyang." aku tertunduk lesu.


"Bisa! Gak bisa, gak bisa terus. Adek bisa, cuma gak mau nyoba. Berminggu-minggu Abang gak nyentuh, gak ada inisiatifnya betul. Itu tiket surga buat Adek loh." bang Daeng masih menahanku di atas tubuhnya.


"Gak harus goyang, yang penting Adek gerak. Pandai squat, pandai olahraga. Gak mungkin, dia sulit goyang kalau di atas. Otot paha Adek udah terlatih." tambahnya kemudian.

__ADS_1


Bang Daeng menegakkan punggungnya, sehingga tubuh kami begitu dempet. Sesaat kemudian, kaosnya tertarik ke atas. Ia kini bertela*ang dada juga sekarang.


Ia menatapku, "Coba!" ia menganggukkan kepalanya.


Sudah pernah aku bilang, ada sihir di matanya. Aku langsung mengangguk seperti orang latah, saat dirinya menganggukkan kepalanya.


"I love you." ia langsung mengunci rahangku.


Ia mengadu pengecap kami. Tangannya begitu lihai untuk membangkitkan minatku.


Sesaat kemudian, aku berguling dengan dirinya langsung mengungkung tubuhku. Tubuh bang Daeng kian turun, dengan lidah yang meninggalkan jejak di atas kulitku.


Seperti makanan lezat untuknya. Ia menikmati dan memakan intiku, seperti hidangan berkuah pedas.


"Uhmmm..." ia mengurut intinya sendiri dengan tangannya.


Punggungnya tegak, lalu ia meraih gel pelumas yang berada di rak buku. Ia mengolesi intinya, dengan lumuran gel yang cukup banyak.


Alisku berkerut, aku merasakan benda tumpul itu bergerak masuk. Bang Daeng langsung mencu*bui leherku, lidah dan giginya beraksi di sana.


"Bang...." aku mengusap kepalanya.


Hentakan pelan sudah aku rasakan.


Aku hampir meledak, jika bang Daeng memutar pinggulnya seperti ini. Aku merasa teraduk-aduk, aku merasa seperti terkoyak. Keciprakan pun langsung bergema di ruangan ini.


"Awwww...." tubuhku terangkat, dengan milik kami yang masih menyatu.


"Abang." aku cukup kaget, dengan perubahan gaya ini.

__ADS_1


Bang Daeng sudah duduk bersandar, dengan aku yang berada di atasnya. Senyumnya terukir, ia mengusap-usap dadaku seperti mengadoni tepung.


Aku harus bagaimana?


Bang Daeng tak memberikan instruksi.


Ia kembali menyatukan pengecap kami. Tangannya mengunci leherku, karena lidahnya tengah mengabsen gigiku.


Plak....


"Ughhhh...." aku beseru, mendapat pukulan yang tiba-tiba itu. Tadi tangannya berada di leherku, tetapi langsung beraksi menampar part belakangku.


"Gerak!" ia bersandar lagi di tembok.


Ia memandangku begitu intens. Tangannya diam, membuatku merasa kehilangan.


"Pargoy lah, Adek. Coba dulu. Kalau gak bisa pargoy, naik turunlah. Bisa juga, badan Adek condong ke depan, terus part belakang Adek ngebor. Gak apa, kita jarang posisi ini juga. Yang penting, kasih Abang kesempatan buat ngerasain goyangan Adek."


"Uhmmm." matanya langsung terpejam, karena aku langsung bergerak.


Ia menyentuh pahaku, tarikan nafasnya begitu berat.


Matanya terbuka kembali, sudah begitu berkabut dan buas. Tangannya langsung merem*s dadaku, satu tangannya lagi berada di pinggangku.


"Gampang kan?" ujarnya kemudian.


"Bentar-bentar."


Aku langsung berhenti. Bang Daeng menggeser tumpuan duduknya, kami lebih mundur agar ia bisa merebahkan tubuhnya. Karena tadi ia berada dalam posisi duduk.

__ADS_1


...****************...


Yey, bisa 😎 Pargoy kuy 😆🤫


__ADS_2