Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD226. Bisnis rahasia


__ADS_3

Tinnn...


"Yayah...." sapa Chandra dengan senyum manisnya.


"Hai, Abang. Dadah...." mas Givan melewati kami begitu saja.


"Yayah! Yayah! Kau lagi!!" bang Daeng memutar posisi gendong Chandra. Mungkin, agar Chandra tak melihat motor ayahnya yang semakin menjauh.


"Abang kenapa sih? Orang Chandra cuma nyapa aja. Mas Givan pun nyapa anaknya, bukan nyapa aku."


Jujur, aku tidak suka dengan sifat bang Daeng yang satu ini. Apa maksudnya ia seperti ini?


"Kita ngontrak aja, kita keluar dari rumah itu." ia berjalan ke rumah kembali.


Aduh, drama apa lagi ini?


Aku hanya bisa menepuk jidat saja. Belum saja ia kena semprot mamah Dinda, belum saja ia kena amuk barang yang dibanting papah Adi. Segala ingin keluar dari rumah itu.


Huh, pasti panjang urusannya.


Aku mengikutinya, membiarkannya berjalan lebih dulu.


Di halaman rumah, kami berjumpa kembali dengan Ghifar yang tengah memanasi motornya. Pagi ini, laki-laki di rumah tengah sibuk dengan kegiatannya.


"Papa.... Cis ya? Lim Bang." Chandra mengulurkan tangannya.


"Salim?" Ghifar tersenyum pada Chandra.


Namun, bang Daeng malah menerobos Ghifar. Ia langsung masuk saja ke dalam rumah. Membuatku merasa tidak enak pada Ghifar.


Aku menoleh cepat. Ghifar masih memandang kami dengan garuk-garuk kepala. Pasti ia bingung, pasti ia memikirkan kesalahannya, sampai-sampai bang Daeng tak mengindahkannya itu.


"Mah... Kami pamit, mau ngontrak aja." bang Daeng berbicara seperti itu, dengan melewati mereka yang duduk di ruang keluarga.


Bang Daeng tidak sopan.


"Mah..." aku memandang beliau dengan penuh kecemasan.


Semoga beliau mengerti, akan kode yang aku berikan ini.


Mamah Dinda mengangguk, lalu ia beralih menatap tajam bang Daeng yang hendak menaiki tangga.


"Silahkan pergi seorang diri. Tinggalkan anak dan cucu Mamah di sini."


Hah?


Rahangku terjatuh begitu saja.


Bang Daeng menghentikan langkahnya, ia memutar tubuhnya diikuti dengan netra penguncinya.


"Canda istri aku, Chandra anak aku. Aku berhak bawa mereka keluar dari rumah ini, demi ketenangan kami."

__ADS_1


Kemana rasa rendah diri bang Daeng kemarin?


"Pulanglah kau ke rumah orang tua kau, Lendra!" mamah Dinda masih terlihat santai, bahkan beliau masih asik menyantap potongan buah yang masih diiris suaminya.


"Mah..." aku mendekati mamah Dinda, kemudian duduk lesehan di sampingnya.


Aku memeluk lengannya manja, "Mah... Kek mana?" rengekku kemudian.


"Canda! Kau mau ikut suami kau? Atau mantan mertua kau?"


Ya Allah, bang Daeng.


Aku mendongak tak percaya, memperhatikan wajahnya dari jauh.


Mamah Dinda menghela nafasnya, lalu meminum air putih yang berada di hadapannya.


"Kalau ikut kau? Terus kau mau telantarkan dia lagi kek kemarin? Mamah paham ya tabiat kau, Mamah paham jenis manusia kek kau." ujar mamah Dinda.


Papah Adi masih diam saja, malahan ia memakan potongan buah yang tersisa di piring. Bagaimana sih? Kenapa mereka begitu santai?


"Aku tak begitu." bang Daeng berjalan mendekat.


"Buah nih, Nak." papah Adi mengulurkan tangannya pada Chandra yang masih digendong manggenya.


"Au." Chandra manggut-manggut.


"Turunin Chandra, Bang." pintaku lembut.


"Eksportir ilegal. Penyelundupan barang Monza masuk ke Indonesia, penyelundupan kosmetik luar bebas pajak. Masa kau kena tangkap nanti, kau dipenjara, kau kena hukuman berat. Apa kau bisa jaga Canda? Apa kau masih bisa urus Chandra begini? Gimana nanti nasib mereka? Siapa yang ngasih mereka makan nanti? Pikirkan ke depannya." mamah Dinda menunjuk-nunjuk pelipisnya sendiri.


Papah Adi bangkit, lalu mengambil alih Chandra.


"Engkek, auhhhh." Chandra langsung berusaha meraih buah yang dipegang kakeknya.


"Iya, ini buah." Chandra sudah berada di tangan papah Adi.


Kemudian, Chandra didudukan di atas karpet. Dengan disandingkan sepiring potong buah. Papah Adi pun, meraih pisau buahnya. Lalu mulai mengupas buah pepaya lagi.


"Iii, Bang mam." Chandra menunjukkan potongan buahnya yang sudah ia gigit.


"Iiih, tuh bekas gigi tikus." ujar papah Adi.


Mereka malah fokus pada cucunya saja. Tidak dengan bang Daeng yang masih berdiri di dekat mereka. Bang Daeng tidak sopan, karena ia tidak kunjung duduk.


Tiba-tiba, sosok gagah tegap itu langsung duduk di belakang Chandra.


"Maafin aku, Mah."


Sungguh, aku tidak percaya bang Daeng malah langsung meminta maaf seperti itu.


"Hmm. Udah sana makan! Tinggal ambil-ambil aja tuh! Bukan masakan Canda juga tak apa. Pasti boleh, kalau kau mau."

__ADS_1


Untungnya mamah Dinda dan papah Adi tidak terpancing amarah.


"Givan sembelit. Dia tak akan bisa BAB lancar, kalau tak makan sayur. Tadi, yang masak sayur cuma Canda. Harap maklum aja lah, namanya juga banyak orang. Orang tuh, harus bareng-bareng sama saudara." lanjut mamah Dinda.


Bang Daeng mengangguk. Lalu ia menundukkan punggungnya, untuk bisa mencium Chandra.


Chandra segera menoleh, "Khe au?" ia mengulurkan buah bekas gigitan dirinya.


"Buat Abang aja." jawab bang Daeng.


"Sana siapin sarapan Lendra, Dek! Chandra biar sama Mamah." mamah Dinda menepuk pipiku pelan, karena aku masih mengganduli lengannya.


Aku segera menegakkan punggungku, "Ya, Mah."


Aku segera bangkit. Lalu melangkah ke belakang. Diikuti oleh bang Daeng, yang langsung mengekoriku.


Aku kira, tadi mamah Dinda tidak melihat bahwa bang Daeng tidak kebagian sarapan. Ehh, bukan tidak kebagian sarapan juga. Namun, tidak kebagian sayur tepatnya.


"Abang tunggu di halaman belakang."


Aku hanya mengangguk. Lalu menyendokan nasi beserta lauk pauk entah masakan siapa, yang tersisa di lemari makanan.


Kemudian, aku mengambil air putih satu gelas penuh.


Dengan perlahan, aku berjalan ke halaman belakang dengan membawa nampan berisi sarapan untuk bang Daeng.


Di halaman belakang ini sepi. Karena banyak anak-anak yang belum terbangun. Halaman belakang adalah area bermain anak-anak. Bahkan di sini ada serodotan, ayunan dan juga jungkat-jungkit.


"Abang buronan kah?" aku membuka obrolan, di tengah ia asik bersantap.


"Bukan, masih aman. Tapi memang dari awal karir, udah nekuni bisnis itu." suaranya menurun. Sepertinya, ia memang tidak ingin aku tahu tentang ini.


"Mamah Dinda takut kemungkinan hal buruk yang terjadi. Abang akui, Abang gak mikir sampai sejauh itu." aku masih mencerna kata-katanya.


"Monza itu apa? Kosmetik gimana maksudnya?" aku bukanlah orang cerdas.


"Monza itu, untuk sebutan pakaian bekas yang diperjualbelikan. Monza itu singkatan dari Monginsidi Plaza. Di jalan Monginsidi Medan dulu, banjir orang jualan pakaian bekas. Makanya sampai sekarang, sebutan Monza masih ramai. Karena memang, masih banyak pelaku bisnis pakaian bekas itu. Mirip-mirip lah sama sebutan preloved." jelas bang Daeng dengan sesekali memperhatikanku.


"Pengiriman lewat kapal laut. Biasanya di pelabuhan tertentu, yang longgar pengawasan, Abang datang buat bayar ABK yang udah nganterin barang itu. Dari kapal, lanjut pick up mobil, kalau yang datang banyak ya pakai peti kemas, biar lebih aman dari pemeriksaan pihak tertentu."


Aku pernah melihat berita, tentang kapal laut yang membawa pakaian bekas dibakar oleh pemerintah Indonesia. Ternyata, ada bang Daeng di dalam pekerjaan itu.


Aku masih berkelana dengan pikiranku. Bayangan asap mengepul di tengah laut dan ABK yang diselamatkan pun, masih terlintas di ingatanku saat melihat berita itu.


"Kalau kosmetik ilegal itu. Kosmetik luar negeri, yang belum BPOM biasanya. Dari Thailand, Philipina, Cina yang belum ada izin edarnya. Lipstik-lipstik berbagai merek luar, yang biasanya dijual murah itu."


Aku manggut-manggut mengerti. Bahkan, dulu aku asal memilih lipstik hanya karena bentuknya lucu. Sampai pada akhirnya, bibirku mengelupas parah, kemudian aku panik dan langsung berobat ke dokter kecantikan yang berada di kota Cirebon. Kejadian itu, masa aku duduk di MA kelas tiga kalau tidak salah.


"Tapi....


...****************...

__ADS_1


Dari awal karir, udah menekuni bisnis ini 🤔


Luar biasa Lendra.. terima kasih, sudah membuat wajah teman-temanku cerah berleher mendung 😑


__ADS_2