
"Pulang dari dokter, ma ngadu ke aku. Katanya Hadi tidurnya malam betul, udah gitu sering bangun minta susu sama pipis. Ma juga cerita tuh, kalau Hadi lari-larian aja. Jam sepuluh, masih main di luar sama pak ceknya. Susah diatur, katanya naik-naik ke kursi terus." Giska mendengus sebal, "Ngerasain sendiri kan, gimana cucunya? Komen aja, kalau rumah acak-acakan, kursi miring-miring, meja tak beraturan. Sekalian aku sih, biar tau sendiri gimana Hadi." lanjutnya, membuat tawaku semakin renyah.
Giska melirikku, "Belum lagi iparnya, Canda. Aku ini, kek tempatnya buat mereka berhutang. Dikiranya bang Adi selalu punya uang. Bang Adi kan, kadang bayarin bahan-bahan mentah dulu. Tak dikasih, ma datang, labrak aku, suruh kasih hutang ke anaknya itu." Giska menepuk lenganku, "Aku aja sering hutang ke bang Ghifar, buat nutupin bunyi kilometer listrik yang berisik terus. Token habis, di luar rencana, uang tak ada. Bang Givan kalau ke sini sering kasih aku uang jajan, kasih Hadi uang persenan. Karena aku ini belum stabil, bang Adi ini belum punya penghasilan tetap."
Benarkah?
"Terus?" aku masih penasaran.
"Aku pernah berantem sama adiknya bang Adi, kakaknya si Ardi. Kan dia perempuan, umurnya dua tahun dia atas aku kalau tak salah. Dia pinjam uang, buat bayar Mekar sama bayar koperasi IM. Buat Mekar, lima ratus ribu katanya. Buat IM, katanya dua ratus lima puluh. Posisi aku, masa itu cuma megang uang dua puluh delapan ribu. Bang Adi juga udah pusing, karena tanggal pembayaran proyeknya masih jauh, sedangkan dia udah banyak nalangin barang mentah. Bang Adi kerja masa itu, ada aku aja di rumah sama Hadi. Aku sampai nunjukin isi dompet aku, biar dia percaya. Tapi apa coba, Canda? Dia malah nyuruh aku, buat pinjemin ke mamah. Aku ini diwanti-wanti sama bang Adi, jangan sampai minjem ke mamah sama papah. Jangan sampai mamah sama papah ini tau kondisi keuangan rumah tangga kita, karena pasti nanti bang Adi dibuat tak enak. Pasti tuh papah kasih uang, jatah jajan aku, mamah juga pasti kasih Hadi jajan. Timbul ke bang Adinya tuh, dia tak enak hati sendiri. Tiap malam aku dikawininya, masa jajan aja minta ke orang tua. Dia malu di situnya, Canda." Giska menjelaskan dengan suara rendah.
"Num, Iyung." Ceysa menepuk pahaku.
Giska menunjuk ke dalam, "Hadi, ambilin minum itu. Yang gelasan." pinta Giska pada anaknya.
Hadi secepat kilat berlari. Kemudian, ia muncul dengan air mineral kemasan gelas dengan satu buah s*dotan juga.
"Makasih." aku menerima air yang Hadi berikan.
__ADS_1
Ia tersenyum lebar yang dibuat-buat, "Sama-sama."
Namun, Giska langsung meraup wajah anaknya.
"Sok imut!" ejek Giska kemudian.
Hadi langsung bersedekap tangan, ia menatap marah ibunya sendiri.
"Ma!!! Hadi bilangin ke abu nih."
"Sana bilangin! Tak takut." Giska pun bersedekap tangan pada anaknya.
Ia menggeram kesal, "Arghhhhhh... Ma nakal!" ia langsung memukuli ibunya memb*bi buta.
Giska langsung menepis pukulan anaknya. Ia tergelak begitu geli, melihat amarah anaknya itu.
"Udah, udah!" aku mencekal lengan Hadi.
__ADS_1
Aku berkontak pandang dengan bocah agresif ini, "Gih main lagi. Eunces minta mainan donat susun lagi itu, Di." aku sengaja mengalihkannya.
Hadi tersenyum manis pada Ceysa yang masih minum air mineral kemasan gelas itu, "Tunggu ya, Eunces? Hadi ambil dulu." ia langsung mengeluarkan jurus langkah seribu, setelah mengatakan hal itu.
"Tengil! Tengil!" gerutu Giska, dengan geleng-geleng kepala.
"Hei, Kak Giska... Lagi nyantai ya?"
Aku dan Giska langsung menoleh pada seseorang yang tengah memberi sapaan itu.
"Iya." Giska menjawab dengan tersenyum ramah, "Sini mampir." lanjutnya kemudian.
"Ah, iya." sahut perempuan bercadar itu.
"Siapa?" aku berbisik pelan pada Giska.
Giska mengikuti gerakan perempuan tersebut yang mendekati tangga penghubung teras ini, "Dia, mantannya.....
__ADS_1
...****************...
Mantan pacarnya suami Giska ya 🥺 kek mamah Dinda gitu, akrab sama mantan pacarnya suaminya. Tapi betul kah? Atau, jangan-jangan mantannya anu 😑