Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD396. Kangen suami


__ADS_3

Sampai tidak terasa, papah Adi sudah kembali setelah tiga hari pencarian istrinya. Sayangnya, beliau kembali hanya seorang diri.


Raut wajahnya pun, begitu menyedihkan. Ia kembali, dengan seribu pertanyaan dari kami. Namun, beliau lebih memilih untuk mengurung diri.


Jika keadaan beliau terus begini. Maka hal yang mungkin terjadi adalah, kondisinya drop kembali. Papah Adi tidak bisa menahan beban pikiran yang terlalu berat. Apalagi, penurunan fisik dan kesehatannya begitu mempengaruhi keadaan beliau saat ini.


Aku harus mencari cara. Mungkin mamah Dinda tega dengan suaminya, tapi sepertinya tidak akan tega dengan cucunya yang terlantar.


Aku langsung berjalan menuju ke rumah. Melewati pintu besi samping, yang menghubungkan antara halaman rumah Ghifar dan halaman rumahku.


"Biyung...." Ceysa yang berdiri di teras rumah Zio, melambaikan tangannya padaku.


Rumah Ceysa sekarang ditempati oleh ibu Muna setiap malamnya. Ya, hanya digunakan untuk tempat tidur ibu Muna saja.


Rumah Ceysa bersebelahan dengan rumah Jasmine. Tanahnya dari mas Givan, dengan bangunannya dibangun dengan menggunakan dana bang Daeng. Aku baru mengetahuinya akhir-akhir ini setelah banyak mengobrol dengan Novi.


Jasmine pun sudah menempati rumahnya sendiri, dengan Hala tentunya.


"Pulang tak, Nak?" tanyaku dengan berseru.


Ceysa hanya membalas dengan gelengan, kemudian ia masuk kembali ke dalam rumah Zio. Aku memilih untuk masuk ke rumah ini. Sepi, karena siang hari Novi bekerja.


Jujur aku merindukan suamiku. Dari kandungan empat bulan, ia meninggalkanku untuk urusan pekerjaan. Sampai sekarang, aku sudah menginjak bulan ketujuh. Sebesar apa perutku? Sebesar hamil sembilan bulan. Hanya saja, posisinya belum terlalu turun.


Aku mengambil ponselku, dengan langsung menghubungkan panggilan dengan suamiku tercinta. Ya mungkin aku sekarang sudah mencintainya. Aku tidak tahu pasti juga.


"Infone maszeh." ucapku dengan tertawa kecil.


Aku sering seperti ini, ketika menelponnya.


"Posisi di jalan, Cendol. Masmu lagi Kalimantan Selatan, ngurus PT. Putra Tunggal Berintan." aku pun bisa mendengar klakson mobil.


"Naik apa? Sama siapa?" mungkin aku terlihat posesif, tapi aslinya aku hanya ingin tahu saja.


"Mobil kita, Terios. Sama pak Hidayat, seperti biasa." jawabnya kemudian.


"Dispeaker tak, Mas?" aku menimbang-nimbang untuk mengungkapkan.


"Tak. Aku lagi makan ciki, kripik singkong. Pak Hidayat yang bawa mobil." pak Hidayat adalah pemegang tanggung jawab terbesar, pada PT. Adi Wijaya Abadi.


Bisa dikatakan, ia CEO untuk salah satu perusahaan mas Givan. Sedangkan mas Givan pemilik, dia owner-nya. Intinya begitulah, jangan tanyakan padaku. Karena aku pusing sendiri memahaminya. Cek novel Ghifar saja, karena ada pengertian CEO di sana. Istri Sambung ya judul novelnya, dengan penulis amatiran yang sama juga.


"Mas, aku kangen loh Mas. Aku tak dipegang-pegang, udah tiga bulanan nih."

__ADS_1


Aku tidak mendapat sahutan darinya. Apa jaringannya terganggu?


"Maszeh.... Mas Givan." aku memastikan bahwa ia masih di seberang telepon, karena detik dalam panggilan masih berjalan.


"Ada, Canda. Aku shock dengernya. Kau tak pernah minta soalnya."


Aku terkekeh dengan menutupi mulutku. Aku merasa malu sendiri.


"Aku kangen." aku manja-manja mengatakannya.


"Ya nanti ya? Lepas aku punya jalan keluarnya buat Adi Wijaya Abadi, aku langsung ambil penerbangan ke Aceh." sudah sepuluh kali, ia mengatakan hal yang sama.


"Kapan?" aku masih berharap ia cepat pulang.


Meski ia berisik dan tukang sewot, tapi dia tetap suamiku. Aku membutuhkannya, karena tak ada yang disuruh untuk membeli bakso atau mie ayam di sini. Sedangkan, pedagangnya cukup jauh.


"Nanti ya? Aku mau ketemu mamah juga, mamah sekarang ada di Banjarmasin. Mamah baru sampai katanya, nanti aku ke Aceh bareng mamah."


Ah, mamah mau pulang ke Kenawat Redelong? Senangnya.


"Serius, Mas? Yakin, mamah ikut pulang ke Kenawat Redelong? Ke kampung kita ini?" aku sampai bertubi-tubi mencecarnya dengan pertanyaan.


"Ya, tapi untuk urusan lain. Bukan untuk suaminya. Ada perlu sama Winda, sama Fira juga. Jangan marah ya, kalau nanti Fira nginap di sana sama Key beberapa hari, sebelum aku sampai sama mamah."


"Ok, Mas. Kapan sih kira-kira, Mas?" aku masih butuh kepastian.


"Tak tau, tapi pasti. Soalnya mamah ada kerjaan dulu di Banjarmasin. Kerjaan aku di Putra Tunggal Berintan juga, keknya lumayan menyita waktu. Belum lagi, aku harus sempetin ke Singapore dulu. Aku harus cek berkala, untuk usahanya Lendra itu. Bisa jadi mamah dulu yang pulang ke Lhokseumawe, nunggu aku. Atau, nanti ketemu di rumah kita yang di Kenawat Redelong." jelas mas Givan kemudian.


Oke, aku baru mengerti.


"Minta oleh-oleh ya, Mas?" aku tertawa sepihak.


Mas Givan tidak menyambungi tawaku, "Nanti ya, Canda? Biar nanti kita liburan lagi aja, kalau masalah tambang udah selesai."


Aku merasa, ada yang tidak beres. Bahkan, sepertinya kacau.


"Memang gimana, Mas?" aku mulai serius di sini.


"Aku pinjam uang ke mamah lagi, Canda. Tapi, mamah sampai bangkrut pun keknya tak mampu bantu usaha aku. Makanya nanti kita di rumah mau musyawarah, karena cari jalan keluar untuk tambang aku ini. Mau ditimbang dulu, berat lepas, atau berat modal."


Tuh kan?


"Mas, padahal aku udah witir, dhuha, tahajud, qobliyah, ba'diyah. Nderes juga, Mas. Tapi jarang sih, soalnya scroll Shopee terus." akuku jujur.

__ADS_1


Mas Givan tertawa lepas, "Ya udah, pokoknya doain aja yang terbaik untuk usaha aku. Kita bakal tetap makan kok, meski hutang di mana-mana. Mana tau, ada kabar baik dari usahanya Lendra itu. Biar uangnya untuk bantu cover Adi Wijaya dulu. Soalnya, Adi Wijaya ini bisa dibilang tambang keluarga. Mamah masih jadi pemegang saham terbesar. Setelah itu almarhum opah Dodi. Bagian opah Dodi kan, udah dibagi waris juga nih, jadi milik orang banyak."


Aku manggut-manggut, meski mas Givan tidak melihat.


"Mas pemegang yang keberapa?" aku bingung jika sudah mengenai saham.


"Aku yang punya, atas nama aku. Gini deh, biar kau ngerti. Biar cerdas sedikit gitu ya? Aku malu punya istri kau soalnya."


Hah? Aku ingin menggetok kepalanya saja.


"Ihh, Mas!!!" bibirku reflek manyun.


Tawanya begitu lepas, "saham nih ya? Awalnya, mamah enam puluh persen. Opah, empat puluh persen. Aku cuma berjuang, berharap berhasil. Nyata tuh, jarak satu tahun berkembang tuh. Sukses kan aku?" aku reflek mengangguk, meski tidak berbicara berhadapan.


"Terus, Mas?" aku masih dalam mode kepo.


"Terus saham mamah aku beli dua puluh persen, saham opah aku beli dua puluh persen. Aku sama mamah sama-sama megang empat persen. Ini dalam hitungan persen aja, biar kau tak bingung."


Aku mengangguk kembali, "Ya, Mas. Terus gimana lagi?"


"Sampai kemarin, mamah beli sepuluh persen dari aku. Jadi, aku tiga dan opah dua."


Aku kebingungan di sini, "Terus masalahnya di mana?" aku seperti orang linglung.


"Ya Allah, Canda!!!" mas Givan sambat terus ketika berbicara denganku.


Hal ini sudah berulang jutaan kali.


"Kan kau tadi nanya saham, Canda. Aku jelaskan sejarahnya dari awal, kau malah nanya masalahnya di mana?" ucapannya berhenti sejenak, "Tak ada masalah, Canda! Ini murni penjelasan aja, karena aku pengen kau tau. Masa istri pengusaha, tak tau apa-apa kan gitu? Jadi aku pengen kau sedikit tau, tentang usaha suamimu." mas Givan berbicara dengan tempo ngerap.


"iya deh, Mas." aku cekikikan seperti orang oon.


"Udahlah, nanti telpon lagi. Udah laper juga, jadinya kenyang lagi. Kaku gara-gara kau, bikin asam lambung naik aja kau."


Dasar, Ananda Givan! Aku lagi yang disalahkan.


Tut.....


Panggilan terputus dari mas Givan.


Aku langsung mencari nama kontak mamah Dinda. Kemudian, aku langsung membuka obrolan setelah panggilan diterima.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2