Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD63. Papahnya Chandra


__ADS_3

"Far... Kau bikin aku bingung." aku hampir terisak di depannya.


Hanya saja aku malu, di sini banyak pengunjung.


"Sini duduk dulu, Pak. Kita omongin baik-baik. Canda staf bos saya, kita terikat pekerjaan di sini." ujar kak Raya, dengan mengulurkan tangan kanannya untuk mempersilahkan Ghifar.


Ghifar mengangguk, lalu ia mengambil kursi di sebelahku.


Aku pun, lekas duduk di kursiku lagi.


"Aku papahnya Chandra. Aku ke sini, buat jemput Chandra sama ibunya." terang Ghifar pada kak Raya.


Kak Raya mengangguk mengerti, "Setahuku, sudah proses cerai Pak. Lebih baik, Bapak tunggu dokumennya segera sampai di kediaman Bapak. Chandra aman bersama kami, Bapak tidak perlu khawatir. Canda sudah terikat kerja selama enam bulan, dia tidak bisa pergi dari tanggung jawabnya." kak Raya berbicara layaknya dengan klien.


"Gini, Kak. Aku tak setuju, dengan Chandra yang ikut dia kerja." putus Ghifar pada kak Raya.


Lalu Ghifar menatapku begitu lekat, "Aku begini cuma sama kau. Tak enak ipar, tak enak kakak sendiri. Aku pengen Chandra aman, aku pengen kau aman. Aku khawatir, karena kau tak ada jejak. Baru kali ini kau transaksi, aku langsung terbang cari keberadaan alamat yang tertera. Canda... Kau tak paham dunia luar, kau terlalu lugu. Kalau memang kau terikat kerja, biar Chandra sama aku dulu. Aku ambil pengasuh dua, kiriman orang dari mamah. Dia ibu sama anaknya, dia bakal ngasuh anak-anak kita semua."


Aku menangis, dengan mendekap lengannya yang dekat denganku. Aku menyembunyikan wajah sedihku dari orang-orang, yang berlalu lalang di sekitar sini.


"Jangan sebut anak-anak kita, Far." aku merasa tersakiti dengan perkataan itu.


Bahkan, aku dan dia tidak pernah menikah sekalipun. Bagaimana caranya kami memiliki keturunan?


Tentu itu hanya angan-anganku sejak dulu.


"Anak kita. Kalau kita memang tak pernah bisa bersama, anggaplah keturunan kau dan keturunan aku adalah anak kita. Aku tak tenang, tak nampak kau sama Chandra di depan mata. Tak apa aku ribut sama Kin, tak apa aku ribut sama bang Givan. Yang penting aku ngerasa tenang, karena kalian aman di genggaman aku."


Oh, jadi ini yang dimaksud genggaman oleh bang Daeng?


"Far... Dengan kau kek gini. Kau tambah nyakitin aku." aku berkata lirih, masih dengan memeluk lengannya.


"Biar Chandra sama aku, datanglah kalau kontrak kerja kau udah habis. Pintu rumah mamah papah, selalu terbuka lebar untuk kau dan Chandra. Pulanglah setiap kau butuh tempat berteduh, aku selalu nungguin kedatangan kau." aku merasakan usapan di kepalaku.


"Aku kepikiran terus, pas Ghava cerita kau dibelenggu orang bertato." lanjut Ghifar, membuatku melepaskan pelukanku di lengannya.


Aku mendongak, untuk melihat wajahnya.


"Aku tak dibelenggu, aku bukan peliharaannya dia juga. Dia bos aku, aku kerja dengan group. Dia bos di group aku, dia asisten bos aku dan aku sekertaris di sini." ungkapku kemudian.

__ADS_1


"Kau yakin? Kau jujur?"


Aku mengangguk mantap, untuk menjawabnya.


Ghifar merangkulku, senyumnya begitu menenangkan pikiranku. Tangannya mengusap-usap kepalaku, membuatku bersandar di dadanya.


Puk, puk....


Chandra menepuk-nepuk kepalaku, "Yung...." ia bersuara melengking.


"Jangan nakal sama Biyung, Nak. Kasian sama Biyung, Nak." aku bisa dengan dekat melihat wajah suami dari Kinasya ini.


"Khe???" suara yang Chandra berikan, seperti nada sebuah pertanyaan.


"Apa itu khe?" tanya Ghifar kemudian.


Usapan lembut, masih aku rasakan di sekitar bagian kepala belakangku. Aku tahu ini tangan Ghifar, yang tengah merangkulku.


Khe adalah panggilan Chandra untuk bang Daeng. Mangge, ajaran yang bang Daeng berikan pada Chandra.


"Ya, Canda? Chandra aku bawa, biar kau selesaikan masa kerja kau. Aku ada pengasuh, kau tenang aja. Chandra tak mungkin pindah tangan ke Kaktus sialan itu. Chandra dalam tanggung jawab dan naungan aku. Kau tenang aja." aku rindu mendengar nada bicaranya yang lembut seperti ini.


"Aku punya tanggung jawab, Canda. Aku ayah dari seorang anak perempuan, aku suami dari seorang istri yang mengandung. Aku bujang, aku bebas, aku pasti bakal ikut sama kau. Kenapa kau tak pisah lebih cepat aja, sebelum aku nikah sama Kin dulu?"


Ya Allah, jawaban macam apa ini?


Aku kembali memeluknya, menangisi cinta kami yang tak pernah bisa bersatu.


"Far... Kau jahat, Far!" aku memukul pelan dadanya yang tidak tertutupi tubuh Chandra.


"Kau lebih jahat, bikin aku trauma selama tiga tahun. Tolong buat aku tenang sedikit aja, dengan izinkan Chandra ikut sama aku. Tolong permudah usahaku, Canda. Jangan sia-siakan jarak yang aku tempuh dari Bener Meriah, sampai ke Samarinda ini. Aku cuma bilang ke Kin, jemput Chandra di Kuala. Kin juga tau, tentang cerita Ghava ketemu kau di Kuala."


Aku merasa begitu tenang, mendapatkan usapan lembut dari Ghifar.


"Cuma Chandra semangat aku, Far. Aku pun sekarang, masih observasi rumah sakit." aku menegakkan punggungku, aku merasa tidak enak pada kak Raya yang terang-terangan mengamatiku dengan Ghifar ini.


"Kau sakit?" ia membelai pelipisku.


Kenapa ia bisa mesra seperti ini?

__ADS_1


Kau membuat imanku jebol, Far. Aku merasa ingin merebut kau dari Kinasya.


"Aku ngelakuin perombakan di inti aku, aku buat selaput darah baru." aku tidak bisa menjabarkan dengan detail.


Aku tidak mengerti tentang hal ini.


Ghifar geleng-geleng kepala, senyumnya terlihat samar.


"Aku tak sabaran ya? Buru-buru nikah sama Kin, padahal kau bisa dirombak ulang. Tak apa kan? Meski bekas kakak ipar juga?" Ghifar terkekeh kecil.


Ini bukan penyesalan, ini hanya gurauan. Ghifar tidak bisa serius, dengan terkekeh seperti ini.


"Semoga nanti dapat laki-laki yang setimpal dengan usaha kau ya? Mana nomer baru kau? Biar aku bisa tuker kabar tentang Chandra nanti."


Aku menoleh ke bangku kosong, di mana tempat tas milikku berada. Aku merogoh tas milikku, lalu setelah mendapatkan ponselku. Aku langsung mencari nomor kontakku yang belum bisa kuhafal.


Aku menyodorkannya ponselku ke Ghifar. Lalu ia segera menyalinnya.


"Kau banyak perubahan. Besar kah gaji kau, Canda?" setelah pertanyaan itu terlempar, aku mendapatkan panggilan masuk di ponselku.


"Itu nomor aku. Simpan ya? Mana tau kau mau video call sama Chandra nanti."


Hah, maksudnya Chandra tetapi ia bawa?


"Berapa gaji kau, Canda?" ia menggenggam punggung tanganku.


"Lima koma lima juta, tapi ada uang perjalanan juga. Dibagi, kalau selesai trip di satu tempat." jawabku kemudian.


Pandanganku bergulir pada Chandra, ia terlelap pada seseorang yang ia panggil papah tersebut. Dengan mudahnya ia tertidur, tidak seperti pada bang Daeng. Chandra selalu bermain drama dulu, memancing kesabaran luar biasa dari bang Daeng.


Aku menyukai panggilan ini, bang Daeng. Karena panggilan itu, mampu membuat senyumnya merekah.


Ghifar menghapus air mata yang tersisa di pojok mataku. Ia memandangku begitu lekat, tatapan kasihnya begitu aku rindukan.


Jarak mengikis, wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Sampai nafasnya begitu terasa mengenai kulit wajahku.


"Canda.....


...****************...

__ADS_1


Aku nangis 😭 campur aduk 😢 Ghifar kekasihku 😟 anak laki-laki papah Adi yang menjadi pemenang pertarungan jika diadu sama saudaranya 😭 Ghifar rese, yang selalu nakal sama Icut 😢 Ghifar kecil, yang selalu dih-dih-dih an terus 😩


__ADS_2