
"Mah, aku keluar dulu." mas Givan ngeloyor pergi.
Apa Nadya dan mas Givan tidak ada rasa?
Kenapa di antara mereka berdua tidak ada yang menangis?
Aku jadi bingung di sini.
"Aku permisi, mau cari anak-anak dulu." Nadya berjalan melewati mamah Dinda dan papah Adi, dengan membungkuk punggungnya.
"Ya, mereka ada di halaman belakang. Terus kau beres-beres, biar langsung diantar." sahut mamah Dinda.
Mamah Dinda mendelik ke arahku, "Mana uangnya? Ayo dihitung." mamah Dinda melambaikan tangannya.
"Di ATM, Mah. Yang di tangan aku, gaji...." aku ragu untuk menarik nama itu.
"Gaji siapa?" mamah Dinda sudah bangkit dari duduknya.
"Gaji Lendra kemarin, Mah." aku memperjelas ucapanku.
"Ohh, ya udah. Tak apa. Ayo dihitung semua. Yang di ATM, ayo ke Bank sama Mamah. Papah anter ya, Pah?" mamah Dinda langsung mencolek dagu suaminya.
"Udah deh. Kalau ada maunya, tak usah nyebut Sayahhh papah lagi. Kek biasa aja, Bang Adi." urat masam papah Adi terpasang di sana.
Mamah Dinda tertawa lepas, "Ayolah, Bang. Sekalian jalan-jalan." beliau masih merayu suaminya.
"Ya udah. Sana siap-siap." papah Adi menoleh padaku, "Kau bawa buku KIA, Dek. Papah khawatir sama calon cucu gadis Papah, kau akhir-akhir ini banyak nangis." lanjutnya kemudian.
"Ya, Pah." aku yakin, aku sepertinya sudah siap perjalanan dengan menggunakan mobil.
Jika tidak kuat pun. Aku harus sedia kantong kresek.
Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di depan meja teler Bank. Setelah diminta tanda tangan, mutasi langsung segera dicetak.
Mamah Dinda pun berdiri kokoh di sampingku. Kami, terlihat seumuran. Aku yang menua, beliau yang stay di umur mudanya.
"Totalnya... Tujuh miliar, empat ratus ribu rupiah. Bisa dicek sendiri." teler tersebut memberikan buku tabungan milikku.
"Sumber dana dari siapa, Kak?" tanya mamah Dinda.
"Dari... Nalendra. Terakhir kan, pengoperan dana dari bapak Nalendra. Setelah itu, bapak Nalendra ada minta kembali dana. Baru juga beberapa hari kemarin, buku tabungan yang dibekukannya sudah dibuka kembali." aku tidak mengerti dengan penjelasan teler ini.
"Berapa Nalendra minta? Kenapa tidak ada konfirmasi sama pihak kita?" mamah Dinda terlihat sewot.
"Beliau bekukan tabungan di sini, lalu minta dibukakan lagi di sini. Dana tersebut pun, katanya dari tabungannya bersama istrinya. Beliau mengatakan, itu bukan masalah."
__ADS_1
"Ya udah, kalau kek gitu. Saya minta bekukan rekening ini. Buatkan dua rekening baru. Untuk putri Saya, juga cucu saya ini." mamah Dinda menyodorkan kartu keluargaku.
Ngomong-ngomong, dokumen dari mangge yang diambil oleh om Jefri. Sudah berada di tangan mamah Dinda, sudah diuruskan juga ke pengadilan agama. Aku hanya menunggu proses, kemudian surat-suratnya datang.
"Baik, Bu. Silahkan untuk duduk di sana. Nanti Saya ke sana." teler tersebut tersenyum, lalu menunjuk meja bundar yang berada di samping tempatnya.
Mamah Dinda mengangguk, lalu menarikku untuk berjalan ke arah meja.
"Tuh, Canda. Lendra licik. Tujuh miliar itu, udah diambil sama dia. Tadinya berarti, lebih dari tujuh miliar." ungkap mamah Dinda lirih.
"Dengan tidak langsung, artinya dia ini curi uang dari kau." tambahnya kemudian.
Benarkah?
Jadi, uang gajiku berapa?
Aku pikir, uangku hanya berkisar ratusan juta saja. Seratus juta lah, pikirku sesuai hitunganku.
"Bagaimana, Bu?" teler berhijab dengan pakaian sopan tersebut, duduk di salah satu kursi yang melingkari meja ini.
"Cucu Saya, namanya Teuku Chandra Andiyana ini. Tolong bukakan rekening, atas nama dia." mamah Dinda menunjuk nama Chandra, yang berada di kartu keluarga yang tergeletak itu.
Teler tersebut memperhatikan data Chandra, "Masih bayi ya? Bawa akte kelahiran, Bu?" tanyanya kembali.
"Ada." mamah Dinda menunjukkan akte kelahiran milik Chandra.
"Setor awal, untuk pembukaan tabungan ini tiga ratus ribu. Mau alihan dana, dari tabungan ibu Canda ini? Atau mau uang cash saja, Bu?"
"Cash saja. Ada dua puluh empat juta." mamah Dinda mengeluarkan uang jatah Chandra dari ayahnya, dari tas yang ia bawa.
Teler tersebut menerima uang dari mamah Dinda, "Baik, Saya hitung dulu."
Beberapa saat kemudian, kini teler tersebut tengah mengurus peralihan rekening milikku.
Tabungan milikku ditutup. Lalu aku membuka rekening baru.
"Atas nama Nalendra ini, kira-kira naruh total dana berapa?" tanya mamah Dinda, disela aktivitas teler tersebut.
"Sebentar ya, Bu." ia beralih ke laptop kerjanya kembali.
Beberapa saat, ia memberikan mamah Dinda print out.
"Ini hasil alihan dana dari Nalendra." teler tersebut menunjukkan jumlah yang paling bawah, di print out yang dipegang mamah Dinda.
"Mah, alihan dana itu transfer kah?" tanyaku dengan melirik kertas tersebut.
__ADS_1
Namun, aku malah dihadiahkan cubitan mengagetkan.
Aku menoleh cepat pada mamah Dinda. Tetapi, aku malah mendapatkan pelototan tajam.
"Iya, Canda Pagi Dinanti! Mamah kira kau ngerti dari tadi diam aja tuh." bisiknya penuh penekanan.
Aku memberinya ringisan kuda.
Aduh, aku harus bagaimana? Nyatanya memang aku tak mengerti.
"Berarti dari PT. Suplai Nova Scotia ini, hanya sekitar ratusan juta saja ya Kak?" mamah Dinda fokus pada teler lagi.
"Ya, bahkan tidak sampai seratus juta. Itu pun, hanya beberapa bulan di awal. Setelahnya, rutin transfer dana dari bapak ini. Penarikan pun, tidak sampai seratus juta. Jika dilihat lebih jeli, tabungan ini hanya peralihan dana dari bapak Nalendra saja." jelas teler tersebut dengan bolpoinnya.
"Dulu, Lendra jatah kau berapa sebulan?" tanya mamah Dinda dengan menyenggol lenganku.
"Sepuluh juta, Mah." jawabku cepat.
"Kalau Saya minta buat dua rekening lagi, bisa Kak? Saya minta, dana dari PT. Suplai Nova Scotia dan sepuluh juta rutin dari Nalendra dipindahkan ke atas nama Canda. Nah, lalu bukakan satu rekening lagi atas nama Canda juga. Tapi, sumber dananya dari bapak Nalendra ini."
Teler muda tersebut mengangguk, "Dipisahkan begitu ya, Ibu? Berarti dana yang cukup besar ini ya?"
Mamah Dinda segera memberi anggukan.
"Baik, Saya mengerti. Saya permisi dahulu, silahkan ditunggu." ia berlalu pergi, mungkin akan membuatkan dua rekening untukku lagi.
"Rumit betul hidup kau, Canda. Lain kali, jangan cari yang model Lendra. Licik, cerdik, penuh misteri, film Indosiar kalah." ujar mamah Dinda, dengan menggosok pelipisnya.
"Mah... Uang yang besar itu buat apa, Mah?" aku memperhatikan sekeliling Bank ini.
"Simpan aja. Buat nanti kalau Lendra datang, mana tau dia minta uang, karena tak bisa gugat dari tabungan lama kau."
"Oh iya, Mah. Cairin deposit aku juga." aku mengeluarkan tanda bukti itu.
"Bank yang sama kah?"
"Ya, Mah."
Mamah Dinda mengambil alih kertas tersebut, lalu membacanya.
"Coba ya, Mamah tanyakan dulu." mamah Dinda segera bangkit, lalu berlalu pergi.
Semoga, dengan uang deposit itu aku mampu membuka usaha dan mengisi ruko dengan furnitur. Aku tidak yakin, bang Daeng tidak mengambil kembali uangnya.
Itu adalah kerja kerasnya. Mimpinya dan segala tabungannya, mungkin ada di sini. Pasti ia punya rencana, dengan uang yang mencapai miliaran tersebut.
__ADS_1
...****************...
Apa sih kang diluru ang Lendra kuh? 🙄 Duit milyaran, Masya Allah 😳