
"Masya Allah...." aku langsung excited, melihat bayi yang berada di gendongan mas Givan pagi ini.
"Belajar miring ya? Nanti biar bisa nyusuin juga. Bayinya berat, kau tak boleh angkat dia." mas Givan berjalan ke arahku.
Aku mengangguk mengiyakan. Aku pun mau menyusuinya, aku suka sekali momen menyusui anak meski membuat pinggang sakit.
Mas Givan duduk di kursi yang berada di dekat brankar, aku pun menoleh ke arah bayi yang berada di dekapannya.
"Loh?" aku langsung kaget melihat wajah bayi itu.
"Alhamdulillah, perempuan bernasab. Sehat, tidak ada kelainan apapun." mas Givan sedikit mencondongkan bayi ini padaku.
"Alhamdulillah." jemarinya mengusap-usap pipi bayi yang diberikan mas Givan dalam mimpiku itu.
Bayi perempuan yang mirip sepertiku. Matanya, hidungnya, mulutnya, bentuk wajahnya, begitu dominan diriku.
Mata bayi itu pun terbuka, ia memandang kosong ruangan ini. Umumnya mata bayi yang belum bisa melihat, ia melongo tak jelas di objek acak.
"Mau cium, Mas." aku mengusap kain yang menghangatkan tubuh bayiku.
Mas Givan langsung mencondongkan bayi itu ke wajahku. Wanginya khas minyak telon. Aku langsung mendaratkan kecupan kecil di pipi gembul ini.
"Gemes, Mas. Pengen aku gini-ginikan." aku mengisyaratkan tanganku yang seperti mengacak-acak rambut di kepala bayi ini.
"Ish.... Anak Gue ini." mas Givan mengeratkan bayi itu dalam dekapannya.
Mas Givan menciumi wajah bayiku ini. Ia memandang anak kami terus menerus, kemudian mengadu pipinya.
"Siapa ya namanya?" mas Givan masih mengangumi rupa anak kami.
"Caera."
Aku dan mas Givan langsung menoleh ke arah pintu. Gerombolan manusia di sana sudah melempar senyum.
"Cuci tangan dulu! Jangan toel-toel Canda atau anak aku, kalau belum cuci tangan dan muka."
Senyum mereka lenyap seketika, kala aturan itu mas Givan cetuskan.
"Iya, iya." mereka semua langsung mengantri ke kamar mandi ruangan.
Ada papah Adi, Kinasya, Ghifar, Giska dan Zuhdi. Tentu Giska dengan Fandi, Kin pun membawa Kaf. Kal dan Hadi yang tidak ikut mereka. Entah mereka dititipkan pada siapa.
"Caera Ayandi, Mas." ucapku, mengusulkan nama untuk bayi kami.
"Masa kakaknya Ayanda, adiknya Ayandi? Janganlah." mas Givan membenahi selimut anak kami.
"Nazua bagus, Bang."
Aku memalingkan wajahnya, ke arah laki-laki yang mengusulkan nama itu.
Ghifar.
"Nazwa? Apa Nazua?" mas Givan memperhatikan orang-orang yang baru keluar dari kamar itu.
"Nazua, Bang. Nazua, artinya bersemangat." Ghifar langsung menyusun barang-barang, yang tadi diletakan di atas sofa.
"Caera Nazua, bagus tuh. Perempuan kan?" papah Adi berjalan ke arah brankarku.
__ADS_1
Aku langsung mengulurkan tangan, untuk mencium tangan papah Adi.
"Gimana kabarnya, Dek?" papah Adi mengusap kepalaku sekilas.
"Mendingan, Pah." aku menyunggingkan senyum manis.
"Apa artinya?" mas Givan memberikan bayiku pada Kin.
Mas Givan tetap saja, tidak kuat menggendong lama. Entah, sekarang karena menghormati tamunya untuk melihat anaknya.
"Teman yang bersemangat, berenergik." papah Adi menunjukkan oto biceps yang sebesar telur puyuh itu.
"Okelah." mas Givan berjalan ke arah Ghifar yang tengah menyusun makanan.
Aku tahu ia kelaparan. Ria disuruh mas Givan, tapi begitu lama bergerak. Bahkan, Ria tadi baru saja keluar. Mas Givan marah-marah saja sejak tadi pada Ria.
"Caera Nazua binti Ananda Givan. Anak Yayah Ipan yang paling cantik." seru mas Givan dengan penuh bangga.
Kami semua terkekeh geli, mendengar ucapan senang dari mas Givan itu.
"Kakak Ipar, tengok anak kau makan tangan aja." Kinasya membawa Caera dekat denganku.
Aku tidak sabar ingin mengurusnya.
"Dipanggilnya siapa, Bang?" tanya Giska, yang membantu kakaknya untuk makan itu.
Sedang Fandi bersama Kaf di atas spring bed single, dengan dijaga oleh Zuhdi.
"Ra aja deh. Mikheyla Alreen Rizhani aja, jadinya Key. Chandra Andiyana, tetap abang juga dipanggilnya. Zio Pasha Putra, tetaplah Zio aja. Ceysa Ayanda Mamonto, jadi Ces. Yang simpel aja, biar ingat terus pas tua." mas Givan melahap bola-bola bakso itu.
"Mas, aku yang pengen." aku merengek dengan memperhatikannya dari jauh.
"Rasa daging betul ini, Kin?" mas Givan mengambil mangkuk styrofoam, lalu menyendokkannya ke dalam sini.
"Nih aku buatkan. Spesial, pentolnya dua, guede-guede, miene wuakeh."
Namun, para laki-laki malah terbahak-bahak.
"Punya kau itu." Ghifar menepuk bahu kakaknya.
"Ishhhh.... Aku tak pelihara ilalang. Glowing dong." aku sepertinya mengerti itu apa.
Yang ditertawakan, malah lanjut mencampurkan perlengkapan bakso itu. Mas Givan cuek saja, dengan suara gelak tawa itu.
"Tak ada kecap ya, Kin?" bau kuah bakso begitu menyeruak.
"Tak ada, Bang. Saos, kecap, tak ada bawa. Bawa sambal aja aku, Bang. Tapi Kakak Ipar jangan dikasih sambal, Bang." Kinasya berjalan ke arah jejeran makanan itu.
"Iyalah. Daripada makan sambal, mending aku suruh dia kelaparan aja." sahut mas Givan, dengan melanjutkan aktivitasnya.
"Uweeeee......."
Begitu kah suara tangis anakku?
Mentang-mentang tubuhnya besar, tangisnya pun begitu nyaring.
"Gimana ini, Bang? Kok langsung kaku aja nangisnya." aku bisa melihat Kinasya yang panik. Mas Givan pun, memberikan mangkuk styrofoam pada Ghifar.
__ADS_1
Ia mendekati anaknya, kemudian ia mengambil alih dari Kinasya.
"Kenapa, Ra? Ini Yayah nih. Yayah Ipan, ayahnya Caera." mas Givan menoel-noel pipi anak tersebut, dengan berjalan ke arahku.
"Bikin sufor, Mas." aku pun panik, karena wajah bayiku sampai memerah karena tangis lepasnya.
"Nanti perawat antar. Mau bantuin kau, buat ASI perdana juga. Tapi Ra terlanjur nangis nih? Aduh, gimana ini?" mas Givan malah mondar-mandir dengan bayi kami.
"Coba Papah gendong. Kau datangi lagi perawatannya. Mau dikasih sufor kah, atau ASI Canda." papah Adi mengambil alih bayi kami.
"Awas tuh, Papah kan doyok sekarang."
"Doyok juga Gue laki-laki. Sembarangan Anda ini." ketus papah Adi, dengan sedikit meninggikan kepala Ra ketimbang tubuhnya.
Namun, terlihat aman.
Beda memang, jika tangan yang sering menggendong anak.
"Bentar." mas Givan berlari kecil keluar dari ruangan ini.
"Ueeeee....." tangisnya mulai pelan. Sayangnya, tangan kecilnya menyumpal mulutnya sendiri.
Aduh, Ra. Ada-ada saja kau ini.
"Sabar, Nak. Ayah kau lagi nanya perawat dulu, takut salah bertindak." papah Adi mencium pipi Caera.
Untungnya, para laki-laki di sini sudah tidak ada yang merokok. Aku teringat bang Daeng yang masih merokok.
Mas Givan muncul di belakang perawat yang datang dengan beberapa alat di nampannya.
"Maaf ya? Udah minum pelancar ASI?" perawat tersebut membuka kancing teratas baju pasien ini.
"Bentar, bentar." mas Givan menutupku dari sebelah kanan, karena keluarga ada di sisi bagian sana.
"Oh iya, maaf ya Pak?" mungkin perawat tersebut menyadari kekeliruannya.
Setelah diberikan gel dan diusap dengan kain kasa yang dingin. Anakku langsung diletakkan dalam posisi tengkurap di atas dadaku.
Mulutnya langsung bekerja dengan kuat. Tetapi tidak lama kemudian, ia melepehkan dan menangis kembali.
"Ish, ngamuknya serem." perawat tersebut menggendong anakku.
Karena Caera meronta, dengan menendang tak tentu arah. Aku khawatir, tendangan kakinya mengenai jahitan di bagian perut bawahku.
Mas Givan membenahi pakaianku, "Udah kenal dot, jadi tak sabar dia ASI yang masih mampet." mas Givan menyelimuti tubuhku, setelah selesai merapihkan kancing teratas baju ini.
"Sebentar ya, Pak? Saya bawa bayinya ke ruangan bayi dulu. Dari kemarin, memang bayi Bapak udah heboh aja di sana. Biar Saya buatkan sufor dulu di sana. Silahkan Bapak sarapan aja dulu, biar Saya urus dulu." perawat tersebut membenahi kain yang merosot dari tubuh Ra.
"Belum urus admistrasi bayi Bapak kan?" perawat tersebut memandang mas Givan.
Mas Givan menggeleng, "Belum, katanya jam sembilan aja. Kata perawat yang tunggu di ruangan bayi itu." mas Givan mengusap keringatnya yang seperti habis aerobik.
"Oke, Pak. Silahkan diurus setelah sarapan aja, Pak. Saya permisi dulu ya? Nanti bayinya Saya antar ke sini lagi." perawat tersebut tersenyum ramah dengan undur diri bersama tangis Ra.
Aku jadi memikirkan, bagaimana caranya memenangkan Caera ketika menangis? Perawat saja, sampai lari ke perawat ruangan bayi. Karena tidak bisa menenangkan Ra, atau membuat Ra sabar dengan ASI mampet ini.
Sepertinya, anak itu beda dengan anak-anakku yang lain.
__ADS_1
...****************...