
"Gak ada, Mbak." Ria memutus pandangan kami.
"Bilang aja, Ria! Mbak tak mungkin lapor ke ibu. Kalau kau malah bungkam, Mbak bilang sekalian ke abang ipar kau, biar kau tak dikasih jatah uang jajan." aku ingin Ria buka suara, meski sepertinya caraku salah.
"Aku pengen nikah aja."
Hah?
Aku ternganga bodoh di sini.
"Biar apa? Kau masih kecil." aku memperhatikannya dari atas sampai lututnya.
Karena Ria bersila.
"Kecil apanya? Aku udah mau sembilan belas tahun." Ria merentangkan tangannya.
"Kok bisa udah gadis aja?" aku menahan tawaku.
"Ah, Mbak." Ria menutupi wajahnya malu.
Ya ampun, adikku sudah ingin menikah.
"Apa motifasi kau pengen nikah?" aku harus tahu alasannya, sebelum menghakimi atau menuduhnya.
"Biar bisa terus-terusan sama Arman." Ria tersenyum lebar, sampai matanya hilang.
Jadi laki-lakinya namanya Arman?
Ini adalah pemikiran orang yang tengah dimabuk cinta. Aku berpikir seperti ini, saat mabuk Ghifar dulu. Sekalipun keluar zona amanku di pesantren, aku lakukan hanya agar bisa menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Ghifar.
Aku dulu teramat ingin menikah, karena ingin memiliki banyak waktu bersama dengan laki-laki yang aku cintai.
Ria, sekarang berada di posisiku dulu.
"Jangan bodoh, Ria. Mbak pernah ada di posisi kau dulu." suaraku menurun.
__ADS_1
Karena aku malah teringat tragedi perampasan itu. Salahku, terlalu mengejar Ghifar. Membuatku, malah berada di posisi kehancuran.
"Kok bodoh sih, Mbak? Kan biar gak berzina. Toh, Arman pun udah kerja."
Bahkan dulu Ghifar pengangguran, aku nekat mencintainya.
"Memang udah berzina?" aku ingin mengecohnya.
Ria menggigit ujung bantal, "Ya itu, yang kita takutkan. Arman anak mu'azzin, masa iya bikin aib? Duh, aku tuh gemes betul sama Mbak." giginya sampai begitu erat menggigit bantal itu.
Aku jadi tertawa karenanya.
"Arman kerja apa?" tanyaku dengan masih mengamati wajahnya.
"Kurir paket, Ashiappppp......"
Aku tertawa lepas, mendengar jawaban dan ekspresi kocaknya.
"Alasan kau, cuma pengen selalu sama Arman aja? Tapi kau tak pikirkan, gimana resikonya nanti setelah punya anak. Atau, di mana kau tak punya beras dan tak bisa bayar listrik." aku memberi gambaran, saat aku krisis ekonomi dulu.
Suamiku dulu pun bekerja. Hanya saja, mengatur keuangan itu sulit. Apalagi, ada ego yang harus ditekan. Dulu aku selalu stok skincare, saat masa krisis ekonomi itu, aku bahkan tak mampu membeli cuci muka atau deodorant.
"Misal gajinya dua juta, dikasihkan semua ke kau. Beli beras, dua ratus lima puluh. Gula, teh garam, penyedap dan bumbu dapur lainnya, dibikin seratus ribu untuk sebulan. Minyak lima liter, kita buat seratus ribu juga. Belum token listrik, apalagi yang pakai ledeng. Belum jatah rokok, itu harus untuk laki-laki. Uang bensin dan pegangan, barangkali ban bocor atau tambah angin. Belum lagi sabun mandi, shampo sama odol. Gas belum dihitung, lampu rumah barangkali mati. Belum kebutuhan mendesak lainnya dan belanja sayur tiap hari. Kau bakal kaget, masa kebutuhan kau malah dipangkas karena uang tak cukup. Ini Mbak ngomong ke ekonomi aja dulu, karena itu yang paling mudah gambarannya." aku mengatur nafasku, karena ngos-ngosan berbicara cepat dan panjang.
"Belum lagi kalau suami kau model mas Givan. Apa tak kaku hati? Dari tahun-tahun awal pernikahan, Mbak bahkan sering minta cerai. Karena apa coba? Karena kaget dengan sikap dan sifat aslinya mas Givan." ini yang menjadi ujian terberatku dulu.
Tapi tentang sifat pasangan. Kita tidak bisa menjelaskan secara rinci, apalagi berbagi pengalaman seperti ini. Karena mereka tidak akan percaya, sebelum merasakan sendiri.
"Maksudnya gimana, Mbak?" aku bisa melihat kebingungan pada wajahnya.
"Sifatnya sekarang, itu belum tentu sifat aslinya dia. Lebih baik, kau pikirkan dulu. Karena menikah itu, bukan cuma tentang kau dan dia. Apalagi, misal mertua kau tukang recok. Apa-apa ikut campur, apa-apa pengen tau." umumnya seperti ini.
Kadangkala mertua pengertian, orang tua kita yang ikut campur.
"Apa betul, Mbak?" Ria seperti tengah menerawang jauh. Pasti ia tengah mengingat waktu yang sudah mereka lewati berdua.
__ADS_1
"Coba nanti Arman itu suruh ke sini. Mbak pengen kenal, juga pengen tau gimana dia." aku ingin tahu, mengenai pilihan hati adikku.
"Gak boleh sama ibu, makanya aku ketemu di jalan terus. Sama ibu gak boleh pacaran, gak boleh sama laki-laki dulu."
Huft, susah kalau begini.
"Ya udah, nanti gampang Mbak ngomong sama ibu." aku ingin sedikit memberi penjelasan pada ibu.
Daripada Ria nekat bertemu di jalan-jalan seperti itu, lebih baik ibu mengizinkan Arman itu untuk bertamu. Atau memberi waktu untuk mereka mengobrol berdua di rumah. Rumah lebih aman, juga kita bisa menjaga Ria. Daripada, harus di jalan-jalan seperti itu. Karena kita tidak tahu, apa yang laki-laki itu lakukan di jalan yang sepi.
Dulu atas nama cinta, aku rela menyerahkan diriku pada Ghifar. Hanya saja, Ghifar yang menolak. Bukan menolak juga sih. Tapi saat itu ia mengatakan, ia ingin keluar di dalam. Sedangkan, konsekuensinya aku bisa hamil. Ghifar belum bisa mengemban tanggung jawab sebagai ayah saat itu, karena ia belum bekerja.
"Jangan, Mbak. Nanti aku dimarahin ibu." Ria sampai menggoyangkan lenganku.
Aku membuang nafasku perlahan, "Nanti biar Mbak yang ngomong ke mas Givan. Biar mas Givan yang mikirin kau nanti." hanya suamiku yang menjadi tempat keluh kesahku perihal masalah keluarga inti.
"Bang Givan tuh tukang ngamuk. Nanti gimana kalau Arman diamuk? Apa-apa, udah main dorong-dorong aja. Suaranya udah menggelar aja." Ria terlihat murung.
"Nah, kau liat abang ipar kau aja begitu kan? Sifat yang Mbak kenal dulu, dia tak begitu. Apalagi, pas Mbak masih pacaran sama Ghifar. Mas Givan tuh kek yang iya ramah, enak diajak ngobrol. Kalau Ghifar sibuk nyuci baju atau apa gitu, mas Givan yang nemenin Mbak ngobrol di ruang tamu. Ya meski obrolannya, kek buka aib Ghifar gitu." aku teringat sebelum kejadian itu, di mana aku sering berkunjung ke rumah yang Ghifar tempati dulu.
"Arman sekarang, belum tentu Arman yang sama setelah nikah setahun sama kau." tambahku, karena Ria malah melamun.
Ia menghela nafasnya, matanya melirik ke arahku.
"Aku bingung, Mbak. Aku bosen dengan aktivitas, aku tak punya kegiatan. Jualan pop ice, ramai di awal aja. Aku udah males jualan, capek tuh Mbak. Keknya, kalau aku punya kerjaan yang nyita waktu. Mungkin aku tak kepengen nikah aja, karena tak selalu nungguin chatnya si Arman aja." Ria berpangku dagu.
Aku teringat ucapan mas Givan, yang berencana membawa Ria ke Kalimantan.
"Nanti nunggu kabar dari mas Givan ya? Untuk sekarang, bantu ibu aja dulu. Jaga toko, berbenah di rumah. Nanti Mbak sampaikan ke mas Givan kok."
Ria hanya merespon mengangguk. Kemudian, aku membuka percakapan perihal anak-anak bersama pengasuhnya.
Sampai tidak terasa, papah Adi sudah kembali setelah tiga hari pencarian istrinya. Sayangnya.....
...****************...
__ADS_1