
"Mas...." aku menghampirinya, yang baru saja menaruh gelas kosong di nakas.
Sekarang masih subuh, mas Givan baru terbangun. Ceysa pun, masih pulas di depan kepala ranjang. Posisi tidurnya berputar, membuatnya tidur di atas kepala kami. Entah bagaimana caranya berpindah. Padahal, tadinya ia berada di tengah-tengah kami yang mengapit posisi tidurnya.
"Kenapa, Canda? Mual lagi kah?" mas Givan masih menguap dan mengucek matanya.
Aku lekas duduk di sampingnya. Bagaimana caranya aku mulai untuk berbicara?
"Kau abis testpack?" mas Givan menunjuk tanganku.
Aku langsung mengikuti arah pandangannya. Yaitu strip yang memiliki hasil membagongkan ini.
"Ya, Mas." aku masih menyusun kalimat.
"Terus?" mas Givan memandangku.
"Mas, rencananya aku mau minum pil KB setelah haid. Tapi, malah begini." aku menaruh strip itu di atas pahanya.
Mas Givan langsung mengambil alih. Diam tidak bersuara, hanya helaan nafas yang terulang beberapa kali.
"Yaaaa.... Mau gimana lagi?" mas Givan mengedikan bahunya.
Namun, tiba-tiba ia merangkulku dan langsung menciumi pipiku.
"Alhamdulillah, adiknya Ces lahir nanti banyak yang ngasih hadiah. Rejeki datang sendiri, dikasih kepercayaan cepat." ia mengusap-usap lenganku.
"Makasih ya? Udah bikin Gue tambah mumet."
Aku tidak bisa menahan tawaku, mendengar ucapannya yang dari hati itu.
"Mas kok ngomong gitu?" aku melepaskan rangkulannya, lalu menepuk pahanya.
Mas Givan tertawa kecil, "Aku udah bilang, set alarm. Tak pernah aku dengar alarm di HP kau bunyi. Notifikasi Shopee, shopee, shopee melulu yang bunyi. Tak ada tuh, suara alarm sekalipun." ia melirikku dengan senyum tertahan, "Kalau kau pacarku, udah kau bawa kau ke tukang aborsi. Sayang aja, ini istri. Anak beruntung, ikut nashab Yayah lagi dong." mas Givan mengusap-usap perut datarku, "Alhamdulillah." lanjutnya dengan kembali memandangku.
Ya Allah, untung aku dinikahinya kemarin. Bagaimana nasibku, jika aku hanya dipacarinya saja seperti Putri? Sepertinya, aku akan bolak-balik tukang aborsi setiap tahunnya.
"Mas.... Sebenarnya, dari awal aku lupa bawa pil waktu liburan ke Sabang."
Detik itu juga, mas Givan menghempaskan tanganku.
"Tak mau aku ngomong sama kau seharian ini." ia ngeloyor pergi ke kamar mandi dengan urat kecutnya.
__ADS_1
Aku tersenyum lebar, kemudian langsung menghampirinya.
"Maaf, Sayang. Lupa, Mas. Tapi janji setelah lahiran yang ini, gak gitu-gitu lagi deh." aku mengikutinya ke kamar mandi.
"Mas, jangan marah dong." aku memperhatikannya yang tengah mengambil wudhu.
Sebelum mandi besar, harus memiliki berwudhu ya BESTie.
"Tak marah, kalau diulang lagi yang semalam di bawah shower." ia bahkan tidak melirikku.
"Ok, siap laksanakan." aku langsung melepaskan baju handukku.
Siapa takut.
~
Tidak terasa, kini aku baru selesai mengadakan syukuran empat bulanan di rantau orang. Tanpa ibu, mamah Dinda, ataupun keluarga inti lainnya.
Hanya dari keluarga dari ayahnya mas Givan saja. Itu pun, terasa asing untukku.
Papah Hendra dan umi Syura, sampai datang dari Majalengka hanya untuk menghadiri acara empat bulanan calon cucunya yang sekian. Awalnya papah Hendra menolak, sampai akhirnya mas Givan mengatakan bahwa dirinya ada di Kalimantan.
Keluarga dari Aceh pun enggan datang, karena ada keluarga dari ayahnya mas Givan ini. Terutama mamah Dinda, beliau tidak mendapat izin dari papah Adi untuk berkumpul bersama mantan suaminya.
Mahadevan menduda, dengan dua anak yang dibawa mantan istrinya. Setelah Mahadevan, ada Maheswara, ia memiliki dua orang istri yang dua-duanya memakai niqob. Subhanallah sekali, luar biasa. Aku salut dengan Nia dan Ida ini, mereka rukun dengan kelima anaknya yang memiliki nama Sansekerta lagi. Sungguh aku kesulitan menghafal nama yang begitu mirip-mirip.
Yang terakhir ada Mavendra, aku teringat dengan Nalendra jika melihatnya. Tinggi, kurus, tatoan, diam dengan sorot mata tajam. Ditambah lagi, ia adalah perantau di Makassar. Sudah, amat persis lah. Minus dia ada istri saja, istrinya bernama Widya. Anaknya pun ada dua, bernama Sanum dan Kayla.
Mavendra adalah seorang Intel Core i7. Eh, bukanlah, dia bukan prosesor gaming. Dia Intel, seperti bapak polisi preman itu. Buser lah biasa ramai kita menyebutnya.
Ia bertugas di sana, dengan anak istrinya yang berada di Kalimantan. Hebatnya lagi, si Mavendra ini setiap dua minggu sekali bisa pulang. Kosong tugas pun, ia sempat untuk pulang. Masalahnya ia tidak bisa memboyong si Widya ini, karena Widya anak kepala suku di Kalimantan. Kurang mengerti juga, tapi katanya memang tidak diizinkan untuk membawa Widya keluar dari Kalimantan.
Mas Givan dan Dhava adalah mantan napi, adik bungsunya malah yang menjadi polisi.
"A.... Ini lah." Dhava mengulur kantong plastik pada mas Givan.
Oh, jadi mas Givan dipanggil aa?
Kenapa di Aceh ia jadi Abang?
Padaku berubah menjadi mas.
__ADS_1
Lucu juga.
"Aku pindahkan ya kepala kau ke siku?!" mas Givan sampai melotot-melotot pada adik pertamanya itu.
Papah Hendra tertawa geli, "Tinggal diterima aja." papah Hendra menepuk pundak mas Givan.
"Iya nih, si Abang. Tinggal ambil, terus sana taruh di dapur." umi Syura yang malah mengambil alih pemberian dari Dhava itu.
Umi Syura juga memakai niqob. Tapi aku sudah melihat wajahnya, karena beliau sudah menginap semalam di sini. Ia manis, terlihat alim. Tidak seperti mamah Dinda. Ya kita sama-sama tahu, bahwa wajah mamah Dinda tidak ramah. Alias judes, tetapi memang galak juga.
Eh, maksudnya baik. Baik, cantik, Korea Turki lah. Pandai juga, tapi memang ucapannya tidak ramah seperti anak sulungnya. Siapa lagi, kalau bukan Ananda Givan ini.
"Aku tau ya, itu belut. Jangan sampai aku lepaskan belut itu dalam mobil kau, Dav! Lagian apa kau ini, aa-aa! Kata siapa coba?! Dari kecil udah diajarkan, panggil aku abang. Latah betul, aa lagi." mas Givan berbicara sangat cepat.
Jadi mas Givan takut dengan belut? Pantas saja, sekian lama bersamanya. Mas Givan tidak pernah terlihat atau request minta dimasakin belut.
"Iya, Bang."
"Umi dari Sunda, Bang. Wajar lah aa, apalagi Dhava besar di daerah Sunda." jelas umi Syura.
Aku tahu daerah Majalengka itu.
"Tolong jangan ingatkan! Tak mau lagi denger di panggil aa, trauma aku. Rasanya mau adu jotos aja." mas Givan sudah terlihat bad mood.
Sebesar apa masalahnya dengan Ai Diah dulu? Sekelam apa masa lalunya dengan Ai Diah dulu? Sampai-sampai, mas Givan begitu trauma dengan apapun yang menyangkut tentang Ai Diah.
Ya, contohnya daerah Sunda itu. Karena Ai Diah berasal dari Majalengka juga kalau tidak salah.
Rasanya, aku ingin banyak bertanya pada mas Givan.
"Ayo Canda, tidur! Biarin mereka yang beres-beres." mas Givan melirik sinis Dhava.
"Duh, Bos tambang. Ya udah sana kelon!" sahut Dhava membuat kami ditertawakan.
Namun, mas cuek saja merangkulku menuju ke kamar.
"Mas.... Aku pengen banyak ngobrol. Boleh tak?" ucapku setelah melepaskan hijabku, begitu sampai di dalam kamar.
"Boleh. Ngobrol apa?" mas Givan membawa Ceysa ke tengah ranjang.
...****************...
__ADS_1
Dikupas satu persatu 🧐 semoga saja ☺️