
"Tapi, kalau kosmetik itu. Abang milih yang laris aja. Kek bedak cair, sama masker-masker topeng gitu nah."
"Kok bisa?" tanyaku kemudian.
"Iya, perusahaan sih mintanya campur. Karena mereka susah masukin produknya ke Indonesia, mana kan izinnya ini susah. Tapi Abang juga mikirnya gini, produk dengan bungkus semewah ini, terbuat dari apa gitu, bisa sampai jual murah gini, apa gak rugi. Mereka jual per delapan puluh delapan biji bedak cair, sekitar empat dolar aja. Kalau dirupiahkan, cuma sekitar lima puluh delapan ribu aja. Heran kan? Abang juga sama."
Aku memikirkan bedak cair yang dimaksud. Pasti yang bang Daeng maksud, adalah sejenis cushion. Karena, aku pun memiliki beberapa koleksi berbagai merek.
"Y.O.U bukan? Pixy bukan? Leneige bukan?" aku sudah was-was.
Ia terkekeh geli, "Bukan, Bondeng. Ada lah, biar jadi rahasia Abang aja. Itu sih punya Adek, mereka punya merek semua."
"Kok tau sih?" aku menutup mulutku karena tertawa lepas.
"Tau lah, Leneige Abang yang pilihkan. Pixy itu, pertama kali Adek beli make up. Mana sampai berisik betul, masuk gak ya warnanya. Nomor berapa ya kira-kira, cocok gak ya sama muka aku." bang Daeng menirukan suara perempuan.
Tawaku pecah, dengan menepuk lengannya beberapa kali.
"Terus, yang Y.O.U itu beli pas pulang treatment laser wajah itu." lanjutnya kemudian.
"Abang tau itu cushion, si bedak cair yang Abang maksud tadi?"
"Tau lah, kan ada tulisannya. Abang hapal, yang namanya cushion itu. Soalnya, itu salah satu produk yang jadi superstar Abang dulu."
Aku manggut-manggut mengerti. Ternyata suamiku, adalah salah satu manusia yang merusak kesehatan kulit wanita yang tidak mengerti kosmetik. Ya, tentunya konsumen barang abal-abal tersebut para wanita Indonesia.
"Tapi tuh, Dek. Yang bikin wajah rusak itu, bukan kosmetik dari luar. Tapi kosmetik yang dipalsukan. Contohnya brand Viva, salah satu produk dijual dua puluh ribu. Nah, terus ada oknum yang memalsukan. Mereka jual sepuluh ribuan, tapi jelas barangnya beracun. Kosmetik dari luar yang harga murah itu, biasanya komposisi produknya kurang baik, tapi biasanya aman, karena mereka pasarkan juga di negaranya. Beda lagi kalau zat aktif apa tuh. Aslinya itu obat di negara lain, tapi di Indonesia malah dijadikan kosmetik."
Benarkah seperti itu?
"Memang begitu?" tanyaku kemudian.
Ia mengangguk, lalu menelan makanannya.
"Ya, Dek. Abang punya janji sama Zuhdi, jadi langsung ke Zuhdi begitu balik kerja."
Pasti ini untuk membahas masalah bangunan untuk kami.
__ADS_1
"Surat tanah dan bangunan, atas nama Chandra. Nenek kasih buat cucunya ternyata." tambah bang Daeng kemudian.
Aku memperhatikannya kembali, "Memang, Bang. Mamah udah pernah bilang."
"Hmmm...." aku ragu untuk melanjutkan ucapanku.
"Aku COD beberapa barang."
Ia langsung berhenti mengunyah, pandangannya begitu kaget.
"Kurang kah uangnya? Uang bayaran dari Ghavi itu kan, yang dipakai ke dokter sama belanja itu. Gak ada uang lagi Abang. Ini cuma ada lima puluh, buat pegangan Abang." ia merogoh semua sakunya.
"Uang sih banyak aku, Bang. Cuma Abang marah gak?" aku menundukkan kepalaku.
Ia menarik daguku, "Selagi ada manfaat dan fungsinya, ya tak apa. Pikirkan juga biaya kita satu bulan mendatang. Karena Abang udah gak punya uang ajaib lagi. Cuma bayaran dari papah Adi sama Ghavi aja." ujarnya dengan tersenyum menenangkan.
"Ya, Bang. Udah aku pikirkan, aku pun nyetok bahan makanan." aku bahagia dengan responnya yang seperti ini.
Ia lanjut memakan sarapannya, "Memang Adek belanja apa?" ia fokus pada makanannya sejenak, lalu menatapku kembali.
"Aku beli beberapa lemari plastik portabel. Yang empat kotak, sekitar seratus lima puluh ribu. Aku pesen yang ada karakter, maupun yang polos. Rencana sih, buat penyimpanan apa atau apa gitu. Terus aku juga beli kek rak gantung, untuk display ruangan, rak-rak kecil buat di kamar mandi gitu. Total COD, sekitar satu juta setengah." terangku kemudian.
"Ya, Bang. Setelah ini aku mau cari kasur impian, sama beli lemari tas, lemari sepatu, lemari baju, di satu ruangan sebelum kamar mandi kamar tuh."
"Walk in closed."
Aku langsung mengangguk dengan tertawa malu. Bahkan, aku tidak tahu penyebutannya.
"Ada kok, dibuatkan. Kamar kita paling atas, lantai tiga. Kamar, walk in closed, ruang kerja, terus balkon luas, kek halaman untuk bersantai gitu. Di lantai dua, kamar ibu, Ria, Chandra, ruang bermain, ruang TV . Nah, di lantai bawah kan depannya toko. Di belakang ini ada space untuk terima tamu, dapur sama kamar mandi. Ada juga gudang, letaknya di bangunan bawah tangga. Ada pintunya."
Aku membayangkan saja, pasti itu terasa sempit sekali.
Tapi setidaknya itu lebih baik, dari pada tinggal bersama mantan pacar dan mantan suami. Karena aku sadar sekarang, bang Daeng memiliki rasa cemburu yang dominan.
"Abang siap-siap ya? Ada urusan dulu sama Ghavi, nanti jam delapan langsung ke ladang."
Aku mengangguk, lalu mencium tangannya. Bang Daeng pun langsung berlalu pergi.
__ADS_1
Aku masih berdiam diri. Rasanya begitu berat menaruh piring kotor dan gelas ini.
"Ehh, Dek. Ketinggalan." aku menoleh segera pada bang Daeng yang datang dengan senyum lebarnya.
Pasti ia akan mengambil piring kotor, lalu mencucinya. Katakanlah aku malas. Karena perut semakin terasa begah saja.
Namun, meleset.
Cup...
Kecupan ringan, mendarat di pucuk kepalaku.
Aku memandang bang Daeng tak percaya. Memang ini bukan pertama kalinya, tapi aku merasa heran saja.
"Tumben." ujarku dengan memandangnya.
"Iya, maaf ya? Udah marah-marah gak jelas tadi." ia masih berjongkok di hadapanku.
Aku memberinya anggukan samar, "Ya, Bang. Tak apa." itu bukan masalah besar untukku. Malahan, dengan adanya kejadian tadi. Aku jadi mengetahui profesi rahasia bang Daeng.
"Ya udah ya? Ghavi udah nunggu di depan." bang Daeng langsung bangkit dan berlalu pergi.
Aku berpikir lagi. Mengingat semua waktu yang sudah aku lewati bersama bang Daeng.
Pantas saja, ia terlihat begitu sibuk. Ternyata, pekerjaannya bukan hanya satu. Namun, yang membuatku lebih curiga adalah nilai uang yang ia dapat dari bisnis itu. Kemana perginya uang-uangnya?
Pasti ia menekuni bisnis itu sudah lumayan lama. Sampai-sampai, mamah Dinda mengendus informasi itu.
Sebagai seorang istri, aku malah khawatir ia memiliki wanita persinggahan lain. Mungkin hanya Putri yang terungkap, mungkin hanya Putri yang memiliki banyak jejak.
Bukan aku menuduh. Namun, pikiranku mengarah ke sana.
Bisa jadi ia mengikuti alur mamah Dinda, agar ia tetap menjadi suamiku. Bisa jadi juga, ia menyusun rencana lain di luar sana saat hubungan kami merenggang itu.
Aku berpikir demikian, karena ia memiliki banyak waktu bebas. Ia jauh dariku, ia jauh dari pengawasan istrinya.
...****************...
__ADS_1
🧐🧐🧐🧐🧐
Berapa banyak harus nyewa detektif 🤭