Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD27. Kejutan fatal


__ADS_3

Yang minta CRAZY UP nih 😊


Tanganku begitu dingin dan gemetar. Rupanya hari ini adalah hari bahagia seseorang, saat aku dalam keadaan begitu susah.


"Sok duluan." bang Dendi berjalan di belakang kami.


Aku dan kak Anisa berjalan beriringan, menuju ke pintu utama rumah ini.


Kendaraan beberapa keluarga besar, terpakir di halaman rumah ini. Belum lagi kain yang menutupi dinding, persisi seperti acara pernikahan. Menghiasi ruang tamu, rumah mertuaku.


"Saya terima....


Ya Allah... Aku mengenali suara ini.


Aku menutup mulutku, saat aku sampai di ambang pintu.


Aku belum diceraikan secara resmi. Namun, ia kini telah menikah lagi. Padahal aku baru beberapa hari meninggalkannya, berharap ia mencariku dan datang menjemputku.


Mas Givan tak melanjutkan ijab qabulnya, matanya fokus padaku yang tengah menggendong Chandra.


Rupanya wanita itu benar-benar ingin mengambil alih suami yang tak tau diri itu.


"Maaf ganggu." aku tersenyum ramah pada semua orang.


"Kak...." Tika berkaca-kaca memandang wajahku.


Aku tidak ingin menangis, meski mataku tak kuasa menahan rasa cengengku.


"Aku cuma mau ngambil dokumen aja." aku melangkah masuk, diikuti dengan kak Anisa yang mengekoriku.


Aku tak kuasa menahan semuanya, air mataku mengalir deras dengan tubuhku bergetar sepanjang langkah kakiku.


Ia sama sekali tidak menghargaiku.


Saat sampai di kamar yang penuh kelopak bunga ini, aku menoleh ke belakang dengan memberikan Chandra.


"Kak, tolong pegang Chandra sebentar. Aku mau ambil dokumen dulu."


Kak Anisa mengangguk, mengambil alih Chandra yang terlihat suka dengan suasana kamar romantis ini.


Bahkan seumur-umur aku menikah dengannya, aku tidak pernah mendapat keromantisan seperti ini.


"Canda..." panggilan ini membuatku berhenti dari aktivitasku mencari dokumenku.


Aku berbalik, dengan mengambil map yang berisikan dokumen tentang keluarga kecil kami.


Mas Givan menatapku begitu sedih.


Aku tidak boleh terhanyut raut wajahnya itu.


"Kita selesai kan, Mas?" aku mencoba tegar, mencoba terlihat kuat di depannya.


Mas Givan menggeleng, "Sabar sebentar, Canda. Tunggu sembilan bulan, kita bakal baik-baik lagi."


Apa itu tandanya Nadya mengandung?

__ADS_1


Sebelum ini Nadya bersuami, apa mas Givan tak berpikir Nadya mengandung anak suaminya?


"Aku udah lapang dada nerima Key. Cukup, Mas! Aku udah capek. Kalau memang Mas tak sudi buat proses cerai aku, biar aku yang proses nanti."


Aku bertekad, untuk mampu membiayai biaya perceraian kami nanti.


"Yah....." Chandra begitu girang, melihat panutannya itu.


"Sabar, Canda."


Bahkan ia tidak minta maaf sama sekali.


Aku segera memasukkan map ini. Seingatku, di map ini terdapat kartu keluarga, buku nikah, tabungan rekening kami, meski mungkin isinya nol rupiah. Di map ini juga, terdapat akte lahir Mikheyla dan juga Chandra.


Aku memang berniat membawa ini semuanya. Biar tahu rasa, mas Givan pasti kelabakan saat masanya Mikheyla bersekolah nanti.


Aku mendorongnya sedikit, agar aku bisa melewatinya. Aku bergegas membuka laci nakas sebelah kiri, untuk mengambil dompetku yang kosong melompong, tapi terdapat KTP, kartu sidik jari dan juga BPJS milikku.


Segera aku memasukkan dompet itu ke dalam tasku. Lalu aku menarik kak Anisa, untuk meninggalkan mas Givan yang masih berdiam diri di kamar ini.


Aku mencoba tidak peduli, dengan apa yang terjadi di rumah ini.


Aku sakit hati.


"Canda... Biar Chandra sama aku aja." aku kembali dicegah untuk pergi, dengan tarikan Ghifar.


"Far... Aku udah rapuh, cuma Chandra semangat aku. Biar aku bisa tangguh, bisa kuat lagi dengan adanya Chandra sama aku."


Aku tak punya apa-apa lagi, selain Chandra anakku.


"Yang kasian sama Key, Kak."


Apa maksudnya?


Aku kembali menoleh pada Ghifar, "Kau janji buat urus Key, Far?"


Ghifar langsung mengangguk, "Maksud Ghavi, kasian Key kalau dapat ibu baru macam kaktus itu. Kukunya aja tajam-tajam, sekali ngusap-ngusap punggung Key, udah cakaran semua."


Oh, seperti itu. Sampai Ghifar mengatai bahwa Nadya seperti kaktus.


"Yang kasian sama aku, Kak. Bang Ghavi kerja aja, aku sendirian ngurus anak. Tak ada yang gantiin aku ngurus anak, mau makan pun susah sangat." Tika merengek dengan menggenggam tanganku.


Aku paham, ini hanya strategi Tika saja. Di sini banyak orang. Jika tidak ada aku, banyak saudara yang lain, yang mau menggantikan Tika sementara.


"Pergi aja, Kak. Bawa ini." Winda memberikan amplop padaku.


"Win!" bahu Winda ditarik oleh Ghava.


"Karena laki-laki tak akan paham, kalau tak ditinggal pergi. Biar macam kau, tau rasa sendiri." Winda mendelik tajam pada suaminya.


Jelas ia berpengalaman tentang perpisahan. Winda pernah merasakan perpisahan dengan Ghava. Namun, pada akhirnya mereka bersatu kembali.


"Kita udah sepakat buat bujuk kak Canda. Bukan malah nyuruh pergi." Ghava terlihat kesal pada Winda.


"Aku tak setuju. Dari awal kan aku udah ada kata itu, Bang." mereka malah beradu argumen.

__ADS_1


"Ayo, Kak." aku menarik lengan kak Anisa, yang masih menggendong Chandra.


Aku berjalan beberapa langkah, tetapi dicegah kembali oleh Giska.


"Kak..." matanya sudah basah, aku tahu ia tidak sedang pura-pura menangis.


"Aku ngidam parah. Kak Kin suka marahin aku, suruh makan, ini itu, suruh gerak. Bang Adi suka repot ngurus ladang, karena dia belum ngerti. Aku tak terurus, Kak. Temenin aku di sini. Kakak ipar aku galak-galak" kenapa di akhir kalimatnya ada dusta?


Sama sekali tidak ada yang galak, kecuali Kinasya. Kinasya adalah cerminan mamah Dinda dalam bentuk nyata. Ia jantung rumah ini, sejak mamah Dinda memutuskan untuk pindah.


"Ck... Kasian betul, cuma pakai daster." aku menoleh ke sumber suara.


Namun, ada yang tertawa sumbang dari sebelah tempatku berdiri.


"Lebih kasian sama kamu. Nikah sama suami orang, cuma pakai gamis, no make up, bibir aja yang menang kau bold."


"Suram!" tambah kak Anisa tak tanggung-tanggung.


"Stttttt..... Ayo cepet!" bang Dendi tengah berdiri di ambang pintu.


Mungkin ia takut terjadi pertumbuhan darah.


Aku malah tersenyum samar, jelas tak mungkin ada pertumpahan darah. Tapi mungkin, aku akan lebih sakit hati bila terlalu lama di sini.


"Jadi pergi dari rumah, karena udah ada laki-laki yang jemput di ujung jalan?" suara mas Givan semakin mendekat.


Aku reflek menoleh, untuk melihat sosok ayah dari anakku itu.


"Aku suaminya Anisa. Kalau istri saya tak berbelas kasih mungut mantan istri kau dan anak kau, mungkin istri kau udah di gang*ang di terminal Anak Air. Jam sebelas malam, hampir tembus tengah malam. Bayi usai satu tahun, masih noleh kiri kanan aja, ditambah ibunya yang nampak menyedihkan."


Aku dan kak Anisa saling memandang, mendengar improvisasi dari bang Dendi ini.


"Cepet, Dek. Jangan terlalu lama di sini." kak Anisa lekas mengangguk, saat bang Dendi melambaikan tangannya pada kak Anisa.


Aku mengikuti tarikan tangan kak Anisa, melewati para saksi begitu saja.


"Kin..." aku berhenti sejenak, kala melihat Kinasya berdiri di dekat pintu dengan menggendong Kalista.


"Ini punya Ghifar." aku memberikan kembali kartu ATM milik Ghifar.


"Aduh, Kak. Tak apa, Ghifar udah bilang. Aku tak mungkin cemburu, atau ngamuk ke Ghifar. Biar Akak pegang dulu, sampai keadaan Akak stabil." aku baru mengetahui, tentang rasa pengertian Kinasya. Karena, bukan hanya sekali saja. Aku menjadi bahan kecemburuan tidak jelas Kinasya.


"Biar aku berjuang untuk hidup aku sendiri. Biar aku punya semangat hidup lagi, Kin." aku ingin Kinasya mengerti.


"Biar Chandra sama aku, Canda. Biar kau bisa stabil, biar kau bisa kerja."


Aku menoleh ke sisi kananku, karena suara itu muncul kembali. Seorang laki-laki, yang selalu ingin mengambil alih Chandra dariku.


...****************...


Bagaimana?


Bagaimana?


Aku paham, kalian pasti kurang puas. Tapi pada akhirnya, malah nanti kalian mual-mual dengan scene keluarga besar ini 😉 sabar ya, maklum lambat dan nikmat 😝

__ADS_1


Oh, iya. Update NT kalian, nanti bisa komen tiap paragraf kek di WP. Boleh membubuhkan komentar banyak, author simak dengan sepenuh hati.


__ADS_2