
Aku tengah berjalan-jalan santai di jalan depan rumah, dengan menggandeng tangan Chandra. Chandra masih gampang jatuh, lari pun ia sering oleng.
"Yung... Jajaj." ia menunjuk gerobak yang mangkal di ujung jalan.
Di sana, ada dua orang yang tengah duduk di saung yang sering dijadikan tempat pos ronda. Mereka juga, tengah jajan pada gerobak penjual yang berhenti di situ.
"Jajaj..." teriakan girang Chandra, cukup memekakan telinganya.
Aku jadi teringat suamiku, Daeng. Ia yang mengajarkan Chandra jajan.
"Bang Chandra..." aku menunduk, memperhatikan reaksinya saat aku panggil.
Karena, ia di rumah megah itu dipanggil dengan sebutan abang. Mau bagaimana pun ceritanya, berapapun umurnya, dia adalah anak dari saudara tertua di rumah itu.
"Iyung." ia malah menyebutku, bukan menyahuti panggilanku. Ia mendongak menatapku, dengan alis yang menyatu.
Aku berjongkok untuk menyetarakan tingginya, "Kalau dipanggil, jawabnya iya. Jangan balik manggil lagi. Iya, Biyung. Kek gitu ya?"
"Iya." Chandra terlihat begitu lucu.
"Masih ingat mangge tak, Nak? Kemarin mangge nanyain Chandra terus."
"Khe..." ia berlari meninggalkanku.
Tak lama kemudian, ia terduduk di tanah. Dasar, bocah.
Ia menoleh, memberikan tatapan memelas dengan alis yang selalu menyatu tersebut.
"Iyung..."
Uhh, manjanya anakku.
Aku tersenyum, lalu segera membantunya bangun.
"Ati-ati, Bang Chandra belum bisa lari laju." aku memilih untuk menggendongnya.
Akhirnya, kami sampai di ujung jalan. Ternyata, yang duduk di saung adalah kak Anisa dan bang Dendi.
"Hei, Jagoan." bang Dendi begitu ramah menyapa Chandra.
Sepertinya Chandra kenal akrab dengan bang Dendi di sini. Ia begitu kegirangan, saat bertos ria dengan bang Dendi.
"Masih jet lag kah, Jagoan? Semalam ngamuk aja ya?" ia mengusap-usap rambut Chandra, lalu duduk kembali di sebelah kak Anisa.
"Aku kurang tau, Bang. Aku baru sampai siang tadi." jawabku padanya.
Kak Anisa terlihat sibuk sendiri dengan ponselnya. Ia tidak menyapaku sama sekali.
Namun, terlihat bang Dendi menyenggol lengan kak Anisa dengan sikunya.
"Apa tuh?! Malah diem-dieman gara-gara rebutan bang Lendra. Besok kalau masih stalking dia, tak Abang kasih lagi jatah bulanan ke Adek. Butuh, minta. Butuh, minta. Abang sih beneran, Dek." tegas bang Dendi dengan melirik ke arah istrinya.
"Jajaj...." Chandra menepuk-nepuk wajahku.
Aku berbalik, kemudian melangkah menuju gerobak pedagang yang aku lewati tiga langkah.
"Beli, Bang." ternyata ini adalah pedagang cilok.
"Berapa, Kak?"
__ADS_1
"Lima ribuan empat, yang disaos dua, yang kecap aja dua." aku menyerahkan uang pas dari saku daster yang aku kenakan.
Tentu saja, ini koleksi daster masa kini dengan karet kerutan di pinggang.
Entah ini buat siapa saja. Tapi pasti akan habis, jika aku bawa pulang ke rumah.
"Bang jajaj..." Chandra memperhatikan wajahku.
Sepertinya, ia tengah bertanya apa ini jajanan untuknya.
"Iya, jajan Abang itu."
Chandra menganggukkan kepalanya, lalu ia fokus melihat pedagang yang tengah menambahkan kecap ke cilok dalam plastik tersebut.
"Ada Ghava tak di dalam, Dek?" tanya bang Dendi dengan memakai sandalnya.
"Ada, tadi pas aku keluar mereka baru keluar kamar."
Aku pun tadi say hay dengan Ghava dan Winda. Ternyata, mereka menempati kamar tamu. Karena barang-barang mereka, sudah dipindahkan ke Riyana Studio. Jadi mereka seolah hanya menginap di rumah megah itu.
"Sama Enis dulu gih, Abang mau ke Ghava dulu." bang Dendi menepuk pundakku, lalu ia berlalu pergi.
"Cilok, Kak." aku menaruh plastik berisi beberapa bungkus cilok di samping kak Anisa, lalu aku duduk di sampingnya.
"Hmm." wajahnya masih terlihat masam.
"Maaf kalau aku salah, Kak." ungkapku kemudian.
"Iya. Udah aja jangan dibahas, aku cuma kesel aja."
Alhamdulillah.
Kak Anisa mengambil salah satu cilok, lalu menikmatinya.
"Mbak...."
"Kak Ducky...."
"Kakak ipar...."
Aku mencari sumber suara.
Sampai, akhirnya aku menemukan tiga orang yang berlarian dari arah jalan belakang rumah. Mereka masih jauh, tapi suara itu sudah heboh saja.
"Kak, pasar malam." seru Gavin.
"Udah buka di dekat meunasah." tambah Gibran yang sekarang sudah berada di hadapanku.
"Jum...." ini rajanya, Ceria.
"Taruh dulu Al-Qur'an itu. Bilang mamah dulu sana." untungnya, aku mengantongi uang cukup banyak.
"Jum... Berangkat...." Gavin dan Gibran berlari ke rumah.
Anehnya lagi, Ria malah ikutan berlari dengan girang. Ria benar-benar seperti anak-anak.
Aku melihat papah Adi tengah memperhatikan anak-anak yang berlari ke arahnya itu. Papah Adi tengah berdiri di depan pagar, ia mengenakan sarung dan kaos berwarna putih. Hanya begitu saja, tapi beliau terlihat berwibawa.
Tak lama kemudian, muncul gerombolan itu dengan bertambahnya jumlah personil. Ada Key di antara mereka.
__ADS_1
Mereka lomba lari, dengan uang kertas yang berada di tangan masing-masing seperti bendera. Ada-ada saja parah bocah ini.
"Biyung... Aku ikut." teriak Key, saat melihatku menunggu di saung ini.
"Ayo, Kak." aku mengajak kak Anisa.
"Kamu ganti nomor ya?" kak Anisa sudah berdiri, ia sepertinya akan ikut bersama kami.
"Iya, Kak. Biar tenang. Nanti aku chat ke nomor Kakak." ungkapku dengan mulai berjalan.
"Ini, Kakak ipar. Pegang! Aku mau trampolinan, tapi kata mamah harus yang sepi trampolinnya." Gavin memberikan uang lembaran dua puluh ribu.
"Aku mau mancing, Kak. Aku mau jajan juga, telur gulung, sosis telur, sama takoyaki. Sama nanti aku pikirin jajan apa." Gibran memberikan uang jajannya, yang senilai dengan uang jajan Gavin.
"Biyung, aku dikasih beda warna." Key menunjukkan uang sepuluh ribuan padaku.
"Tak apa, nanti Biyung tambahin."
Mamah Dinda pasti memberi uang jajan sesuai umur. Kami sudah mulai berjalan, dengan Chandra masih berada di gendonganku.
"Mana uang kau, Dek? Tak mau dipegangkan Mbak aja kah?" tanyaku pada Ria yang menggandeng Key.
Ia menoleh ke arahku, lalu menunjukkan uang yang ia genggam.
"Biru dong jatah aku. Nanti kalau ada kembaliannya, malah Mbak tak balikin ke aku."
Aku dan kak Anisa tertawa geli. Ria, ria. Ada-ada saja.
Gavin dan Gibran berjalan bergandengan di depan, Key dan Ria di barisan kedua. Lalu, aku dan kak Anisa di barisan paling akhir.
"Ini adik kandung aku, Kak. Satu Ibu, beda ayah." aku menunjuk Ria, saat mengatakan hal itu.
"Ria kan anaknya bu Ummu." kak Anisa sekarang berhijab.
Sama sepertiku, ia mengenakan daster masa kini dengan hijab panjang. Kak Anisa pasti membiasakan berhijab sekarang, karena provinsi ini perempuan wajib bertudung.
"Bu Ummu itu ibu kandung aku, Kak. Panjang deh ceritanya. Aku pun baru tau sekarang, ternyata ibu aku kerja di sini." terangku kemudian.
Kak Anisa manggut-manggut, "Jadi mau rujuk kah?"
"Tak, Kak. Mau pulang ke Jawa, ya mungkin aku milih di kota Cirebon aja karena aku udah fasih bahasanya. Aku mau buka usaha di sana, sama ibu sama Ria." ini masih sebatas rencana, apa lagi aku belum mengobrolkan untuk meminta izin membawa Chandra pada mamah Dinda.
"Kenapa sih gak ke Solo pulangnya? Udah gak kerja sama bang Lendra?" ia memberiku pertanyaan beruntun.
"Udah habis masa kontrak kerja, Kak. Aku masih segan sama bibi Hana. Apapun ceritanya yang dia tau nanti, pasti aku tetap disuruh ngabdi ke mas Givan." aku berbohong lagi di sini.
Kak Anisa manggut-manggut, "Syukur deh. Tapi bang Lendra hilang kemana ya? Mau bayar hutang, bingung ngabarinnya." ujarnya.
"Sosial medianya aja, Kak. Aku aja tak tau nomornya, lama ya rupanya tak aktif?"
"Keknya sih udah pindah ke Makassar ya? Putri posting foto bareng terus." kak Anisa menunjukkan layar ponselnya.
Aku bisa melihat bang Daeng duduk di kursi dengan Putri. Di atas meja tersebut, terdapat lilin romantis menghiasi. Bahagia rupanya, ia sekarang sudah mendapat impiannya. Tentu impiannya hidup bergelimang harta sekarang.
Tak apa aku sekarang menjadi janda tidak jelas. Aku tidak ingin menikah lagi. Sudah cukup untukku. Kali ini, aku ingin fokusku pada anak dan keluarga saja. Jika laki-laki tak bisa memberikan kebahagiaan, tidak bisa melengkapi kehidupanku. Sepertinya, aku harus bersyukur dengan hadirnya ibu dan Ria sekarang.
...****************...
Alhamdulillah. Hilang daeng, dipertemukan ibu dan Ria.
__ADS_1