Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD409. Kabar gembira


__ADS_3

"Wah, plasenta previa ya Bu?" ujar dokter tersebut.


Aku mengangguk, "Iya, Bu." sahutku kemudian.


"Sering haid di masa kehamilan kah, Bu? Atau, ada gejala sebelumnya?" tanya dokter tersebut.


"Tak, Bu. Tapi sering kram perut di trimester kedua." hanya ini yang aku rasakan.


Dokter tersebut manggut-manggut, "Pendarahan ini juga, sebagai tandanya bahwa plasentanya menutupi jalan lahir." dokter tersebut memberiku beberapa helai tisu kering.


Kemudian, ia memakai tensi darah yang memompa otomatis.


"Ada keluhan? Sesak napas, pusing, kunang-kunangan?" ia menggunakan stetoskopnya.


"Tak ada, Bu. Tak sakit perut juga, cuma memang tadi ada kram." aku memperhatikan kegiatannya.


Dokter tersebut mengangguk, "Tensinya juga normal. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Bu. Nanti saya berikan resep, untuk ditebus dan diminum sesuai anjuran ya Bu?" ia menggulung kembali kain tensi darah itu.


"Memperbanyak istirahat dan berbaring, Bu.


Kurangi aktivitas fisik yang berat, tidak dianjurkan untuk menggendong anak dahulu.


Hindari berhubungan se*sual juga ya, Bu?" lanjutnya dengan menyimpan kembali alat-alat kesehatannya.


"Jika nyaman bagaimana, Bu?" yang aku maksud adalah berhubungan seksual.


Ia memperhatikanku, "Apanya?" ia mengerutkan keningnya.


"Jika berhubungan b*dan dengan nyaman." aku malu menjelaskannya.


"Boleh. Tapi tidak disarankan, ketika tengah pendarahan seperti ini."


Aku mengangguk, "Ya, Dok."


"Tunggu di sini saja, Bu. Nanti akan dijemput perawat. Ibu boleh pulang, setelah satu jam observasi." ia menyuntikkan sesuatu ke selang infusku.


"Mari, Bu. Saya permisi dulu." dokter tersebut tersenyum ramah, kemudian meninggalkan aku sendirian di ruangan ini.


Aku tidak mengerti. Tapi sering sekali observasi, jika hendak pulang dari rumah sakit.


Beberapa saat kemudian. Aku sudah berada di dalam mobil Avanza milik Ghifar. Kami tengah perjalanan pulang ke rumah kembali. Aku tidak perlu dirawat inap, hanya menunggu kantung infus habis saja tadi.


"Biaya sama tebus obatnya berapa, Far?" karena tadi Ghifar yang mengurus administrasinya.


"Udah aja." Ghifar masih fokus mengemudi.


Jadi, sekompleks ini permasalahan plasenta previa? Pantas saja, dokter menyarankan aku untuk persalinan operasi sesar.


Untungnya, Ceysa anteng dengan kakak satu ayahnya. Sejak pagi sampai sore, mereka anteng dengan dijaga oleh Hala.

__ADS_1


Aku pun bed rest total. Ibu pun ada di rumah ini, untuk menemaniku.


Mas Givan lama pergi mengurusi permasalahan di Kalimantan. Aku tidak mau ia khawatir, dengan keadaanku sendiri.


Hingga tidak terasa, usia kandunganku sudah menginjak tiga puluh empat bulan. Aku mendapat lima panggilan tak terjawab dari suamiku.


"Canda...." suaranya terdengar begitu bahagia.


"Ya, Mas?" aku menantikan kabar gembira.


Sekian lama, kami hanya berkomunikasi dari ponsel. Aku pun merasa tenang, karena mamah Dinda selalu berada di samping suamiku.


"Alhamdulillah, masalah udah selesai. Putri dapat hukuman pidana dan denda yang besar."


Alhamdulillah, akhirnya suamiku bisa menyelesaikan masalahnya.


"Aku sore ini pulang bareng mamah. Luluran ya, Canda. Biar tak bau asem."


Aku terbahak di sini. Suamiku beda dari laki-laki lain. Ia tidak pernah romantis, atau berkata bahwa ucapan yang menyenangkan.


"Pulang bawa lipstik warna nude ya, Mas?"


"Ya, siap." aku bisa merasakan kegembiraan dari suara mas Givan.


"Hallo, Canda?" suaranya berganti.


"Canda, hallo?"


Eh, iya. Aku menepuk jidatku sendiri, karena aku baru ngeh bahwa ini suara mamah.


"Ya, Mah." aku buru-buru menyahuti.


"Papah sehat?"


Empat bulan mereka menggantungkan hubungannya. Ternyata, mamah Dinda masih menanyakan keadaan suaminya.


"Sering drop, Mah. Sekarang di rumah sakit lagi. Tapi aku tak bisa nengok dan urus papah, Ghifar ngelarang aku." aku jujur di sini.


"Ya ampun." suara mamah Dinda menurun.


"Mamah sehat?" aku berbalik menanyakan kabar beliau.


"Sehat selalu. Kok heran mamah, papah kau tak sembuh-sembuh?" suaranya terdengar seperti kebingungan.


"Darahnya tinggi terus, Mah. Papah tuh udah empat hari di rumah sakit. Kata Giska sih, mungkin sore nanti pulang. Sehari dua hari stabil tuh, lusanya nanti sakit lagi. Sampai aku mual sendiri, bau rebusan seledri sampai masuk ke halaman rumah aku. Tiap hari tuh, keknya Kin rebus seledri buat papah." aku sengaja mengatakannya, agar mamah Dinda iba pada suaminya.


"Coba nanti kau ajak ngobrol papah kau. Kasih tau, sore ini mamah ambil penerbangan. Mungkin pagi baru sampai, Dek."


Jika papah ada di rumah Kin pun, tiap hari aku main bersama anak-anak untuk menghibur papah. Bagaikan tiada ponsel, panutanku senantiasa melamun saja. Meski ibu Bilqis sering berkunjung pun, aku tahu sendiri papah tidak meresponnya. Papah Adi bahkan tidak meladeni ucapan ibu Bilqis.

__ADS_1


Aku dan anak-anak lain pun sering membahas hal ini. Ya, tentang papah dan puber keduanya kemarin.


Puber kedua itu benar-benar ada. Biasanya terjadi di usia lima puluh tahun ke atas. Ini sudah bisa dipastikan, bahwa papah Adi mengalami fase itu kemarin.


"Terus mau apa, kalau udah bilang?" tanyaku kemudian.


"Ya gimana reaksinya. Sejauh ini tak ada telpon, udah empat bulanan berarti. Dua bulan lagi gak ada kemajuan, ya mungkin Mamah minta papah proses cerai aja. Biar dia bebas gitu kan? Mamah ya tak bingung nantinya." sesantai ini mamah membicarakan perceraian?


"Mah, masih cinta tak sih sama papah?" aku menanyakan hal ini, semata-mata karena meragukan perasaan mamah.


"Eummmm.... Mamah manusia kek Givan. Mudah cinta, mudah lupanya juga. Mungkin udah di fase biasa aja, tapi karena masih ada status aja. Kan Mamah di sini belum diberesin. Janda bukan, istri ya bukan juga."


Ya ampun, ternyata ada ya manusia yang seperti itu?


Sudah lama bang Daeng meninggal dunia pun, sampai saat ini aku masih teringat kebiasaan kami berdua. Aku masih ingat tatapan matanya, aku masih ingat logat bicaranya.


"Kok bisa sih, Mah? Mamah puluhan tahun hidup sama papah, tapi bisa semudah itu lupainnya."


Diam, tidak ada sahutan untuk beberapa detik.


"Karena ingat sakitnya. Karena ingat teganya papah ke mamah. Karena ingat perlakuan yang tak mengenakan hati. Makanya ada pribahasa seribu kebaikan, akan kalah dengan satu kesalahan."


Benar sekali.


"Memang, manusiawi. Manusia letaknya salah. Tapi, semuanya udah terlanjur. Papah pun, tak ada gerakannya. Dulu waktu dia madu Mamah, ada tuh gerakannya untuk bujuk Mamah, ngomong lagi sama keluarga, untuk dicarikan jalan keluarnya. Tapi sekarang, papah kan adem aja. Hubungi Mamah aja, tak ada tuh histori panggilannya."


Kenapa papah tidak berinisiatif sendiri? Jika anak-anaknya mendorongnya, baru beliau bergerak. Jika anak-anaknya diam saja, beliau tidak ada gerakan untuk membujuk mamah.


Aku memahami sifat perempuan yang ingin dibujuk dan dimengerti. Mereka sama-sama salah, tapi alangkah baiknya papah Adi meminta maaf lebih dulu. Karena, awal permasalahan ada pada dirinya.


"Ya udah ya, Canda? Sampai ketemu besok nanti."


Tut.....


Aku pusing di sini.


Yang pertama, ini menjelang tamat. Lalu, ini Putri mendapat hukuman berapa tahun penjara. Penjelasan ini, pasti membutuhkan waktu untuk mas Givan buka suara.


Lalu, permasalahan mamah Dinda bagaimana endingnya? Sedangkan di cerita Istri Sambung, mereka berdua masih bersama.


Yang ketiga, ini bagaimana hasil akhir kehamilanku? Akankah aku benar dioperasi? Lalu, apa aku tak menimbulkan drama saat operasi itu berlangsung?


Kemudian, kapan aku dan suamiku rukun bersama bayi kami di dalam rumah di pagi hari? Ya, seperti canda pagi yang aku nanti selama ini.


Di akhir cerita, aku ingin namaku menjadi kebahagiaanku yang abadi.


...****************...


Jangan bilang namanya abadi di batu nisan 😢

__ADS_1


__ADS_2