Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD297. Putar otak


__ADS_3

Ya Allah...


Aku harus putar otak, agar penghasilan tidak semakin menurun. Bahkan untuk membayar cek Iyak saja, aku sampai menggunakan uang pribadiku.


Mana uang pribadiku sudah terkuras, lantaran membeli furniture dan juga mengganti kasur dan ranjang milik mamah Dinda.


Jika seperti ini terus, maka rekening-rekening yang lain akan habis hanya untuk biaya makan saja. Aku tidak boleh tinggal diam. Setidaknya, aku harus menghasilkan uang pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari. Agar tidak mengacak-acak uang di rekening itu.


Bukan aku begitu sayangnya menggunakan uang, apa lagi disebut perhitungan. Tapi, aku khawatir aku benar-benar tidak memiliki tabungan. Jika untuk makan-makan saja, aku menggunakan uang simpanan.


Apa lagi mengacak-acak uang milik bang Daeng yang tujuh miliar itu. Aku merasa, itu bukanlah hakku. Karena, masa itu bang Daeng mengamankan nama dan dananya saja untuk sementara waktu. Yang berarti, itu adalah uang miliknya di luar dari jatah bulanan yang ia berikan untukku dulu.


Aku harus paham etika dan batasan.


Sejak aku tahu ada tempat usaha yang sama. Pendapatan tokoku kian berkurang, sampai-sampai sehari tidak masuk seratus ribu.

__ADS_1


Memang, aku tidak hanya memiliki usaha pengisian galon saja. Namun, yang paling cepat berputar dan memiliki laba adalah pengisian galon.


Di luar dari modal awal, harga filter air dan toren air. Air yang aku beli dari mata air tertentu, yang diantar oleh mobil tangki air. Kira-kira per lima ribu liternya, dihargai seratus dua puluh ribu. Jika yang datang mobil dengan ukuran tangki yang lebih besar, sekitar delapan ribu liter. Aku hanya diminta untuk membayar, sebanyak seratus sembilan puluh dua ribu saja.


Dengan modal air yang hanya kisaran dua ratus ribu saja, aku sanggup mendapatkan hasil jutaan rupiah. Ya memang masih kotor, belum dihitung listrik dan lain-lainnya.


Jika sudah terhimpit perekonomian begini, rasanya aku ingin bekerja saja. Namun, dengan adanya dua anak seperti ini. Aku tidak mungkin bekerja, apa lagi meninggalkan kedua anakku yang masih kecil-kecil itu.


Aku harus bagaimana sekarang?


"Mbak bukan orang Sunda, mana enak kalau bikin seblak nanti. Bikin tengkleng yang khas Solo aja, nyatanya tak enak dimakan kok." aku masih berpangku dagu pada etalase toko ini.


"Orang Sundanya pun belum tentu semuanya bisa bikin seblak, Mbak. Kan kita coba dulu, kita testimoni kasih icip ke mamah sama saudara yang lain. Kita tanya kan, rasanya kurang apa gitu."


Aku melirik Ria sekilas.

__ADS_1


Aku murung kembali.


Apa iya, orang yang tidak bisa masak akan mampu jika berjualan makanan?


Bahkan, suamiku kemarin enggan untuk memakan masakanku yang aneh-aneh.


"Kita buat kita cilok kuah gitu. Nanti aku cari resepnya, kita coba bikin sendiri, testimoni, terus baru deh kita buka lapak. Nanti aku bantuin deh, aku promoin juga ke temen-temen ngaji aku. Aku share ke aplikasi chatting, aku share ke sosial media aku. Kan, minggu depan aku ujian nih. Selesai ujian, tinggal nunggu sertifikat. Nanti aku kan nganggur di rumah tuh, kan bisa bantuin Mbak."


Sejak hari itu, ini adalah tiga bulan setelah aku break dengan bang Ardi. Ia masih belum pernah berkunjung kembali, hanya lewat biasa dan menyapa anak-anak saja.


Perjanjiannya adalah sampai lebaran. Lebaran sudah dua bulan lagi saja, pasti ia masih memikirkan atau entah melupakan hubungan kami.


Ya sudahlah, aku harus fokus pada usahaku dulu. Agar aku tetap bisa membiayai kebutuhan dapur dan listrik.


...****************...

__ADS_1


Tulang punggung dan segala resikonya 😢


__ADS_2