Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD146. Tiwi


__ADS_3

"Abang!!!"


Aku mengguncang tubuhnya. Aku kesal padanya.


Bang Daeng menggeser posisi kepalanya, "Abang gak tahan, Dek. Ngantuk betul." bang Daeng langsung pulas kembali.


Bahkan, ia langsung mendengkur.


Huh!


Aku asik mengoceh, dia yang malah begitu pulas seperti tengah mendengar dongeng sebelum tidur. Aku yakin, ia pasti tak mendengar ucapanku tentang kak Anisa yang mengirim screenshot postingan Putri.


Terdengar bunyi notifikasi masuk. Aku langsung mencari keberadaan ponsel bang Daeng. Ya, aku yakin itu ponsel bang Daeng. Karena ponselku tidak aku set untuk bunyi notifikasi, hanya getar saja jika ada notifikasi atau panggilan masuk.


Kali ini bang Daeng menggunakan kode untuk lock screen. Enam digit, apa ya kira-kira?


Oh, akan aku coba. Aku segera memasukkan tanggal pernikahan kami. Karena tanggal pernikahan kami, digunakan juga untuk password kartu ATM-nya.


Benar saja. Langsung terbuka.


Aku segera menilik aplikasi chattingnya. Seperti biasa, chat masuk datang dari kontak bernama perempuan.


Putri Vishaka Anggraini, nama itu menarik perhatianku. Pesan bertumpuk dari Putri.


Yang, jemput.


Yang, lagi di mana?

__ADS_1


Yang, aku udah di Batam.


Yang, aku udah selesai liburan di Singapuranya. Kamu ada di mana? Besok kan jadwal pesawat kamu, besok kan kamu bebas tugas?


Beberapa panggilan telepon terlewat.


Yang, kamu kok gak ada di mes?


Kamu ke mana sih, Yang?


Lendra!


Bener-bener ya kamu?! Kamu udah pulang? Kan aku udah bilang, stay sama aku satu hari sebelum balik ke Padang. PT apa sih? Yang buat kamu betah di Padang. Sebulan sepuluh juta aja, rupanya berat kamu tinggalin. Kamu nikah sama aku, bisnis walet ambo bisa dibagi sama kamu.


Kamu bilang, kamu selesai kerja besok. Kenapa pulang lebih dulu? Kamu ambil libur? Kamu balik ke Batam lagi gak sih?


Bener-bener ya kamu!


Kalau bukan perawan aku, kamu yang ambil. Malas betul aku pertahanan laki-laki yang kek kamu. Keknya aku ini miskin cinta betul dari kamu. Sampai aku ngemis-ngemis gini.


Kelak ada laki-laki yang mau nerima keadaan aku. Aku bakal lempar kamu sejauh-jauhnya, gak bakal ada celah buat kamu masuk ke bisnis walet lagi.


Camkan ya itu, Nalendra!!!


Aku sampai tak bernafas, saat membaca pesan dari Putri. Aku ikut tegangnya saja.


Pantas saja, chat bang Daeng diprivasi. Tidak ada laporan terbaca dan terakhir dilihat. Awalnya, aku sampat kaget karena aplikasi chat bang Daeng tidak menunjukkan terakhir aktif. Setelah itu, aku dibuat terkejut karena pesanku dibalas padahal belum centang biru.

__ADS_1


Jadi, Putri dan bang Daeng ini masih memiliki hubungan kah?


Singgah, Len.


Spam chat selanjutnya membuatku sesak nafas.


Tiwi, nama itu yang menampilkan chat terakhir berbunyi seperti itu.


Aku langsung mengkliknya, lalu membaca isi chat mereka. Yang membuatku ingin menangis, rupanya bang Daeng membalas pesannya. Beberapa kali terlihat balasan dari bang Daeng, ketikannya pun aku paham bahwa memang dia yang membalas.


Tumben mau kerja kasaran?


Chat awal Tiwi, yang berada di bagian paling atas.


Iya, cari hasil halal. Maklum, udah ada anak istri sekarang. Berdosa aku, kalau ngasih makan mereka uang haram.


Pertanyaanku sekarang, siapakah Tiwi? Aku bukan orang yang berani menegur langsung. Apa lagi, aku tidak tahu hubungan bang Daeng dengan Tiwi.


Wah, selamat Lendra. Akhirnya, ada yang nemenin kepahitan hidup kamu sekarang.


Sepertinya mereka bersaudara, entah berteman akrab. Aku mencium bau keakraban di antara bang Daeng dan Tiwi.


Insya Allah gak pahit lagi sekarang. Anak aku umur satu setengah tahun, terakhir ketemu lagi latihan jalan. Doain ya, semoga bisa bawa balik dia.


Aku tidak boleh cemburu buta, apa lagi bang Daeng yang begitu baik membagi kabarnya dengan Tiwi. Aku harus menggali informasi tentang Tiwi.


...****************...

__ADS_1


Harus... tapi lebih baik, tunggu Lendra cerita sendiri. Laki-laki bisa murka, kalau lagi capek tapi diusik.


__ADS_2