
"Itu bakal lama, Put. Sedangkan, kau butuh identitas untuk ayahnya anak kau."
Raut wajah Putri langsung murung. Ia terdiam menunduk.
"Baiknya gimana, Mah?"
"Selamatkan dokumen anak kau dulu. Kalau Hamerra, dari lahir dia udah ikut dokumen Mamah. Di dokumen dia anak Mamah, bukan anak Icut. Makanya dia manggil Mamah ini Mamah, bukan nenek." mamah Dinda mengatakannya perlahan.
"Key pun, anaknya mas Givan yang sulung. Dia ikut dokumen aku, dia anak aku. Karena masa Key datang, aku sama mas Givan masih suami istri." tambahku kemudian.
Tiba-tiba, Putri langsung memelukku dari samping. Terasa sekali, dada yang diisi sesuatu itu. Aku masih teringat implannya.
"Aku bingung, Canda. Dulu, aku tolak opsi ikut dokumen orang tua. Karena Lendra kelihatan bener-bener mau tanggung jawab."
Ia menegakkan punggungnya kembali. Lalu ia menutupi wajahnya.
"Udahlah, jangan bawa-bawa Lendra terus. Mamah kesel sendiri. Udah dibantu-bantu, tapi masih ngerasa tak stabil aja. Orang tuh tak mau sabar, gaji dua puluh juta, dibilang tak stabil." mamah Dinda seperti menggerutu.
"Coba kau rundingkan sama orang tua kau. Kau tak dari dulu sih, kalau dari kecil tak usah lewat sidang. Jasmine udah empat tahun gini, ya wajib sidang nantinya." lanjut mamah Dinda, dengan memandang Putri kembali.
"Kalau masalah Givan. Givan ini kek investasi jangka panjang, hasil kerja keras Givan tak mungkin dinikmati langsung. Hubungan kau sama Givan pun, tak bisa tiba-tiba langsung nikah. Buktinya aja, mulutnya masih tak ramah kan?"
Putri mengangguk lemah.
"Minimal Givan udah lembut bertutur ke kau lah, tandanya ini dia udah melunak ke kau, dia udah ngehargain kehadiran kau. Karena, Givan ini pasti lembut kalau ngomong ke Mamah dan ke adik perempuannya." aku kira mamah Dinda tidak memperhatikan anaknya. Ternyata ia tahu, tentang mulut lembut anaknya hanya untuk orang tertentu saja.
"Kenapa diliat dari tuturnya, Mah?" Putri seperti terheran-heran.
"Karena Mamah ngerasain sendiri. Papah Adi, dulu ketus ke Mamah. Sampai ngerasain sendiri perubahan papah Adi lembut ke Mamah, penuh senyum ke Mamah." ungkap mamah Dinda.
Benarkah demikian?
Jadi, laki-laki itu seperti itu ya?
__ADS_1
"Mamah bisa buat papah berubah gitu gimana?" sepertinya Putri mencari tips, untuk melunakkan mas Givan.
Saran terbaik dariku, dengan cara merebus mas Givan dengan panci presto saja. Itu adalah cara terbaik. Tapi tentu aku tak akan mengatakannya. Mamah Dinda pasti menggetok kepalaku dengan tulang jemarinya.
"Laki-laki itu kelemahannya di lidah. Mamah dulu sering ngajak papah makan masakan mamah. Terus, jadilah temen ngobrol yang baik. Jangan terlalu annoying, ilfeel nanti. Terus usahain selalu ada. Jadi, masanya kita pergi. Dia ngerasa kehilangan kita, terus nyari keberadaan kita. Kalau dia tak nyari kita, berarti misi gagal." mamah Dinda menutup mulutnya dengan terkekeh kecil.
Putri manggut-manggut beberapa kali, "Givan kalau butuh aku, dia chat gini. Put, coba main ke rumah."
Mamah Dinda menepuk paha Putri, ia tertawa tertahan.
"Itu butuh selang*angan. Kalau papah Adi, dia datang sendiri meski Mamah lagi main di rumah orang. Dia datang tuh, kek yang iya kangen, tapi memang tak pernah hubungan badan sebelum nikah."
Putri seperti terheran-heran. Apa hal berhubungan badan sebelum menikah ini aneh? Sampai-sampai Putri memasang wajah herannya.
"Kok bisa?" Putri masih menyatukan alisnya.
"Bisa. Entah karena waktu tak pernah pas, karena Mamah udah ada anak. Tapi Mamah sendiri pernah nyerahin diri, karena papah selalu mesum. Bukan karena lemah iman. Tapi Mamah pikir, papah cuma butuh itu." mamah Dinda membuat tanda kutip dengan jarinya, saat mengatakan kata itu.
"Kalau papah cuma butuh itu dari Mamah kan. Mamah bisa terbebas dari papah, karena papah udah tak penasaran lagi sama Mamah." lanjutnya kemudian.
"Murahan atau taknya, cuma kau yang tau. Kalau kau udah nahan, tapi laki-laki yang maksa. Berartikan, memang laki-lakinya."
"Memang di mana, Mah laki-laki yang tak maksa? Perasaan, kalau mereka mau. Pasti ngebujuk sampai ke ujung dunia." ujarku kemudian. Karena aku mendapatkan pengalaman ini dari bang Daeng.
"Betul itu, Canda." Putri menjentikkan jarinya.
"Papah Adi bukan orang yang pemaksa. Memang pasti ngebujuk, tapi tak maksa. Kalau tak dapat, ya paling c*li. Tergantung bagaimana laki-lakinya sih." secara tidak langsung, papah Adi adalah pembujuk yang handal juga.
"Nanti besok aku VC sama Jasmine. Biar kalian kenal sama Jasmine. Dia pernah VC sama Givan, tapi cuma say hai aja. Givan mulutnya benar-benar alot, padahal cuma basa-basi namanya siapa gitu." Putri mengutak-atik ponselnya, "Ini nih foto Jasmine sama Lendra. Dia juga nemenin pas aku disesar." Putri menunjukkan ponselnya.
Gadis itu berkulit putih bersih, berambut hitam lebat sepunggung. Jasmine seperti anak di iklan shampo keluarga. Bulu matanya terlihat tebal, sorotnya seperti sorot yang terpancar dari bang Daeng. Garis bibirnya begitu kecil, dengan bibir tipisnya. Berbeda dengan bibir tebal milik bang Daeng. Untuk bagian hidung, ia persis seperti bayi yang berada di dekapanku ini.
Ternyata kau memiliki saudara lain, Nak.
__ADS_1
Aku membelai-belai wajah putriku.
"Tapi, Mah. Jasmine ini punya kelebihan. Jumlah jari kaki dan tangannya, masing-masing bukan lima. Bagian kanan enam, bagian kiri tujuh. Jasmine kecil pun, pernah operasi pengangkatan tumor jinak di punggung. Awalnya tanda lahir, tapi pas anak itu tumbuh tiap hari, tanda lahir itu pun tumbuh sampai sebesar jempol tangan orang dewasa. Pas enam bulan dioperasi pun, biayanya dicover Lendra semua."
"Tak apa, yang penting sehat. Anak-anak Mamah pun, pasti punya luka jahit. Keluar dari rahim sih sehat-sehat, tapi pas besar tingkahnya kek setan. Givan, lari-larian bawa piring. Jatuh, sobek p*ngkal lengannya. Pernah juga jatuh dari motor, dijahit lagi. Tak Ghifar, Ghava, Ghavi, sampai ke Gibran. Mereka pasti punya luka jahit. Macam-macam motif dan jalurnya."
Aku dan Putri terkekeh geli.
"Yang penting sehat. Kan gitu." tambah mamah Dinda kemudian.
Putri mengangguk, "Alhamdulillah, Mah. Sekarang udah sehat-sehat aja. Udah kek setan juga. Neneknya di rumah nyebut terus, udah kewalahan ngadepin cucu satu-satunya itu." ujar Putri kemudian.
Malam ini, seperti begadang untuk menyambut kedatangan bayiku. Karena tak lama kemudian, papah Adi masuk dalam barisan. Ia pun menambahkan cerita dan gurauan, untuk menemani putri Nalendra yang membuka matanya terus ini.
~
Aku tengah duduk di halaman belakang, dengan menjemur diri dan bayiku. Aku masih terlihat begitu pucat, padahal hanya mengeluarkan bayi seberat dua ribu enam ratus gram saja. Bayiku ini, hampir minimal berat badan rata-rata.
Chandra bayi saja, ia sampai seberat tiga ribu seratus gram. Chandra menyentuh angka tiga kilo.
Apa karena waktu hamil bayi perempuan ini, aku sering stress. Membuat bayiku ini kurang menyerap makanan yang aku makan. Membuatnya pun terlahir kecil.
"Hai, hai. Adek Kal datang, Biyung. Adek Kal mau jenguk." aku langsung menoleh cepat seseorang yang keluar dari dalam rumah tersebut.
"Hai Adek Kal. Kok sama Papa? Mana Mana?" sapaku pada Kal.
"Ma nen dek." Kal sudah ada di hadapanku, ia tengah menoel-noel pipi gadis merah ini.
"Aku pakaikan aja ya, Dek?" Ghifar duduk di sampingku, ia memasangkan sesuatu di tangan bayiku.
"Apa itu, Far?"
...****************...
__ADS_1
Ghifar tuh badeg 🤦 istrinya galak juga 😩
Shopee 3.3 fashion sale loh 😍 pengen belanja 😣 tapi Daeng lagi kismin 🤣