Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD380. Bergosip


__ADS_3

"Ada Ainul itu. Kesel betul aku sama mereka ini." Giska sampai meme*as-m*ras sendiri ujung dasternya.


"Airnya jebol kah? Memang kau pakai ledeng?"


"Bukan lah, aku pakai air bor. Bukan air, bukan listrik juga. Tapi karena mereka ini makannya ikut aku. Udah tuh ya, numpang ya numpang aja. Itu sih, numpang makan juga. Awalnya, aku kira mereka numpang tinggal aja. Makanya aku izinin itu. Bang Adi aja sampai kaget, pas aku cerita kalau mereka ini ikut makan sama aku."


Ini masalah yang sensitif.


Dulu saat aku berkumpul dengan para ipar yang lain, tetap makan sendiri-sendiri. Kami tidak pernah memakan makanan saudara tanpa izin, tapi kami juga sering bertukar masakan. Nasi ataupun lauk pauk, ya jelas misah. Listrik pun, kadang kita patungan. Karena di rumah mamah Dinda lampunya cukup besar, belum lagi AC dan perangkat lainnya. Tujuh ratus ribu, untuk pemakaian listrik sekitar dua mingguan.


"Terus gimana? Sekarang ada di mana mereka? Perasaan, pagi tadi bangunan sepi."


Aku memiliki feeling bahwa mereka tidak bekerja hari ini. Ya maksudku Zuhdi dan bang Ardi.


"Iya, abis ngecor. Kan libur dulu sampai kering." jawab Giska kemudian.


"Bang Adi lagi diajak bang Givan, entah mau ngapain. Ardi ada di dalam sana si Ainul." bibir Giska sampai keriting.


Pantas saja mas Givan tidak terlihat sejak tadi. Ternyata, ia tengah sibuk di luar.


"Kenapa sih tak ikut sama ma Robiah atau sama orang tuanya Aini aja?" sepertiku, yang malah ikut mertuaku.


"Diusir. Memang tak dengar kah ceritanya?"


Ekspresiku pasti terlihat sangat bodoh di sini.


"Waktu itu Zuhdi mau cerita. Tapi aku buru-buru mandi, jadi tak dengar ceritanya."


Kami berbicara dalam mode bisik-bisik.


"Biyung....." Zio muncul dengan wajah sedihnya.


"Tak boleh semua sama Hadi." lanjutnya mengadu.

__ADS_1


"Hadi!!!! Bang Zio kasih mainannya, Hadi!" teriakan Giska mirip seruan mamah Dinda.


"Nih, nih, nih." Hadi muncul dengan memberikan mainan pada Zio.


"Zio mainan di luar aja ya? Biar adek Ceysa sama Hadi aja."


Jika anteng bermain berdua, maka yang ketiganya itu setan menurut Hadi dan Ceysa. Mereka pasti tidak akur dengan orang ketiga tersebut.


"Aku mau ambil mainan lagi ya, Biyung?" Zio bertanya padaku, tetapi melirik Giska.


Pasti ia ingin minta izin pada Giska. Namun, tidak berani.


"Iya gih ambil. Nanti main sendiri aja di sini ya? Hadi sama Ceysa tak usah ditemani. Sesat mereka itu."


Aku tertawa saja, melihat respon Giska. Anaknya sesat katanya?


Zio mengangguk, kemudian masuk dan keluar dengan mainan yang cukup banyak. Zio anteng di teras rumah panggung ini, dengan mainan yang ia tidak miliki di rumah.


Di ruko sudah seperti toko mainan, karena barang-barang anak-anak dari rumah mangge yang di Banda Aceh, dibawa semua ke Bener Meriah. Mangge Yusuf pun resign dalam pekerjaannya, ia pun menjual rumah yang di sana. Ia memilih tinggal di Bener Meriah bersama kami.


"Nikah kan KUA, cuma syukuran kecil-kecilan. Karena dadakan loh itu, Canda. Aku, bang Adi dan keluarga lain pun tak tau kalau Aini ini udah isi." Giska berbicara lirih, "Awalnya Ardi ikut sama mertua tuh, mereka tinggal di sana sampai kurang lebih satu minggu. Malam-malam pas aku baru pulang pasar malam sama bang Adi, sama Hadi juga. Papasan nih sama Aini sama Ardi. Mereka bawa plastik sampah yang besar itu loh, terus bawa bantal juga. Kita tegur kan, bawa apa itu." Giska menggosok ujung hidungnya, dengan menarik oksigen lebih banyak.


Aku hanya bisa mengangguk, setelah Giska menyelesaikan perkalimat yang ia lontarkan.


"Katanya, bawa pakaian kak, kami pindah ke rumah ma." mata Giska melebar, "Kaget dong aku. Kok pindahan malam-malam, kok pindahan cuma bawa pakaian aja kan gitu. Sedangkan kan, waktu nikah itu Ardi ada isi kamar. Masa iya tak dibawa gitu kan? Kan mereka mau pindah, bukan mau staycation." enaknya punya ipar yang suka berghibah begini.


Aku mengangguk memahami isi ceritanya, "Terus, terus gimana?"


"Terus itu, malem-malem ribut di rumah ma. Bang Adi kan denger tuh, jadi dia langsung ke rumah ma. Aku sih stay di rumah sama Hadi. Mungkin pas itu, ma nanya kali ya kenapa mereka malam-malam gini pindah. Terus, mau tak mau Ardi harus jujur. Mungkin malam itu terungkap tuh."


"Bisa jadi, Giska. Orang tua pasti nanya dong, kenapa mereka pindahan tiba-tiba?" timpalku kemudian.


"Iya, pas bang Adi balik tuh. Bang Adi bawa buntut dua, mana bawa grembolan lagi. Kasian deh pokoknya, baju aja sampai dimasukkan ke kantong sampah. Sama bawa bantal dua, guling satu. Aku tak tega loh, Kakak ipar."

__ADS_1


Jika aku berada di posisi Giska juga, pasti aku merasa tidak tega juga.


"Terus gimana lagi, Giska?"


Dari pada ipar yang lain, sebenarnya Giska ini teman ngobrol yang pas.


"Ya di kamar tuh, bang Adi cerita sama aku. Bang Adi bilang tuh, ternyata Aini sama Ardi nikah karena udah hamil. Terus katanya juga, Aini sama Ardi ini diusir sama orang tuanya Aini. Di rumah juga, sama ma tak diterima. Jadi orang tua sana dan orang tua sini ini tak tau, kalau mempelai wanita udah hamil."


Mengenaskan sekali mereka berdua.


"Tapi ya.... Tolong ya gitu. Aku kan udah kasih tempat ya kan? Ya jangan nambah repotin gitu. Dengan adanya mereka di rumah aku kan, aktivitas malam aku sama bang Adi jadi kurang bervariasi. Aku melulu main di kamar terus kan jadinya."


Sungguh aku ngik-ngik di sini.


"Makan ya sendiri gitu, aku tak merasa iri juga sama masakan mereka. Itu sih, kalau makan bakso mereka di luar. Tak dibungkus buat Hadi aja gitu, atau makan sama-sama di rumah. Kan aku nih yang ngasih makan mereka tiap hari. Padahal, gaji Ardi ini lumayan tau Kak."


Aku manggut-manggut, "Aku pun tau sendiri, dia pernah cerita kalau gajinya segini gitu. Terus bayar cicilan motor, sama cicilan HP." tambahku kemudian.


"Nah itu. Ke mana uangnya? Masa buat makan sendiri aja pelit gitu."


Benar juga. Aku jadi ikut memikirkan.


"Hei, Adek Ceysa." aku mendengar suara laki-laki yang kemarin berstatus bujang itu dari dalam rumah.


"Abuuuuu....." Ceysa berbalik menyapa laki-laki itu.


Tidak lama kemudian, muncullah si abu gosok itu dengan wajah yang begitu lesu. Aku melihat orang lesu sudah dua kali pagi ini. Yang pertama Ria, yang kedua si bang Ardi ini.


"Ada di sini, Dek?" sapanya sok akrab.


Dalam misi break saja, ia malah menghamili mantan pacarnya. Untungnya, aku masih utuh. Minus mimpi basah, dengan dia sebagai pelakunya.


...****************...

__ADS_1


Ngomong apa ya Ardi sama Canda setelah ini?


__ADS_2