
"Yaa, dia nyuruh kek gitu. Kalau aku berani, ya sama aku aja ke sana. Tapi, katanya bang Dendi aja. Soalnya dia orang sana, jadi lebih paham tentang busnya." terangnya kemudian.
Ia pergi lagi, lalu kembali dengan segelas air putih.
"Sebenarnya kenapa sih, kok bisa sampai ditalak? Kamu ngelakuin kesalahan apa, sampai suami kamu jatuhin talaknya tanpa nganter kamu ke orang tua kamu gini?"
Sepertinya, sudah waktunya aku bercerita.
"Banyak hal, Kak. Tapi, yang bikin aku sama suami ribut berat. Gara-gara ada pihak ketiga. Dia datang, nuntut tanggung jawab dari suami aku. Suami aku pun, jatuhin talaknya tak secara langsung. Dia kata, kalau aku ke luar dari rumah. Aku sama dia udah bukan suami istri lagi, terus aku malah milih pergi."
Kak Anisa manggut-manggut.
"Selama masa idda pun, kamu masih tanggungan suami. Bukannya pergi kek gini, Canda. Beresiko buat kamu, tapi yang jelas kasian anak kamu."
Fokusku terbagi saat kak Anisa menyuapkan tappoki ke mulutnya sendiri. Sepertinya makanan itu benar-benar perlu dicoba.
"Keputusan aku malah udah bulat, Kak. Saat aku tau, ternyata suami aku tak jujur masalah uang. Dia kata, hasil untung dari toko cuma dua juta. Padahal di bulan terakhir kemarin, sampai tembus sembilan juta."
Obrolan kami lebih rileks, karena makanan yang tengah kita nikmati.
Kalau tidak seperti ini, bisa-bisa aku terisak kembali.
"Ohh, berarti kamu orang punya di sana? Kasian kamu, Canda. Pas ditalak, cuma bawa pakaian sama anak aja."
Aku selalu miris, jika orang mengatakan bahwa dirinya begitu mengasihaniku seperti itu.
"Mertua aja yang orang punya. Kalau suami aku, dia lebih ke orang sombong, orang yang besar gengsinya. Kalau lagi di posisi amat susah aja, dia inget kewajibannya. Kalau uang digenggamannya, dia lebih cenderung egois, tukang suruh, tukang bentak. Pernah dia jadi kuli, jadi tukang cat. Itu kalau posisinya memang lagi rendah betul, Kak. Sedangkan dia ingat, dia punya aku sebagai kewajibannya. Lepas punya uang dari toko aja, mulai ngadi-ngadi dia." itu sepengamatanku, sebagai wanita yang mendampinginya selama lima tahun ini.
"Jadi kamu gak bertahan sama dia karena apa?" tanya kak Anisa kemudian.
"Karena dia tak belain aku, pas aku dijelek-jelekin pihak ketiga itu. Ada adik ipar aku belain, tapi dia lebih ke arah jatuhin suami aku. Pihak ketiga itu bilang, pantesan suami aku sampai godain dia yang istri orang, rupanya rupa aku kek gini katanya. Terus adik ipar aku bilang, gimana laki-lakinya aja. Adik ipar aku nunjuk istrinya sendiri, istrinya model perempuan impian laki-laki. Kata adik ipar aku juga, kalau pihak ketiga itu gantiin posisi aku ini, rupanya pun bakal sama, karena laki-lakinya tak pandai ngerawat perempuannya."
Kak Anisa menjetikan jarinya, "Betul itu." ucapnya dengan semangat.
__ADS_1
"Bang Lendra minta aku buat koreksi diri. Katanya, jangan tanya kenapa dia, coba tanya kenapa aku, sampai dia demikian."
Aku tidak mengerti tatapan dari kak Anisa itu. Ia seperti kaget, tersindir dan bertanya-tanya juga.
"Jadi keputusan kamu apa, Canda? Bukannya aku keberatan sama keadaan kamu di sini, kan dari awal aku yang ngajak kamu ke sini. Cuma... Lebih baik memang dijelaskan lebih dulu status kamu. Nanti aku ikut anter deh, sama bang Dendi juga."
Aku sepertinya dipaksa untuk mengambil opsi ini. Tapi, memang ada benarnya juga.
Namun, aku bingung harus bilang apa pada mas Givan?
Sedangkan, ia pernah berucap saat pertengkaran itu. Bahwa ia tak ingin mengurus perceraian kami, jika mau bercerai, aku harus mengurusnya sendiri.
Kembali lagi, aku merasa mereka keberatan dengan aku di sini. Meski kak Anisa tadi mengatakan, bahwa ia tidak keberatan.
"Yang kasian sama Chandra. Setidaknya, Canda. Mana tau, hubungan kamu bisa baik-baik lagi. Mana tau, suami kamu nyesel. Dari hari itu, pernah komunikasi gak sih?"
Aku menunduk, ternyata Chandra sudah lelap kembali. Uhh, anakku memang mudah tertidur. Tapi bisa membuatku begadang, jika ia tertidur lagi seperti ini.
Memang malang nasibku ini.
"Coba tethering sama aku nih, mana tau ada chat masuk."
Kak Anisa bangun, ia mengacak-acak isi tasnya. Mungkin ia tengah mencari keberadaan ponselnya.
Namun, ia malah begitu fokus pada ponselnya. Ibu jarinya bergulir, pada layar ponselnya.
"Ya ampun... Bang Lendra sebulan gak balik?" sepertinya, kak Anisa tidak tahu tentang hal itu. Makannya ia sampai syok seperti itu.
Ia duduk kembali, dengan mata masih fokus pada ponselnya.
"Pusing aku sih sama bang Lendra ini. Baru juga beberapa jam ketemu, udah sibuk lagi aja."
Mungkin ia ingin quality time dengan bang Lendra. Kasarnya, bermesraan dalam waktu yang lama menurutku.
__ADS_1
"Kak, bang Lendra itu udah ada pacar. Lebih baik, Kakak minta bang Lendra putusin pacarnya." aku menutup mulutnya, ini hal yang sensitif. Harusnya aku tak mengatakan hal itu.
Raut wajah kak Anisa langsung murung, "Aku sering minta itu. Dia jujur kek gini coba, Canda. Aku gak mungkin ninggalin Putri, dia tambang uang aku. Kan nama pacarnya itu Putri."
Ternyata kak Anisa sudah mengetahui, bahwa bang Lendra memiliki kekasih.
"Gajinya dia di PT sekarang, kisaran sepuluh juta. Dia kan nyambi juga, ekspor sarang walet punya orang tuanya Putri itu. Dari ekspor itu, bang Lendra bisa dapat puluhan juta, sampai pernah ratusan juta juga. Jadi dia ini bilang ke orang tuanya Putri, bahwa harganya stabil. Tapi aslinya lebih dari itu, Dek. Bisa dibilang, dia ini licik."
Kak Anisa menghela nafasnya, "Tadi aja, dia lagi sama aku. Si Putri itu nelpon, dengan mudahnya ia sayang-sayangan sama Putri, pas lagi nunggangin aku. Sesedih itu jadi aku, capek nyabarin bang Lendra. Setiap diajak seriusan, dia ngomong coba tanyakan pada diri aku sendiri, kenapa sampai saat ini dia enggan seriusin aku."
Ohh, pantas saja kak Anisa sempat syok tadi. Saat aku mengatakan, bahwa bang Lendra memintaku untuk koreksi diri. Rupanya, bang Lendra mengatakan hal yang sama pada kak Anisa.
"Aku tuh begini cuma sama dia. Jangankan sama orang lain, sama bang Dendi yang sering godain aku aja, aku selalu nolak itu."
Aku malah kaget di sini. Pasalnya, itu sangat berbeda dengan yang bang Lendra katakan.
"Yang betul, Kak?"
Kak Anisa malah melotot, "Kamu kira aku open BO?" sewotnya membuat Chandra menangis kaget.
"Aduh, aduh... Maafin Tante, Nak. Mamah kamu nyebelin nih."
Kak Anisa reflek mengusap-usap kaki Chandra, yang masih tidur di lenganku ini.
Aku tersenyum samar, begini kah rasanya punya teman?
"Bukan kek gitu, Kak. Tapi....
...****************...
Ya Allah.. tadi dia pernah bilang, seperti ini rasanya kebebasan. Terus sekarang, dia bilang kek gini rasanya punya teman.
Mengsedih gak sih? Ke luar pesantren, mabok Ghifar, dip*rkosa Givan, jadi istri yang tiap hari di rumah.. ya ampun.
__ADS_1