
Aku memilih langkah seribu, memblokir akun mas Givan agar tidak bisa melihat akun milikku lagi. Aku tak membalas, atau pun meladeni pesannya. Aku takut jika luka kemarin hari, semakin terasa sakit saat bertukar kabar dengannya.
Setidaknya, aku nyaman dengan kesendirianku tanpanya.
Aku mendengar suara perempuan di depan kos-kosan. Dengan cepat aku mengintipnya, pada jendela kos yang aku tempati.
Bang Daeng datang.
Namun, aku malah ingin menangis melihat seseorang yang berada di belakangnya.
Putri.
Putri terlihat masih lancar berbicara, sepertinya ia ingin mendapat perhatian dari bang Daeng.
"Duh... Yang mana sih?!" bang Daeng terlihat memutar-mutar kunci yang ia genggam.
"Yang...." Putri memeluk tubuh bang Daeng dari belakang.
"Diem coba, Put! Aku terganggu betul sama kau!" ketus bang Daeng, ia masih fokus pada sekumpulan kunci yang berada di tangannya.
Kapan mereka putus?
Aku ingin mengatakan saja pada Putri, bahwa bang Daeng tidak setia. Ia beberapa kali menciumku. Aku pun akan membuka kartu bang Daeng, tentang kemarin hari bang Daeng begitu dekat dengan kak Anisa seperti berpacaran. Agar hubungan mereka putus, agar bang Daeng tak memiliki hubungan dengan dirinya lagi.
Ehh....
__ADS_1
Tapi kenapa juga aku menginginkan mereka berpisah?
"Bang Daeng..." panggilku dari jendela kamar yang sedikit terbuka ini.
"Ehh, Canda. Ada simpan kunci kamar Abang gak? Keknya lupa simpan lagi. Di kumpulan kunci ini, gak ada satupun yang cocok." bang Daeng berjalan mendekati pintu kamarku.
Aku segera bangkit, lalu membukakan pintu untuknya.
"Di mana Abang simpan sebelumnya?" tanyaku basa-basi, dengan menyambutnya dengan senyum manisku.
"Pinjam kamar dia buat istirahat kita aja, Yang." Putri masih setia melekat pada tubuh bang Daeng.
"Enak aja!" tolakku cepat. Karena, aku pun baru pulang bekerja. Aku lelah duduk seharian dan butuh istirahat.
"Itu siapa sih, Bang?" aku berpura-pura lupa pada Putri tersebut.
Sepertinya, ia mengerti bahwa aku tengah berpura-pura. Ia malah menyambung dan memberikan improvisasi yang cukup baik.
"Kita pernah ketemu di Samarinda. Kamu jangan pura-pura lupa ya! Hari itu, aku dituntut punya badan kek kau."
Aku yakin, hari ini pun Putri bisa melihat jelas bentuk tubuhku. Karena aku masih mengenakan rok span dongker dan kemeja pas badan, yang memilki warna marun.
"Dia manusia normal. Dia gak tau makanya, kalau ada makhluk halus datang bertamu." sambar bang Daeng, dengan menoleh kembali pada Putri.
Aku terkekeh geli mendengar penuturan bang Daeng pada kekasihnya sendiri. Aku tidak melihat sorot suka, atau sorot sayang di matanya.
__ADS_1
"Kok kamu gitu sama pacar sendiri, Yang!" Putri sampai mendongak, untuk bisa menatap wajah pacarnya.
"Ohh, pacar kau itu Bang?" aku fokus pada bang Daeng.
"Ya... Katanya sih begitu." aku melihat raut wajah bang Daeng seperti ingin menepis pertanyaanku, tapi mungkin ia tidak enak hati pada Putri.
"Lah, terus kemarin itu siapa? Abang ngamer sama siapa? Perempuan, rambutnya lurus, pipinya tirus itu." aku ingin Putri cepat meninggalkan bang Daeng.
Bang Daeng menatapku dengan alis yang terangkat sebelah. Mungkin ia tidak paham, dengan aku yang mengatakan hal itu.
"Yang!!!"
Bang Daeng sampai terdorong, saat Putri memaksanya untuk menghadap padanya.
"Kamu gak setia? Kamu tuntut aku olahraga, part belakang gak tepos, dada isi, perut datar. Aku sampai rela pasang implan PD, biar bisa nyenengin kamu. Kamu gak mikir perjuangan aku? Rasa sakit aku? Biaya aku?" aku bisa melihat mata Putri akan menggelinding.
Bang Daeng masih diam seribu bahasa, ia menatap datar Putri.
"Kita putus!"
Yes, aku berhasil.
Namun.....
...****************...
__ADS_1
Segini dulu yaaaa 😉 sore lagi, sekalian pikir gimana nih tanggapan Lendra diputuskan gara-gara bantuan Canda.