Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD200. Drama Chandra 2


__ADS_3

Mas Givan langsung bangkit, lalu mengambilkan barang yang Ghifar butuhkan. Dalam sekejap, bayi berusia dua bulan itu langsung menggeliat di atas kasur. Lalu ia tertawa dengan mulut yang terbuka lebar, tawanya masih tidak ada suaranya. Kafa begitu bahagia, karena tangan dan kakinya bisa menendang ke arah manapun.


"Kenapa ma bisa galak sama Bang Chandra?" aku menoleh ke arah mamah Dinda yang tengah berinteraksi dengan Chandra.


"Ma yah, Bang akang." Chandra menangis pilu.


Sampai-sampai, suara e-e-e dari bayi Hadi terdengar lagi. Hadi seperti memiliki alarm.


"Ya iya, Abangnya nakal, jadi ma marah." Ghifar malah merebahkan tubuhnya di dekat anaknya, membuatku malah semakin dekat dengan posisi mas Givan.


"Nakal kek mana Abangnya?" mamah Dinda mendekap Chandra seperti bayi.


Chandra pun asik dan malah bermanja ria di dekapan neneknya. Dasar, anak-anak.


"Kak Key udah bobo. Papa udah bilang ke Abang, Bang jangan berisik, jangan nakal, kak Key udah bobo. Malah Abang ganti usik adek Kal. Adek Kal udah bobo, Abang malah loncat-loncatan di dekat adek Kal, Nek. Abang udah dikasih tau sama ibu, udah dilarang sama kak Ria, tapi Abang masih bandel aja. Udah kek gitu, Abang malah lari-larian di kasur, terus kesandung kakinya kak Key. Bang Chandra nangis, jatuh nyungseb di kasur. Kak Key nangis, kaget, kakinya ketendang Abang Chandra. Adek Kal kebangun, denger nangis Bang Chandra sama kak Key. Jadi ma murka, Nek. Kak Key sama adek Kal pindah bobo di kamar Papa, bang Chandra ditinggal sendirian di kamar luar. Biar bobo sendirian, ditemenin Hao." Ghifar membentuk tangannya seperti mulut yang menggigit, ia mengarahkannya ke perut Chandra.


Drama anak-anak. Mungkin yang dimaksud hao oleh Ghifar adalah setan.


Tangis Chandra pecah. Anak ini memang dari dulunya baperan, Chandra gampang menangis.


"Sini sama Biyung." aku mengulurkan tanganku pada Chandra.


Namun, Chandra malah menepis tanganku.

__ADS_1


"Sini sama Yayah, Yayah jagain Abang." mas Givan membujuk Chandra.


Chandra berhenti menangis mendadak, "Yah Iyan." tangisnya pecah kembali.


"Sini-sini, sama Kakek." bujukan papah Adi langsung manjur. Kini Chandra tengah ditepuk-tepuk part belakangnya oleh papah Adi.


Chandra terlihat sudah mengantuk, tapi banyak tingkah. Chandra seperti enggan untuk tidur.


"Kata siapa Yayah Iyan tuh, Bang?"


Aku masih fokus pada papah Adi.


"Nda Iyan." Chandra malah n*ngging-n*ngging di atas kaki papah Adi yang bersila.


"I ya." Chandra malah mengitari tempat kakeknya duduk.


"Anteng! Tukang nyungseb!" Zuhdi menahan tubuh Chandra.


Wajah Chandra langsung mengiba. Ia melirik Ghifar. Aku paham, ia meminta bantuan pada Ghifar, agar ia ada yang membela.


Namun, Ghifar malah membuang wajahnya.


Belum juga hitungan ketiga, Chandra langsung lepas menangis.

__ADS_1


"Kenapa sih kalau tak boleh, Bang Chandra langsung drama queen aja? Bang Chandra pusing nanti, jatuh nyungseb." papah Adi mengangkat tubuh Chandra. Lalu membawanya ke arah depan rumah.


"Pakai masker coba kalau pilek." aku melirik pada Ghifar yang tengah diusap-usap alisnya oleh mamah Dinda.


"Dia nangis, Mah. Bukan pilek." ledek mas Givan dengan kekehan geli.


"Aku lagi capek, Mah. Sesulit ini sih ngimamin perempuan. Kaku batin aku, Mah."


Posisiku di kanan Ghifar, otomatis aku bisa mendengar jelas suaranya. Jadi, benar bahwa Ghifar baru saja menangis? Rasanya aku tidak percaya, bahwa ada laki-laki yang menangis selain papah Adi.


Ya, aku pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Papah Adi menangis di depan istrinya, maupun di depan anaknya.


Jika perempuan yang menangis, itu normal menurutku.


"Makanya jangan buru-buru." mamah Dinda masih mengusap-usap bagian wajah anaknya, dengan tangannya yang mulai mencomot makanan.


"Apa aku harus sedikit tegas kah, Mah? Apa boleh aku sedikit kasar?"


...****************...


Ya ampun, jadi maksud Ghifar. Selama ini dia diem aja tuh, karena gak mau kasar dan tegas ke perempuan? Ehh, gimana sih? 🙄


Bunda Ziyan ya ya bikin Chandra selalu nyebut ayah Ziyan. Doktrin yang buruk 🥺

__ADS_1


__ADS_2