Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD127. Pemandangan malam


__ADS_3

"Aku udah bilang, aku main game online. Lawan main aku, pas betul perempuan kemarin malam itu. Kin kan memang begitu orangnya, cemburuan, tukang drama. Segala Mamah tanggepin dia, ya seneng dia bapernya ada yang nemenin. Kalau memang aku mau kabar-kabaran sama perempuan lain, sekalian aku ambil resiko poligami aja. Tak satu dua kali Kin nangis-nangis, cuma karena lawan main game aku perempuan. Udah biasa aku liat dia begitu, Mamah segala nanggepin."


Kenapa aku malah mendengarkan curhatan anak pada ibunya ini?


"Adi Riyana tak begitu, Far. Mampu kah kau? Gaya betul ambil resiko poligami. Macam tahan efek santet aja kau. Istri muda sama istri tua nanti, bakal kuat-kuatan cari dukun yang bisa bawa kau terbang."


Aku tertawa tertahan, mamah Dinda memang paling bisa membuat anaknya bungkam.


"Pelet aja, Dek. Kalau Givan berani main-main perempuan. Santet udah biasa, Mamah udah paham cara nyembuhinnya. Tinggal ikhlas, sama minta maaf sama orang yang bersangkutan aja. Kalau pelet kan, cara buat sembuhnya cuma orang yang melet itu orang. Yang penting bisa bersatu aja, udah sembuh gila karena peletnya."


Hah?


Orang tua macam apa mamah Dinda ini? Dia malah memintaku memelet anaknya sendiri.


"Dek, tidur. Masih malam." aku bisa mendengar suara lembut berwibawa itu.


"Ya, Bang." mamah Dinda langsung kabur dari depan kamera.


Aku bisa melihat mata Ghifar yang fokus ke arah mamah Dinda pergi. Sepertinya, ia ingin memastikan bahwa situasi aman dulu. Sebelum membuka mulutnya kembali, untuk menjawab ucapanku.


"Ria..." Ghifar tengah memanggil seseorang begitu pelan.

__ADS_1


"Shuutttt... Ria...." ulang Ghifar kemudian.


"Hm, apa?" aku mendengar sahutan begitu samar.


"Jangan masuk ke kamar lagi. Temenin Kal di sini, Abang mau BAB dulu." gambar dalam video call ini tidak jelas, sepertinya Ghifar melupakan bahwa ponselnya masih tersambung dengan panggilan videoku.


Aku pun tak mengeluarkan suaraku, untuk memastikannya sendiri.


Aku bisa melihat dada bidang Ghifar tanpa mengenakan pakaian. Ia sengaja, atau memang asal saja menghadapkan layar ponselnya.


"Far..." panggilku kemudian. Karena Ghifar seperti tengah berjalan melewati beberapa ruangan.


"Bentar." ujarnya kemudian.


"Aku di balkon ruang atas. Kek gini suasana malam kota Brasilia." aku bisa melihat beberapa lampu berkelap-kelip, dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang di bawah sinar bulan.


Ngomong-ngomong, untuk apa Ghifar sampai mencari tempat yang tak terjangkau orang tidur hanya untuk bertelepon ria denganku?


"Canda...." aku masih memperhatikan gambar pemandangan malam itu di layar ponsel ini.


"Hmm." sahutku kemudian.

__ADS_1


"Kapan mau dijemput? Sekarang kah? Ikut aku liburan ke sini." ungkapnya kemudian.


"Nanti, Far. Aku ada niat mau jemput Chandra, pas kau udah di rumah." terangku padanya.


Gambar wajah Ghifar terlihat jelas, ia sudah membalikkan kamera ponselnya sepertinya.


"Kapan? Terus, kau tinggal di sini kah sama aku?" aku mengerutkan keningku, aku sedikit tidak mengerti dengan maksud Ghifar.


"Kau udah punya istri, Far. Pasti nanti Kin salah paham, kalau aku harus ikut kau." aku belum berani bercerita, tentang aku yang sekarang sudah bersuami.


"Biar aku yang ngomong ke Kin nanti, itu biar jadi urusan aku."


Kenapa pembahasan ini meleset jauh? Aku hanya ingin menanyakan perihal kepulangannya saja.


"Chandra gimana kabarnya? Aku kangen." aku benar-benar tidak ingin membahas tentang aku dan dia.


"Chandra sehat, Canda. Karena Kin lagi nifas, dia diurus sama bu Ummu sama Ria juga. Ria ini anak gadisnya bu Ummu, umurnya sekitar empat belas tahun. Ria tak makan bangku pendidikan sama sekali tau, kasian ya? Tapi baca, tulis, hitung, dia bisa. Di Bener Meriah dia ikut les, aku daftarkan dia les biar punya bekal kompetensi dasar apa gitu." obrolan kami bahkan ke mana-mana.


"Bu Ummu?" aku merasa familiar dengan nama itu.


...****************...

__ADS_1


Ummu 🤔


Up satu lagi jam tiga sore ☺️


__ADS_2