
"Mau makan, Bang?" aku menarik garis bibirku ke atas.
Aku belajar dari pengalamanku dulu. Jika pulang dari luar, lalu mas Givan diajak berdebat. Pasti amukannya luar biasa, bentakannya pasti akan menembus ke luar rumah.
"Udah. Ehh, kok gak dibuka plastik yang lainnya?" bang Daeng tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Sedangkan, dirinya masih melilitkan handuk di pinggangnya.
"Memang bawa apa lagi, Bang?" aku tak tahu, bahwa bang Daeng memiliki banyak barang bawaan.
"Ada makanan, ada lain-lain juga. Coba tengok aja. Abang mau sholat dulu. Adek geseran, biar muat." ia tersenyum lebar.
Aku paham, ruangan ini cukup kecil.
Aku mengangguk, lalu menggeser posisiku dekat dengan pintu yang tertutup ini. Aku pun, menarik barang-barang lain agar bang Daeng memiliki tempat untuk sholat.
"Adek udah sholat?" ia tengah mengenakan sarungnya.
"Udah mandi, udah sholat." jawabku kemudian.
Bang Daeng hanya mengangguk, lalu ia segera mengucapkan takbir setelah berpakaian lengkap. Aku fokus kembali pada beberapa paper bag ini, ada juga yang menggunakan kantong plastik.
Namun, mataku menangkap sesuatu.
Galery Ponsel Batam.
Paper bag itu berlogokan beberapa merek ponsel android dan juga gambar ponsel iPhone. Bang Daeng dari Batam? Untuk apa ia ke sana?
Aku menarik paper bag tersebut, lalu ai mengintip isinya. Di dalamnya, terdapat dua ponsel keluaran terbaru. Dari logo apel tergigit, aku bisa memastikan bahwa ini adalah merek iPhone.
iPhone 13 Pro Max.
Dua dusbook ini, bertuliskan judul yang sama. Aku mengalihkan pandanganku pada struk pembayaran, yang terdapat di antara dua dusbook ini.
__ADS_1
Harga ponsel ini menjadi perhatianku, enam belas juta rupiah harga per satu ponsel ini. Dibayar melalu debit, atas nama Nalendra. Uang ini berasal dari bang Daeng, bukan dari pihak luar.
Kok bisa bang Daeng membeli beberapa barang mahal sebanyak ini?
"Hei..." bang Daeng menyodorkan tangan kanannya.
Aku segera meraih, lalu menciumnya. Ini adalah kebiasaan kami, setelah sholat berjamaah.
"Kuenya dibuka, Dek. Ada lauk juga buat makan malam nanti, dipindahkan ke piring lah." pinta bang Daeng di sela aktivitasnya melipat sajadah.
Aku mengangguk, lalu segera bangkit untuk mengambil piring di dapur. Beberapa saat kemudian, aku sudah menjejer beberapa makanan yang bang Daeng bawakan.
"Seneng gak? Suka gak sama barang yang Abang bawa?" ia melirikku sekilas, lalu ia fokus kembali pada jam tangan baru miliknya.
Orient.
Entahlah, merek apa lagi itu.
Ia tersenyum malu, "Satu jutaan aja." jawabnya kemudian.
Hanya untuk jam tangan?
Satu juta?
"Berapa, Bang?" ulangku kemudian.
"Satu juta dua ratus."
Benarkah?
Tapi sepertinya harganya masih berubah.
__ADS_1
"Berapa?" ulangku padanya.
"Tiga juta. Udah." ia tersenyum lebar.
"Kenapa sih berubah-ubah? Kek aku ngelarang aja." aku hanya menerka isi hati bang Daeng tentang aku.
"Udah masam wajah Adek." ia menaruh jam tangan barunya di lantai, lalu ia fokus memandang wajahku.
"Abang tak pulang-pulang, aku khawatir. Bukan masam karena Abang belanja barang mahal. Tapi aku pengen nanya, Abang dari mana aja?" aku memegang lengannya, aku fokus untuk melihat reaksinya.
"HP Abang rusak." lalu ia meraih tas kerjanya yang tertimbun paper bag.
Ia menunjukkan ponselnya.
"Remuk layarnya tuh."
Layarnya pecah tak beraturan.
"Terus kenapa beli dua? Mau buat cadangan kah? Atau pekerjaan sama pribadi mau dipisah HP-nya?" aku memberinya tiga pertanyaan sekaligus.
"Satuan sama Adek. HP lama Adek, dipakai buat note atau alarm aja." jelas bang Daeng, dengan memberikan salah satu ponsel kembaran itu.
"Face lock, Dek." bang Daeng membuka salah satu di antara dua ponsel berwarna silver itu.
"Tolong, ini dibenahi dulu Dek. Sini HP lama Adek, biar Abang yang setting." bang Daeng pindah duduk di atas tempat tidur.
Aku paham, ia ingin aku kamar ini bersih dari kantong plastik berserakan ini. Aku harus paham, ia bukan maksud menganggapku sebagai babu. Ia ingin beristirahat nyaman bersamaku di sini.
...****************...
Dapat hadiah lagi aja 🥺🥺🥺
__ADS_1