
Ada yang minta jelasin silsilah keluarga papah Adi. Maaf ya, gak bisa balas komen satu persatu. Tapi, Author simak kok. Kadang balas juga, atau bubuhkan like. Bukannya sombong, Author kalau ada waktu, fokus ke tabungan naskah. Bukannya sok sibuk. Tapi namanya juga ibu-ibu rumah tangga, aku pun ada jualan kecil-kecilan jadi kadang keteteran. Kalau aku gak ada tabungan naskah, mungkin gak mampu up 2k kata tiap hari.
Nih, silsilah keluarga papah Adi.
Adinda + Mahendra : Ananda Givan
Adi Riyana + Maya Renawari : Cut Naya Maulida
Adinda + Adi Riyana : Teuku Ghifar, Teuku Ghava, Teuku Ghavi, Cut Giska, Teuku Gavin, Teuku Gibran.
Rekan mereka.
Haris Hartono + Sukma : Kenandra, Kinasya (anak adik Haris, diadopsi Haris)
Sukma + Safar : Ahya
Jefri Maruli + (Dirahasiakan) : Sifa, Huna.
Shasha + (lupa nama suaminya) : Haikal.
Sheila + orang India (mungkin Jarjit Sing) : Rashi
Ayu + Iqbal (mereka berdua sepupu Adi) : Hafis, Aira.
Zuhra (adik Adi) + Nahar : lupa namanya, dia nikah sama Aira ðŸ¤
Pak Zuhri + ibu Robiah (besan Adi dan Adinda) : Zuhdi. Dia nikah sama Giska.
Pak Tarmidzi + ibu Zubaidah (besan Adi dan Adinda) : Winda. Dia nikah sama Ghava.
Cut Maghfirah : Mikheyla (anak Givan dari mantan pacarnya)
Haikal dan Rashi, mereka menikah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi yang sangat ramai. Aku terpaksa menelan sarapanku, meski terasa sesak di dada karena melihat Nadya hadir di antara kami.
Karena tidak adanya meja makan. Kami semua berkumpul di ruang keluarga. Kami makan lesehan, dengan beralaskan permadani ini.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alikumsalam."
__ADS_1
Tamu itu nyelonong masuk.
Aku kira siapa yang datang. Ternyata Zuhdi datang dengan menggendong bayi.
Ia langsung duduk di antara aku dan mamah Dinda. Bayi itu langsung bersuara, kemudian Zuhdi mengubah posisi gendong anaknya itu. Ya, aku yakin Zuhdi menggendong anaknya.
"Ya ampun, Papah Adi kali itu wajah."
Aku langsung membekap mulutku, karena langsung berkomentar yang sedikit heboh.
"He'em, padahal aku yang bikin. Ehh, malah mirip Kakek." Zuhdi melirik malas ayah mertuanya.
Hanya dia seorang, menantu yang agak-agak menurutku. Kami semua terkekeh samar, ditambah lagi Hadi terus mengeluarkan suara kicauannya.
"Mana Giska, Di?" tanya mamah Dinda, dengan menyentuh tangan cucunya yang menarik-narik pakaiannya.
"Tidur, Mah. Mah, minta tolong dong. Aku juga mau sarapan." Zuhdi tersenyum penuh harap pada mamah Dinda.
"Kau belum sarapan?" mamah Dinda langsung menyendokan nasi dan lauknya untuk Zuhdi.
"Kak Kal... Pinjam bouncher Adek Kaf. Tuh, dekat bawah tangga. Kak Kal tarik, bawa ke sini. Adek Hadi pinjam, Pandanya mau mam dulu." mamah Dinda mengajak berbicara anak gadis Ghifar yang tengah makan nuget itu.
"Heh! Ikal! Itu, disuruh Nenek." ulang papah Adi, dengan mencolek lengan cucunya yang duduk di sebelahnya itu.
Aku tertawa tertahan. Memang Kal berambut ikal, tapi aku baru tahu Kal itu untuk sebutan ikal. Karena sebelumnya, Kal itu panggilannya karena namanya Kalista.
Ia terlihat lucu, dengan rambut ikal yang sudah cukup panjangnya itu.
"Papah sih ikal-ikal aja!" sewot Kin, yang duduk di sebelah suaminya.
"Kalau anaknya Mamah, udah tuh telinga Kal pindah ke jidat. Kalau disuruh, dipanggil, tak cukup dibilang sekali. Padahal anak perempuan. Heran, Papah. Perempuan, tapi tebal betul telinganya." papah Adi ini ada-ada saja. Ia seolah tak memaklumi anak-anak, padahal dirinya pernah punya anak.
Mamah Dinda tengah memberi instruksi ulang pada Kal. Anak yang terlahir cantik itu langsung mengangguk, lalu berlari ke bawah tangga.
"Nini, Nek." Kal malah menarik baby walker.
"Bukan, bouncher tuh! Buat Adek Kaf berjemur tuh!" mamah Dinda menunjuk barang yang ia inginkan.
Bouncher, baby walker, assisten walker, bathtub bayi. Semua barang-barang itu adalah bekas Hamerra. Dari Hamerra, turun ke Aksa. Lalu digunakan oleh para cucu yang lain. Meski memang tidak hanya satu barang, tapi tetap saja merek yang dibeli oleh mamah Dinda lah yang paling awet.
"Nini." Kal menarik bouncher bayi tersebut.
"Ya, pinter."
__ADS_1
Tak lama bouncher sudah berada di dekat mamah Dinda, "Makasih Kakak Kal." ucap mamah Dinda begitu ramah.
"Ya, mamamama." anak itu langsung berjalan kembali ke dekat kakeknya.
"Kal tuh pinter ya? Tapi badeg. Kakek suka kesel sama Kal, susah dibilangin kek Kak Key." papah Adi mencium pipi cucunya itu.
Yang menjadi pertanyaanku. Entah kenapa, aku pun masih tidak pernah mendapat jawabannya. Cucu-cucu di rumah ini, selalu berbicara cadel. Entah perempuan, ataupun laki-laki. Mereka akan cadel, sampai masa masuk sekolah dasar. Saat aku baru ke sini pun, Gibran masih berbicara cadel.
Terkadang aku mencoba memahami, bahwa memang anak-anak wajar berbicara cadel. Tapi sepertinya, itu tidak untuk semua anak-anak di luar sana.
Bukan aku membandingkan. Tapi anak tetangga berusia dua tahun, ia sudah lancar berbicara meski ada huruf R.
Ya, memang pertumbuhan anak-anak itu berbeda. Tapi di rumah ini, mereka rata-rata cadel. Termasuk anakku juga, Chandra.
Zuhdi sudah asik bersantap, dengan Hadi yang heboh di dalam bouncher. Untungnya, anak itu tidak menangis.
"Giska sarapan belum, Di? Ini siapa yang mandiin Hadi?" tanya mamah Dinda, orang pertama yang selesai sarapan lebih dulu.
"Udah aku belikan, tapi memang masih tidur. Ma mandiin, terus aku ajak Hadi jalan-jalan beli sarapan dua. Sampai rumah tuh, rencana mau sarapan dulu. Tapi Giska masih tidur, tak ada yang gantiin aku megang Hadi. Hadi kan agak rewel begitu anaknya, berisik aja. Bentar lagi juga nangis tuh." Zuhdi melirik anaknya yang tengah aktif menendang.
"Bangunin, Di. Suruh sarapan, cuci baju." sambung papah Adi.
"Biar ajalah, Pah."
"Terus kau punya istri buat apa? Biarin semua. Masa masih anak satu aja, segala apa nyuruh orang semua. Pakaian d*l*m kau sama Giska, celana kotor anak kau itu, tak boleh nyuruh orang cucikan, itu aib keluarga kau loh Di." bukan hal aneh, jika memang papah Adi ini kolot.
"Yang penting Giska hidup aja lah, Pah. Dulu hamil, ngidamnya sampai kek hidup kek mati. Lahiran, udah kek mumi. Pucat pasi, kaku, mata udah kosong. Udah terserah Giska aja, mau tidur, mau nyuci, mau tak. Yang penting dia hidup. Waktunya lapar, ya makan. Ngantuk, ya tidur. Capek, ya istirahat." Zuhdi bagaikan bang Daeng.
"Ya kau perhatiin." tambah mamah Dinda.
"Lah..." Zuhdi menelan makanannya dulu, "Aku kan nganggur, tiap hari mantengin wajahnya. Giska lagi makan salad buah, aku gini depan dia." Zuhdi berpangku dagu dengan menggambarkan sorot mata takjubnya.
"Giska yang dadak-dadakan kek boneka dasbor mobil. Apa sih, Abang?!" di akhir kalimat, Zuhdi menirukan suara Giska yang kege'eran. Dengan ia memperagakan leher Giska yang meliuk-liuk seperti boneka dasbor mobil.
Semua orang terkekeh geli, tak terkecuali dengan Nadya juga.
"Nganggur kok tapi bisa kecukupan sih, Di?"
Kami semua menoleh pada sumber suara. Nadya terlihat begitu pucat, ia menyeruput supnya dengan bersandar pada bantal di tembok.
"Aku juga pernah, uang tinggal seribu lima ratus perak di kantong. Giska ngerengek pengen ini pengen itu, hawa orang ngidam aja kek mana. Kata aku, Abang belikan jeli kunyahnya dulu aja ya di warung. Yang lainnya, nanti agak siangan. Adek dhuha dulu gih, sama witir berapa raka'at gitu. Giska ngangguk tuh, dia kan orangnya nurut aja gitu. Iya, Bang. Aku sholat nih, asal belikan. Aku langsung ngangguk, Giska pergi sholat, aku pergi ke warung beli jeli kunyah jajanan anak-anak, harganya lima ratusan. Aku beli tiga jeli kunyah rasa cola buat Giska, malu sih malu, tapi gimana lagi. Sampai rumah, Giska masih sholat, keluar lagi kan aku, biar dia khusyuk. Tak lama, datang Giska sumringah. Langsung tuh dia bilang, makasih Abang. Padahal cuma dibelikan tiga biji. Giska juga tak tau, kalau uang aku udah tak ada kali. Udah mumet ini kepala, udah banyak harapan dalam hati, semoga ada yang ngajak kerja, semoga ada rejeki datang. Nah, agak siangan betul duh rejeki datang. Ada kakak sepupu bayar utang tiga ratus ribu, mana dia lebihkan lima puluh katanya buat bekel bensin. Karena dia tau, kalau sore Giska ini selalu mabok jalan-jalan naik motor. Dari situ aku belajar. Jangan takut uang habis, apa lagi buat nurutin kemauan istri, perut istri lah kasarnya. Karena, rejeki istri itu berlimpah. Apa lagi istri sholehah yang rajin sholat. Dari pada bikin istri lapar, nahan kepengenanya, nyatanya itu malah bikin rejeki tambah seret. Aku pun pernah ngalamin sendiri. Aku ada uang simpanan lima puluh ribu, Giska pengen beli baju daster tiga puluh lima ribu. Aku bilang, tak ada uang, nanti aja tunggu gajian sabtu. Kan aku masih di bangunan, tapi jarang tuh. Betul-betul rejeki disusahkan. Sampai sabtu gajian pun, nyatanya tak cukup buat ini itu. Daster tak kebeli, makan kurang. Gali lubang, minjam uang ke orang tua di rumah."
Kami semua mendengar cerita Zuhdi dengan seksama.
__ADS_1
...****************...
Pelajaran hidup 😊 Kasih paham suami-suami di rumah.