Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD135. Shower box


__ADS_3

Pempek Palembang tengah aku nikmati. Aku begitu puas, karena bisa jajan ini dan itu. Aku dan si Hitam sangar ini sudah berbaikan, kami sudah seperti sedia kala.


"Abis ini mau ke mana?" tanya bang Daeng kemudian.


Kami sudah berada di Palembang, selama tujuh hari. Setelah selesai bekerja, aku langsung berburu jajanan dengan bang Daeng. Aku adalah orang dewasa tukang jajan. Sayangnya, baru tersalurkan akhir-akhir ini.


"Balik ke hotel aja, Bang." jawabku setelah meminum air mineral kemasan botol milikku.


Bang Daeng mengangguk, lalu ia mendekati penjual pempek yang masih sibuk menggoreng. Terlihat, bang Daeng tengah membayar makanan yang kami beli tadi.


Dalam perjalanan, kami bercerita tentang rasa pempek tadi. Sampai pada akhirnya....


"Uang Adek terkumpul di satu ATM, mau diapakan?" ungkap bang Daeng cukup menyinggungku.


Apa ia ingin uangku?


"Yang mahar udah aku depositkan." ia pun tahu masalah uang deposit milikku.


Bang Daeng mengangguk, "Gaji, trip, gaji Abang juga?" ia lebih seperti ingin tahu, atau memang ingin merasakan?


"Ada, tak pernah aku pakai."


Saat dirinya tak pulang ke kos selama dua hari pun, aku menggunakan uang dari bang Daeng. Ia sering memberi kembalian dari membeli apapun padaku. Membuatku memiliki uang pecahan yang cukup banyak.


"Iya, mau dipakai apa? Besok jadwal kita kosong. Waktu itu pernah bilang mau laser, jadi gak?" tanyanya kemudian.


Ohhhhhhh....


Aku kira, ia ingin aku membagi dengannya.


"Aku mau, tapi pakai uang Abang."


Bang Daeng memberikan ekspresi kagetnya, meski aku tahu itu hanya dibuat-buat.

__ADS_1


"Udah pakai gopay ya, Pak. Makasih." kami turun dari taksi online ini.


"Ini, Pak." aku memberi pecahan dua puluh ribu, saat bang Daeng turun lebih dulu.


Aku tahu ini tidak seberapa.


"Terima kasih." ia tersenyum ramah, dengan menerima uang pemberian dariku.


Blag....


"Ayo, Dek." bang Daeng membukakan pintu untukku dari luar.


"Ya, Bang."


Kami berada di depan lobi hotel. Kami langsung berjalan masuk, kak Raya pasti sudah mengoceh karena bang Daeng tidak bisa mendapat kesepakatan kali ini. Menurut bang Daeng, orangnya begitu keras kepala. Padahal, bang Daeng sudah mencoba merendah dan menawar.


"Jadi, besok jadi laser?" kami berada di dalam lift.


"Nanti aja, kalau trip Abang keluar." aku lebih suka dirinya yang membayar perawatanku.


"Tapi aku mau dibayarin." aku menunjukkan bibir cemberutku padanya.


"Ya udah. Nanti kalau Abang ikut pengiriman barang ke Singapura lagi, jangan kalap nyariin aja. Cuma Adek tempat Abang pulang. Adek tenang aja." ujarnya begitu santai.


Apa dia tidak mengerti, ucapannya berefek begitu besar?


"Abang pengiriman apa? Sabu kah?"


Kami sudah berjalan ke luar dari lift.


Ia menoleh dan terkekeh geli, "Bukan lah. Peti kemas, bawa barang ekspor masuk ke Singapura." jawabannya tidak jelas.


"Iya, peti kemasnya bawa apa?" jelasku kemudian.

__ADS_1


"Bawa barang konsumsi."


Barang konsumsi itu bermakna luas. Tapi bang Daeng terlalu berbelit-belit, ia tak ingin mengatakannya rupanya.


"Hmm." aku sudah malas bertanya padanya.


Akhirnya, kami sampai di kamar hotel. Bang Daeng langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan aku yang langsung ke dalam kamar mandi. Ini sudah sore, waktunya aku untuk membersihkan diri.


Chandra tengah apa ya?


Biasanya ia tengah mandi di atas wastafel dengan bang Daeng, atau dengan kak Raya. Ia seperti boneka, yang begitu anteng dimandikan di atas wastafel cuci tangan.


Sebelumnya, aku tidak tahu jika wastafel cuci tangan bisa digunakan untuk memandikan anak. Aku selalu kesusahan memandikan Chandra di bawah shower, apa lagi ia adalah anak yang takut dengan air yang memancar.


"Numpang-numpang."


"HAH!!!" aku begitu terkejut, saat laki-laki hitam ini masuk dan langsung kencing di depan kloset duduk.


Ia begitu santainya memancarkan air seninya ke dalam lubang kloset, tanpa memperdulikan aku yang tengah mandi di dalam shower box


"Lebay!" ia menoleh padaku dengan tersenyum jahil.


Masalahnya, shower box ini menggunakan kaca transparan. Pasti tubuh telan*angku dilihatnya begitu jelas.


"Boleh gabung?" ia menanggalkan pakaiannya satu persatu.


Namun, sebelum ia melangkah masuk. Ia mengunci pintu kamar mandi ini dari dalam.


Yah, aku melupakan untuk mengunci pintu kamar mandi tadi.


"Mandi bareng kita, sekalian......" ia sudah berada di dalam shower box bersamaku. Dengan genitnya, ia mengedipkan matanya begitu seksi.


...****************...

__ADS_1


Isi titik-titik dengan khayalan masing-masing ✌️😝


__ADS_2