Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD421. Kecelakaan kamar mandi


__ADS_3

"Apa itu?" tanya mas Givan, dengan berdiri di depan kami dengan badan yang bergerak seirama.


"Papah jujur." jawabku kemudian.


Mas Givan menghela nafasnya, "Buat apa jujur? Buat memperkeruh keadaan? Dulu pun, tak ada aku jujur, tak ada aku buka mulut. Tapi, kau tetap minta cerai. Yang penting kita bersih, udah itu aja."


Aku heran, kenapa mas Givan memilih agar mamah Dinda tidak tahu akan kejadian aslinya?


Tapi, apa mas Givan tahu kebenaran ini? Atau, itu hanya nalurinya saja?


"Mas kek yang tahu aja." aku menyandarkan punggungku.


Mas Givan melirikku sekilas, lalu ia berjalan beberapa langkah ke arah pintu.


"Kebaca, Canda." jawabnya lirih.


Oh, iya kah?


Hebat sekali pak direktur ini, sampai bisa membaca tanpa dimintai keterangan?


"Karena aku laki-laki juga, Canda. Udah kau jangan ala-ala banyak pertanyaan di benak kau."


Kekehan berlanjut, yang seolah menampakkan kebodohanku.


"Giska, kau ngapain? Udah terlalu sore ini, kasian kakak ipar kau." mas Givan berseru, dengan masuk ke dalam rumah.


~


Satu minggu setelah hari itu, hubungan kami cukup baik dengan papah Adi. Hanya saja, mamah Dinda lama tak pulang.


Kami takut dengan keadaannya di Lhokseumawe sendirian. Namun, mas Givan maupun aku tidak bisa menjemput mamah Dinda. Karena, ini sudah mendekati jadwal operasiku.


Untuk tambang di sana, mas Givan tetap memilih orang untuk bertugas. Ia tidak bisa melakukan apa-apa, karena keadaanku yang hamil tua ini. Ia tidak bisa meninggalkanku.


Mamah Dinda pun, mengatakan dirinya sibuk. Sampai-sampai, beliau tidak bisa untuk segera menstabilkan keadaan Adi Wijaya Abadi.


Tapi, kabar tidak mengenakan datang tiba-tiba dengan dua kendaraan roda empat yang berhenti di depan rumah megah itu.


"Siapa itu, Ndhuk?" tanya ibu, dengan menyuapi Ceysa dengan menggendongnya.


Aku tengah berada di teras ruko ibu, bersama ibu dan ma Nilam.


"Eh, yang abu-abu itu bukannya mobil mamah Dinda?" ma Nilam menunjuk mobil yang berada di barisan depan itu.


Hingga tiba seorang laki-laki turun dari mobil, dengan kabar yang ia bawa ke hadapan kami. Ya, laki-laki tersebut berjalan menghampiri kami.


"Di mana tinggalkan mamah Dinda?"


Aku sudah mencium bau-bau tidak mengenakan.

__ADS_1


Aku bangkit dari dudukku, "Ya di rumah Saya. Di bangunan sebelah sana." aku menunjuk rumah mas Givan.


"Bisa tolong antarkan? Saya mau sekalian mindahin mamah Dinda."


Detik itu juga, rasanya aku ingin berlari. Tapi aku yakin, aku pasti menggelinding.


"Mamah aku kenapa, Pak?" aku hampir membuat sobek kemeja kotak-kotak biru tua yang ia kenakan.


"Kecelakaan kecil. Tiga hari yang lalu, udah diberi tindakan. Cuma ya itu, beliau harus ada yang mengurus. Kaki kirinya retak, beliau tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Sedangkan kami hanya teman kerja, sangat tidak sopan kalau sampai begitu jauhnya menolong. Apalagi merawat beliau, yang tidak ada hubungan darah dengan kami."


Aku bergegas menuju ke mobil itu.


"Mah....."


"Mamah...." aku menggedor-gedor jendela salah satu mobil itu, dengan suara yang gemetar.


"Di mobil depan, Dek." ucap si sopir, yang mengemudikan mobil BMW itu.


Aku mengangguk, kemudian berjalan ke arah mobil mamah Dinda.


Begitu memilukan, melihat satu kaki beliau terbalik perban yang cukup banyak.


"Mamah....." tangisku lepas.


Di telpon mamah Dinda mengatakan dirinya baik-baik saja, tapi kenyataannya seperti ini. Aku tidak menyangka, bahwa beliau mendapat kemalangan yang membuatnya tidak bisa pulang sendiri pada anak-anaknya.


Aku tersenyum, meski air mataku sederas air mancur buatan mas Givan di halaman belakang rumah kami.


"Rumah yang di mana ini, Dek?" bapak-bapak tadi ada di belakangku.


"Itu, Pak." aku menunjuk pagar besi, yang diatasnya memiliki kawat berduri.


Mau bagaimana lagi, Key berani memanjat. Dengan seperti itu, Key maupun anak-anak yang lain tidak berani memanjat.


"Tolong dibukakan pintu pagarnya, Dek." bapak-bapak tersebut masuk kembali ke dalam mobil milik mamah Dinda.


Aku mengangguk, dengan mempercepat langkahku. Setelah membuka pintu pagar, aku langsung menyerukan nama suamiku. Kebetulan sekali mas Givan berada di teras rumah Chandra, dengan si Bandar susu kotak itu.


Ya, tahta pengonsumsi susu kotak tertinggi jatuh pada Chandra. Entah, akan jadi kotak atau tidak anak itu. Aku khawatir, ia mirip Spongebob nantinya.


"Kenapa, Canda?" sahut mas Givan, dengan berdiri di ujung sana.


Aku berjalan ke arahnya. Dengan kedua mobil tersebut yang berurutan masuk ke dalam halaman rumahku.


"Mas...." aku menggenggam tangannya erat sekali.


"Ada apa?" mas Givan terlihat bingung, dengan memandang kedua mobil itu.


"Mamah kecelakaan, retak tulang kaki katanya." aku terisak dengan memeluk lengannya.

__ADS_1


Dasar, yayah Ipan! Ia malah melepaskan pelukanku, dengan dirinya yang berlari ke arah mobil Chevrolet Trailblazer yang berhenti tepat di depan teras rumah kami.


Aku memilih untuk menutup pintu pagar lebih dulu. Agar mengurangi kecurigaan orang luar dan anak-anak tidak kabur. Aku tidak boleh ceroboh, apalagi kecolongan peternakan anak-anakku ini.


"Mah...." suara mas Givan terdengar lepas dengan isakannya.


Dia kali, aku melihatnya menangis seperti ini. Yang pertama, saat aku divonis plasenta previa. Yang kedua, saat ibunya mendapat kemalangan ini.


"Biar dipindahkan dulu, Bang." ucap beberapa laki-laki, yang serentak keluar dari dalam mobil.


Ini adalah laki-laki dari Lima Satu Studio. Aku masih hafal wajah-wajah mereka. Namun, ada satu orang yang tidak aku kenali. Yaitu seorang perempuan muda yang terlihat kurus tetapi tinggi.


Mamah Dinda digotong oleh mas Givan dan dua orang laki-laki lainnya. Sepertinya, kaki mamah Dinda tidak boleh turun atau menekuk.


Aku mempersilahkan mereka masuk, dengan membuka pintu rumah kami lebih lebar.


Setelah mamah Dinda dipindahkan ke kamar yang mamah Dinda tempati di rumahku. Kini, empat orang laki-laki dan satu wanita muda itu duduk di sofa tamu dengan mas Givan.


"Kau temani mamah, Canda. Hubungi papah, Giska dan yang lainnya."


Aku segera mengangguk, kemudian menuju ke kamar mamah Dinda.


Mata beliau terpejam, dengan bibir yang seperti meringis menahan sakit.


"Mamah jatuh di mana, Mah?" aku duduk di tepian ranjang.


"Di kamar mandi rumah." beliau membenahi bajunya.


"Ya Allah, Mah." aku menggenggam tangan beliau, kemudian aku sentuhkan di dahiku.


Aku tidak bisa merunduk, untuk memeluk beliau.


"Mamah tak apa, butuh istirahat sekitar dua mingguan aja." mamah Dinda menarik tangannya kembali.


"Mamah kok tak hati-hati sih." aku menghapus air mataku yang membanjiri wajahku tadi.


"Namanya lagi sial, mau hati-hati pun orang udah harusnya celaka." mamah Dinda mengusap-usap perutku.


"Cucu Mamah kapan lahir ini, Canda?" aku tahu, mamah Dinda hanya mangalihkan perhatianku saja.


"Tiga harian lagi, Mah. Besok sore, aku meski udah datang ke rumah sakit. Karena pagi di hari ketiga setelah hari ini, aku diberi tindakan. Usia bayi udah cukup, bayinya pun fisiknya udah kuat dan sempurna." aku berbicara dengan merogoh kantong dasterku ini.


"Kau mau hubungi siapa?"


"Disuruh mas Givan buat hubungi Giska dan papah." aku hendak menempelkan ponselku ke telingaku.


Namun,


...****************...

__ADS_1


__ADS_2