Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD153. Podcast


__ADS_3

"Mereka kan pernah masuk podcast gitu, Bang. Wawancara, mereka juga terbuka di situ." aku teringat mamah Dinda dan papah Adi pernah melakukan podcast dengan pemilik channel YouTube, yang tinggal di kota Lhokseumawe.


Mereka pergi, sebelum mereka memutuskan tinggal di Brasil. Mereka berdua cukup terbuka pada saat podcast tersebut. Aku pun, pernah melihat wawancara tersebut meski belum sampai selesai.


"Masa? Abang gak pernah tau mamah Dinda pernah ikut podcast. Dia kan bukan artis, Dek."


Sepertinya bang Daeng belum mengetahui tentang ini.


"Sini aku carikan." aku mengambil alih ponselnya. Lalu mencarikan video yang aku maksud.


Papah Adi juaranya (Petani sukses kopi Arabika Gayo abangnya anak muda) bersama PENULIS Adinda part 1.


Judul teratas itu muncul.


Akhirnya aku menemukannya. Terlihat mamah Dinda dan papah Adi duduk di kursi beriringan, dengan ditemani oleh dua host yang mewawancarai mereka.


"Ishhh, Abang gak pernah tau nih." ia terlihat begitu excited, sampai ia membenahi posisinya agar nyaman melihat umpan ini.


Video itu pun langsung diputarnya, bang Daeng sampai membesarkan volume ponselnya. Tanya jawab pun dimulai, sampai hal yang aku maksud mulai dibahas di situ.


"Berapa anak nih, Bang? Kok nampak kek kita ini seumuran." tanya salah satu host yang memakai topi kupluk.


"Sekarang lima puluh tiga tahun, sembilan anak." jawab papah Adi seperti mengingat sesuatu.


Ia mengenakan kemeja putih, yang digulung lengannya. Dengan mamah Dinda yang mengenakan dress tunik berwarna putih, dengan dipadukan hijab dan bawahan berwarna denim.


"Itu... Berapa istri, Bang?"


Gelak tawa langsung terdengar dari mereka. Bang Daeng pun sampai terbawa suasana, ia menarik garis bibirnya begitu tinggi.


"Dua istri." jawab papah Adi dengan masih tertawa.


"Hah? Seorang Dek Dinda mau dimadu." ekspresi host yang mengenakan kaca mata itu seolah begitu terkejut, dengan video tersebut yang dizoom ke arah wajahnya.

__ADS_1


"Keknya kita gak seumuran. Papah Adi lima tiga, aku baru tiga puluh tiga. Tapi kok aku jadi nampak ketuaan, kalau disandingkan begini." host bertopi kupluk menyuarakan suaranya lagi.


"Kurang gurau berarti Abang ini. Bang Adi tiap hari dia bergurau terus." tambah mamah Dinda kemudian.


"Masalahnya istri aku ini lagi hamil, Kak. Jadi gak bisa digurauin dia."


Tawa pun terdengar kembali. Sudah pasti seperti ini, jika narasumbernya mereka. Di rumah pun ada saja yang membuat lucu, meski tidak dalam sesi wawancara seperti ini.


"Nah, sama. Aku pun pernah ngerasain itu waktu dia hamil." papah Adi menunjuk mamah Dinda dengan dagunya.


"Saat istri tua dan istri muda hamil, pecah kepala." host berkaca mata seperti membuat ilusi tembakan yang menembak kepalanya.


"Dan aku pernah ngerasain itu juga."


Papah Adi pun menjadi bahan tertawaan lagi, karena sahutannya itu.


"Alhamdulillahnya masih hidup ya, Bang?" si abang kupluk bisa saja membuat suasana di situ menjadi penuh tawa.


Papah Adi mengangguk, "Dek Dinda jadi yang pertama, tapi dia siri dan ketauannya belakangan. Jadi kesannya di yang kek kedua, dia yang kek pelakor." pembahasan ini mulai serius.


"Itu bagaimana, Kak?" host bertopi kupluk berfokus pada mamah Dinda.


"Ya... Tak gimana-gimana. Aku minta cerai lah, tapi sulit betul talak diucap-Nya. Sampai bersyarat pula, ujung-ujungnya aku hamil lagi."


Wawancara dibumbui tawa renyah, keseriusan hanya topik pelengkap saja. Selebihnya, mereka beradu tawa.


"Jadi sekarang istri ada berapa, Bang? Anak dari yang kedua itu siapa berarti, Bang?" mereka bertanya pada papah Adi.


"Resmi satu." mamah Dinda langsung memukul lengan papah Adi.


Gelak tawa pun tidak bisa dihindari.


"Iya kan Adek resmi sekarang. Cuma Adek, berarti satu kan?" papah Adi menahan tangan mamah Dinda. Ia menjelaskan dengan menahan tawa.

__ADS_1


"Ya berarti yang tak resminya banyak." ketus mamah Dinda kemudian.


Di atas tawa ini, ada mamah Dinda yang mengerucutkan bibirnya.


"Serius loh Bang Adi. Ini Abang ngelawak aja sih." host bertopi kupluk menengah-nengahi keadaan.


"Serius, serius. Cuma satu sekarang, soalnya udah penyerahan surat kuasa. Jadi tak mau ambil resiko." papah Adi sekocak ini. Bang Daeng sampai terpingkal-pingkal atas jawaban papah Adi.


"Harus pandai-pandai istri ya berarti, Kak?" host berkaca mata memperhatikan reaksi mamah Dinda.


"Iyalah. Laki-lakinya model begini, tak pandai kita, ya mati konyol. Aku sempet nyerah, tapi pas lahiran kembar semangat aku buat miliki dia bangkit lagi." tambah mamah Dinda kemudian.


"Kok bisa begitu, Kak? Yang kembar ini, anak yang ke berapa?" host tersebut saling melengkapi pernyataan.


"Lahiran normal, prematur, mana sakit kali. Sesakit ini aku ngeluarin anak dia, masa hanya sekadar balasan tulus aja tak aku dapatkan? Jadi ya gimana pun caranya, aku mau suami aku balik ke tangan aku. Selain anak masa itu udah ada empat, pasti resikonya berat untuk aku ambil keputusan sebagai single parents. Jadi aku mau, dia yang ngasih makan dan hidupin anak-anaknya. Karena ngasuh anak aja itu udah capek kan, apa lagi aku harus cari nafkah buat jadi ayah dan ibunya juga. Empat anak loh, bukan satu atau dua lagi." mamah Dinda lebih serius diwawancarai.


"Dia sampai koma dua hari, setelah kembar itu keluar. Ngejen yang terakhir, terus dia langsung lunglai gitu. Sampai aku mikirnya gini, lebih baik cerai pisah, karena nanti masih bisa liat dia. Aturan masa awal dia minta cerai, aku kabulkan aja. Biar tak seberesiko ini, masa dia melahirkan itu. Kondisi hamil, dia tau dimadu, jadi tuh dia kek stress terus pas masa hamil. Bisa fatal kan itu akibatnya?" tambah papah Adi kemudian.


Kedua host itu pun mengangguk, mereka pun terlihat begitu serius.


"Menyesal pun tiada guna ya, Bang? Untungnya kak Dinda panjang umur." host berkaca mata membuka mulutnya kembali.


"Iya, alhamdulillahnya panjang umur. Alhamdulillah juga bisa bertahan sampai sekarang, rumah tangga masih bertahan meski ujiannya tak udah-udah." papah Adi terlihat begitu bersyukur, ia pun langsung merangkul mamah Dinda.


"Bohong ujian rumah tangga itu cuma lima tahun pertama aja. Dari awal sampai sekarang, rumah tangga kita masih diuji aja." mamah Dinda bersandar pada papah Adi, lalu ia menegakkan kembali kepalanya.


"Ujian rumah tangga itu seumur hidup. Makanya, cari pendamping yang pas. Biar saat badai menerjang, kita bisa saling menguatkan. Dari materi, orang tua, pihak ketiga, terus yang terakhir anak-anak. Yang paling berat ini anak-anak, karena permasalahan mereka tak ada ujung pangk*lnya." papah Adi ternyata bisa serius juga.


"Dulu aku berpikir. Seumur hidup itu lama, pasangan bisa ganti kalau dia tidak bisa bikin kita bahagia. Makanya, aku sempat jadi janda juga. Ternyata, di rumah tangga aku yang kedua ini, permasalahan yang sama yang bikin kita renggang. Orang ketiga masuk, yang porak-porandakan hubungan aku sama suami. Aku sadar masa itu, harusnya aku pun tak boleh milih buat pergi, meski bertahan lebih menyakitkan. Adik ipar aku, adik bungsunya dia. Dia bilang begini... Kalau memang tak sudi pergi, bertahan sakit, ya usahakan dapatkan kembali, singkirkan penghalang rumah tangga. Udah tuh aku semangat nyusun siasat, biar pas aku ketemu sama istri lainnya, istrinya itu langsung minta cerai sama dia. Awalnya aku berpikir, mau jelek-jelekin bang Adi depan dia. Tapi, aku bakal terlihat tak beretika dan kurang pendidikan. Mana kan, perempuan itu pasti bertahan meski kejelekan pasangan udah nampak depan mata. Jadi pas masanya tiba, aku buka soal materi. Karena aku ngerasa sendiri, aku kan perempuan nih, aku sensitif masalah uang. Jadi aku bongkar keuangan bang Adi di situ, terus tak lama keluar itu rengekan cerai dari istri lainnya."


...****************...


Jangan dicari judulnya di YouTube. Gak bakal ada, karena cuma kehaluan Author aja 😆

__ADS_1


__ADS_2