Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD216. Diskusi planning


__ADS_3

"Masalah pertunangan itu, maaf. Aku janjikan juga pernikahan, untuk perempuan yang di sana itu. Udah, hanya sebatas itu. Kelak pun, aku bakal urus langsung perceraiannya. Lari ke mana pun, nyatanya aku tak bisa lari dari tanggung jawab. Bukan karena perempuannya hamil, bukan kek gitu. Masalahnya, dulu aku keterlaluan masa pacaran sama dia. Kesuciannya, aku yang renggut. Aku coba kasih paham, laki-laki di luar sana pun pasti ada yang mau, kalau kita jujur. Tapi masalahnya, dia ini dari keluarga terpandang. Aku juga udah tawarkan, masalah operasi vaginoplasty dan hymnoplasty. Tapi dia tetap tak mau, dia cuma nuntut status janda dari aku. Katakanlah, ada hitam dia atas putih. Aku pun jujur sama dia, aku udah beristri sekarang. Tapi dia tetap tak mau tau, tetap pengen aku sembunyikan Canda ini. Karena, kelak publik tau bahwa dia nikah sama pria beristri. Otomatis, reputasi keluarganya hancur. Diambilnya HP aku, diretas semuanya, seolah jejak media aku tak ada dicari. Coba kabur, bukan sekali aku lakukan. Nah, kaget aku masa istri tak ada di rumah. Tapi pikiran aku tenang, karena uang kiriman aku tiap bulan ternyata tak ada komplain dari pihak bank. Maksudnya, Canda masih gunain nafkah dari aku. Tanpa ada laporan transaksi ditolak dari penerima. Aku tenang di situ, tak mikir aku Canda pergi dari aku karena pertunangan itu. Karena, sebelum pergi aku nekanin beberapa kali ke dia. Aku minta dia untuk tanyakan apapun sama aku. Aku juga tau, Canda pasti denger nih kabar ini. Cuma aku tenang, karena aku selalu minta Canda minta penjelasan sama aku. Tapi aku yang dibuat kaget di sini, ternyata Canda pergi dari aku, untuk nuntut cerai." ungkap bang Daeng panjang lebar.


Kok bisa ia berpikir aku akan bertahan menunggu penjelasan darinya di kos?


"Kau salah." suara papah Adi begitu datar.


"Ya, aku salah. Harusnya aku pun dengerin nasehat ayah aku di rumah. Perempuan yang pergi dari suami, terus nuntut cerai. Ada masalah apapun dia sama suami barunya kelak, ia bakal ngelakuin hal yang sama. Bukan aku mau dikasihani. Aku kesusahan loh buat nafkahi dia, menuhin kewajiban aku. Bukan aku minta dia jadi seperti yang aku mau, bukan kek gitu. Aku cuma minta, dia minta penjelasan sama aku, denger cerita dari sudut pandang aku, bukan pergi kek gini. Aku paham kode etik kehidupan, tentang perempuan yang tak pernah salah. Tapi Papah juga harus paham, tentang hakikat perempuan yang memiliki sifat bengkok." suaranya bergetar, ia menatapku begitu getir.


"Abang ini lagi dirundung masalah, Dek. Bukannya lagi hore-hore, bahagia bareng yang di sana. Demi sebuah foto, yang dipajang untuk harga diri Putri. Abang ditendang, dipaksa untuk berlutut. Mending kalau Putri yang nendang, tenaganya tak seberapa. Ini bodyguard-nya, yang Putri pasang untuk dapat apa yang dia mau dari Abang. Kerjaan numpuk, HP tak megang, uang pas-pasan. Dituntut seperti ini sama Putri, pikiran ada di Adek aja. Itu tuh udah dibantu Raya sama Kato. Mereka urus pekerjaan Abang, Abang datang tinggal nyimak dan kasih tandatangan. Bukan Abang bikin ribet hidup Abang sendiri, tapi Abang baru mulai merintis. Telatenin eksportir, sebulan lima juta, premi belasan belum dihitung uang lembur. Abang telatenin itu, karena paham istri di kos udah ngandung. Abang tak mungkin, biarkan bayi Abang besar di dalam kos yang sepetak itu. Mana kan, Abang baru merintis sama grupnya Ghavi ini. Sadar diri tak punya modal, Abang cuma bisa masukin barang dan pasarkan di Singapura. Abang lakuin, tanpa ganggu uang jatah Adek sepuluh juta sebulan itu. Pengen cepet punya rumah, Adek lahiran di sana, anak-anak besar di rumah yang nyaman. Tuh, tengok ke depan. Brio warna merah, Abang udah dapatkan juga. Persis yang Adek mau, tapi maaf cuma mampu beli second, itu pun jual mobil Abang juga."


Aku sesenggukan, mendengar penuturan dengan suara yang bergetar hebat itu.


"Abang udah nego seribu kali sama Putri. Mulai dari status palsu, pernikahan palsu. Abang tarik juga satu kawan, untuk dijadikan suaminya. Abang tawarkan operasi, Abang sanggupi biayanya. Tetap tak ngaruh untuk Putri, dia cerdas, dia selalu bisa jawab, Abang kalah sama dia. Harus gimana lagi coba, Dek? Abang pun tau, kelak Adek tau masalah Abang, Abang yakin Adek cuma bisa nangis. Bukannya bikin ribet hidup sendiri, masalah semuanya udah terlanjur. Mau dilepas satu persatu, Abang tak yakin bisa dapat masa depan yang cerah." suaranya menurun lemah.

__ADS_1


"Biar Mamah bantu. Jelasin titik masalah, beberapa pekerjaan kau, sama orang-orang yang bersangkutan. Tapi sebelum itu, kau punya planning apa untuk Canda? Kau ceraikan kah? Atau kau pertahanan? Dulu pun, kalau Mamah tau masalah rumah tangga dia sama sulung Mamah. Mamah tak akan tinggal diam, Mamah pasti bantu jalan keluarnya. Udah begini, udah di ujung tanduk. Canda pun udah ngelakuin kesalahannya dua kali, nyatanya dia tetap tak mengerti. Jadi biar Mamah bantu."


Aku memandang mamah Dinda dari samping, aku kaget mendengar keputusannya.


"Aku ada planning lanjutin pernikahan. Tolong jangan minta buku nikah aku, untuk diurus perceraiannya." jawab bang Daeng kemudian.


Mamah Dinda mengangguk, "Pekerjaan kau?"


"Kau terima berapa, dari masing-masing kedudukan itu?" mamah Dinda begitu serius membahas ini.


"Dari pintu apartemen, benar-benar gak ada pemasukan. Dari Suplai Nova Scotia, dapat gaji sepuluh jutaan dengan premi bersih sekitar tujuh jutaan. Dari Indo Walet, gaji lima jutaan dengan premi bersih sekitar tiga jutaan. Dari Ghavi, dua jutaan paling, karena habis untuk akomodasi aja. Itu semua, udah dipotong makan dan tempat tinggal."


Mamah Dinda menjentikan jarinya, "Kau resign di semua pekerjaan. Jual apartemen, beli ladang. Sembari nunggu panen, kau kerja sama Papah. Tak usah beli rumah di sana, karena mantan mertua yang baik hati ini udah buatkan ruko dan inves modal usaha." mamah Dinda tersenyum lebar.

__ADS_1


"Heh! Enak aja!" papah Adi sepertinya keberatan.


"Kenapa memang? Kasihlah Lendra buat tanggung jawab di sepuluh ladang Abang. Udah naik kak gajinya sekarang? Jaman aku dulu, lima belas jutaan." suara mamah Dinda seperti membujuk.


"Jangan lah, Mah. Bang Daeng orangnya licik." semua mata tertuju padaku.


"Dia suami kau loh, Ndhuk." bisik ibu dengan menggoyang lenganku.


Aku memandangnya, terlihat pandangan bang Daeng penuh tanda tanya.


...****************...


Jadi bagaimana keputusannya?

__ADS_1


__ADS_2