Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD401. Kaki ketiga


__ADS_3

"Mas, aku kangen."


Mas Givan hanya merangkulku. Membuatku kini, malah anteng bersandar di dadanya.


"Mas, pengen gituan." aku memperhatikan dari bawah. Dilihat dari sisi mana saja, mas Givan tetap tampan.


Sejak kehamilan yang ini, aku merasa sering mengagumi ketampanan mas Givan.


Helaan nafasnya, malah semakin membuatku ingin bermesraan dengannya.


"Jangan ngadi-ngadi coba, Dek. Kita numpang di sini, kita tak ada kamar. Mau gituan di mana coba?" alisnya menyatu, dengan mas Givan yang menarik tangannya dari bahuku.


Mau tak mau, aku melepaskan rengkuhanku pada dada lebarnya. Padahal aku nyaman seperti itu.


"Sebentar aja, Mas." baru kali ini aku meminta padanya.


Namun, mas Givan menolakku secara tidak langsung.


"Tak mau, Dek." skakmat. Penolakan yang begitu menikam.


Aku langsung tertunduk, dengan menahan bibirku agar tidak bergetar. Aku memang cengeng. Aku takut sakit hati, karena penolakannya.


Aku ini siapanya sih? Apa jangan-jangan, mas Givan rutin melakukannya? Membuatnya tak ingin untuk menafkahiku.


"Jangan nangis lah, Canda. Nanti mamah bangun, aku bisa malu. Kau tega permalukan suami kau sendiri?" mas Givan mengusap-usap kedua bahuku.


Aku mengusap kasar air mataku, "Mas Givan di sana nidurin siapa sih? Kok sama istri sendiri, kek tak butuh." aku meliriknya, kemudian tertunduk kembali.


"Nidurin Putri. Enak, pegangannya kokoh."


Dengan cepat aku menepuk pipinya. Aku tidak suka, meski mas Givan hanya bergurau.


Mas Givan memegangi pipinya, "Ya Allah, Canda." matanya menyiratkan kemarahan, dengan urat-urat leher yang menonjol.


Begitu saja marah.


"Tak keras pun. Kek ditabok kencang aja. Lebay betul sih!" aku bangkit, hendak melangkah ke kamar.


Aku tidak suka tanggapannya yang berlebihan.


Namun, pergelangan tanganku dicekal olehnya.


"Udah sini, anteng! Minta ke suami, tak ada etikanya betul. Kata siapa kau begitu?! Berani kah nabok suami sendiri?! Siapa yang ngajarin?!! Jangan sekali-kali lagi berlaku kasar ke suami. Aku selalu tak ingatkan diri sendiri, kalau kau tak sama dengan Ai. Tapi liat tingkah kau begini, bikin ingat aja!!" suaranya rendah, hanya wajahnya begitu menyeramkan.


"Hei, Mas. Pelan aja." aku duduk kembali di sebelahnya.


"Pelan aja! Pelan aja! Kau tetap tak sopan kek gitu, Canda!" ia memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Mas Givan....." aku terisak dengan menyentuh lengannya, "Maafin aku." tangisku pecah, karena ia malah mengibaskan lengannya yang aku sentuh.

__ADS_1


"Maafin aku." aku mendekap lengannya erat, meski ia tak mengizinkan.


"Ya Allah, Canda." ia malah membekap mulutku, dengan telapak tangannya.


"Tak berhenti nangis, aku hanyutin kau di laut!" matanya sampai melotot-melotot.


Aku mengangguk cepat, kemudian menyembunyikan wajahku di dadanya. Biar saja dadanya penuh dengan air mata dan ingusku.


"Kau nyebelin betul, Canda. Rasanya aku pengen jerit di bawah air, biar tak ada yang dengar. Kaku betul loh jadi suami kau, Canda. Ya Allah, Lendra. Kau namanya tega sama aku. Perempuan begini, kau amanatkan ke aku." mas Givan merengek dengan tangis palsu.


Aku mencubit perutnya, dengan tawa tertahan.


"Mas bisa aja hibur aku." celetukku, dengan mengusap lehernya.


Ia menunduk, "Heh! Mana ada ya aku hibur kau!" mas Givan meraup wajahku.


Aku semakin tergeletak, dengan menciumi dadanya yang bebas aku sentuh itu.


"Heran aku sama kau. Sawan apa sebetulnya? Kau nangis, ketawa, nanti mewek lagi, drama lagi, tetep sih minta maaf, tapi diulangi lagi." mas Givan membingkai wajahku.


Kemudian, ia menciumi seluruh wajahku.


"Mas, aku pengen gituan." aku meraup b*birnya seketika.


Apa seperti ini rasanya gatal yang diderita Putri? Sampai ia begitu agresif, pada semua laki-laki.


Mas Givan mengusap bibirnya sendiri, setelah pag*tan kami terlepas. Ia melepaskan tanganku, yang sedari tadi membelenggunya. Kemudian, ia langsung berdiri dan berjalan ke arah kamar.


Aku di sini, ia malah melongok ke kamar.


Aku jadi bingung sendiri.


Saat berbalik, mas Givan menurunkan resleting celana Chino panjang itu. Mau apa dia? Aku jadi deg-degan.


"Mau apa, Mas?" ia berdiri tepat di depan wajahku.


"Bisanya nanya mau apa?! Kau tadi minta." ia menjawab, dengan suara tangis palsu.


"Heh? Di sini? Kita tak booking kamar di Oyo aja kah?" aku menahan tanganku, saat mas Givan menariknya dan menempatkannya di tonjolan itu.


"Oyo Wisma Kuta Karang? Kau bawa buku nikah? Ini Aceh, Cendol! Udah, jangan mempersulit." mas Givan menarik celananya lebih ke bawah.


"Mau diapakan ini, Mas?" aku melongo saja, saat mas Givan mengeluarkan kaki ketiganya.


"O*al lah."


Gila memang.


Aku geleng-geleng kepala saja, dengan mendongak menatap wajahnya. Alisnya malah terangkat sebelah, kemudian ia mengedipkan matanya genit.

__ADS_1


Masya Allah, gantengnya suamiku. Untung kemarin cuma aku istri resminya. Jika ada mantan istri, yang dinikahinya secara resmi. Sepertinya, aku akan benar-benar mengantonginya.


"Pegang, Canda!" mas Givan membimbing tanganku, untuk menyentuh kaki ketiganya.


Aku harus ingat di sini, bahwa suamiku bukan orang penyabar. Aku tidak boleh kelolodan lagi, kemudian menangis. Nanti aku akan benar-benar dihanyutkannya di laut.


"Mas, nanti aku rebahan di mana?" aku memijat kaki ketiganya, agar ia tidak lelah.


"Kau di atas lah. Masa iya rebahan?" ia tersenyum menyebalkan.


Sudah berapa perempuan ya, yang rambutnya diikat menggunakan tangannya seperti aku sekarang ini.


"Mas, nanti aku mau curly yang kek mamah." aku mendongak menatapnya kembali.


"Terserah kau, Canda. Setengah curly, setengah rebonding pun aku iyakan." ia menekan kepalaku, agar wajahku dekat ke kaki ketiganya.


"Mas, tapi mahal. Dulu aja, dua setengah juta loh. Tapi aku dimodali bang Lendra masa itu. Bukan sih, tapi pas di salon aku tak mau bayar." aku mendongak kembali.


Ia menghela nafasnya, "Pernah belum lahiran lewat mulut? Barangkali yang ketiga mau nyobain rasanya lahiran lewat mulut." wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.


Ia marah.


Cepat-cepat aku membuka mulutku. Aku tak mau mencari gara-gara dengannya. Dia kira aku ikan arwana, yang mengeluarkan bayinya lewat mulut.


Pasti menyeramkan.


Aku bermandikan keringat, sampai kecut baunya. Masalahnya, aku takut ketahuan mamah Dinda.


"Ish, Canda! Aku kek masak sayur asem."


Aku mencium pipi suamiku, karena aku berada di atas pangkuannya ini. Ada-ada saja dia ini, mas Givan memang bawel.


Mas Givan duduk di lantai beralaskan karpet permadani, dengan bersandar pada kursi. Ia selonjoran, dengan persis menghadap pintu kamar mamah Dinda.


Semoga mamah Dinda pura-pura tidak mendengar suara hujan ini. Ini terlalu mengganggu, karena aku begitu rindu suamiku.


"Mas, beli parfum mahal kek Mas." aku menyatukan dahi kami.


"Udah ada." mas Givan berhenti membantu naik dan turun, "Mars Jacobs, seri Daisy. Produk itu cepat habis di official shopnya." ia memelukku dengan perutku yang mengganjal.


"Harganya berapa, Mas." aku merasa perutku tidak nyaman, jika dipeluk dari depan seperti ini.


"Eummm...." bola matanya berputar ke atas, "Kalau dirupiahkan, sekitar sembilan ratus sembilan puluh delapan. Aku beli di Singapore kemarin. Karena kau bau kecut, pas hamil yang ini. Jadi aroma bunga, mungkin lebih cocok, biar kita selalu ingat kuburan baru. Jadi insaf terus." mas Givan berkata, dengan akhirnya tertawa geli.


Dasar, iseng mulutnya!


"Nanti lama loh kalau ngobrol aja. Cepat lah gerak, Istriku." mas Givan mengusap pipiku, dengan senyum yang merekah.


...****************...

__ADS_1


Lagi ngapain sih mereka? Kaki yang ketiga itu sebelah mana 🙄


__ADS_2