Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD382. Obrolan ringan umi Syura


__ADS_3

"Kepo tentang Ai Diah, Mas." aku sudah melepaskan kerudungku.


Dengan cepat juga, aku menarik pengait wadah dadaku. Plongnya, seperti tidak ada beban.


"Sering begitu, begah kah?"


Aku menoleh pada suara itu. Ternyata, mas Givan tengah memperhatikanku.


"Aku keknya gemukan, ngerasain tak nyaman pakai ini lama. Padahal ini baru semua, Mas." aku memposisikan bantal, agak nyaman bersandar.


Alhamdulillah, jauh dari orang tua. Mas Givan berubah menjadi suami yang memanjakan istrinya. Apalagi, aku tengah hamil muda seperti ini.


"Nanti kita cari toko macam-macam jeroan ya? Sekarang istirahat aja dulu, biar kondisinya stabil."


Kehamilanku cukup aman. Hanya saja, aku selalu kurang darah.


"Jeroan apa sih, Mas?" tanyaku kemudian.


"Dal*man, Canda." mas Givan merebahkan tubuhnya di sampingku.


"Cucu, Yah." Ceysa sedikit jelas berbicara.


Ia sekarang begitu bergantung pada ayahnya ini.


"Susu kotak aja. Gih ambil. Tuh, di laci itu tuh." mas Givan menunjuk ke arah meja kerjanya.


Entahlah, bagaimana konsepnya. Mas Givan sengaja menyimpan susu kotak di sana, agar Ceysa bisa mengambil sendiri saat malam katanya.


Ya benar sekali. Ruang kerjanya, menyatu dengan kamar kami. Pilihannya membeli susu kotak, agar ia tidak perlu diganggu untuk menyeduh susu. Padahal, jelas lebih boros. Sehari, Ceysa lebih dari tiga kali meminum susu.


"Yayah, encus." Ceysa menyodorkan susu kotak berwarna pink itu.


Mas Givan membantu Ceysa naik ke ranjang, "Sini, Adek Ces duduk di sini. Udah ngantuk ya Adek Ces?"


Ceysa mengangguk, "Mau bobo." Daeng kecilku. Gemas betul aku padanya.


Sejak aku hamil, Ceysa menjadi pengertian. Ya pengertian untuk merecoki ayahnya, bukan biyungnya.


"Pusing." mas Givan sudah mengusap-usap punggung Ceysa.


Ceysa telah menghabiskan susu kotaknya dengan cepat. Lalu ia langsung berbaring di dekat ayahnya.


"Kenapa, Mas?" aku hamil empat bulan, tapi seperti hamil enam bulan.


Besarnya perut ini, padahal hanya bayi tunggal. Tak apa, yang penting sehat-sehat.


"Lama tak dikeluarkan. Sejak tau hamil, malah sering libur. Kan aku pusing, Canda." ini bukan curahan hatinya yang pertama.


"Nanti ya lusa? Perut aku lagi kurang nyaman."


Mas Givan tidak mengiyakan, tetapi ia mengangguk samar. Ini bukan alasanku semata, ini karena memang aku sering kram perut.

__ADS_1


Esok harinya, aku makan sarapan buatan umi Syura. Saudara mas Givan sudah kembali ke rumah mereka masing-masing tadi malam, hanya papah Hendra dan umi Syura saja yang masih tinggal.


"Kamu di Aceh tinggal sama siapa, Canda? Kan katanya, ibu kamu juga di Aceh ya?" tanya beliau, setelah aku selesai makan.


Sekarang aku tengah menguapi Ceysa. Ia sudah mengerti, ketika makanan di mulutnya habis, ia akan kembali ke arahku. Setelah mulutnya terisi kembali, ia mulai berlanjut mengitari rumah dan ruangan. Hanya itu kegiatan dan hobinya. Entah bakat apa seperti ini.


Mas Givan sudah berangkat kerja. Ia on time berangkat setengah tujuh pagi, meski ia seorang pemilik pertambangannya sendiri.


"Sama mamah Dinda. Nanti trimester kedua, rencana mau pulang terus tinggal di rumah baru mas Givan." jawabku dengan tersenyum ramah.


"Oh, gak tinggal sama ibumu?"


Aku menggeleng, "Diboyong mamah Dinda. Awal menikah pun, aku diboyong mamah Dinda."


Aku teringat di pernikahan pertamaku dengan mas Givan. Hanya papah Hendra yang hadir, tidak dengan umi Syura.


"Kamu betah sama mamah Dinda?"


Pertanyaan yang mengecoh nih.


"Betah, enak tinggal sama mamah malah. Biarpun mulutnya berisik juga, tak dibedakan menantu sama anak tuh. Dimarahin satu, dimarahin semua. Misal beli bakso pun, ngitung kepala. Cuma ya gitu, mas Givan kan bawel. Jangan Canda, malu. Tak boleh gitu Canda, tak enak sama mamah." jelasku dengan tersenyum lebar.


"A, Biyung." Ceysa berjalan ke arahku.


Aku kembali menyuapinya, "Mainan apa, Dek?" aku memperhatikan Ceysa yang penuh keringat ini.


"Wacih, Biyung. Atuh semua."


"Ambilin dong, sini Biyung kupas."


Ceysa mengangguk, kemudian ia berlalu pergi ke arah kamar lain lagi.


Tidak ada hari, tanpa memberantakan makanan. Ceysa hobi memberantakan makanan juga, selain hobi memutari rumah.


"Givan memang gitu kan anaknya?" aku mengangguk, mengiyakan ucapan umi Syura.


Aku sudah tahu watak dan sifat mas Givan.


"Kapan ke Aceh lagi memang?"


Aku mengingat kembali percakapan ketika aku bertelepon dengan mamah Dinda. Kalau tidak salah, bulan depan aku diminta untuk pulang.


"Bulan depan, Mi. Soalnya kandungan udah aman dibawa perjalanan jauh." jawabku kemudian.


Kamu berlanjut hanya mengobrol ringan, seputar masakan saja. Karena jujur, aku merasa canggung dengan beliau. Tidak seperti mamah Dinda, aku merasa beliau bisa menjadi temanku juga.


Hingga malam harinya, aku ditinggal sendirian di rumah. Karena mas Givan tengah mengantarkan orang tuanya ke bandara. Ceysa pun, ikut mas Givan untuk mengantar orang tuanya.


Drttttt.....


Bunyi ini yang selalu membuatku was-was. Aku takut itu suara setan. Yang ternyata, itu hanyalah bunyi ponsel yang bergetar di atas meja kerja mas Givan.

__ADS_1


Mas Givan lupa membawa ponselnya.


Putri.


Kontak dengan nama itu, melakukan panggilan masuk ke kontak mas Givan.


Hufttt, aku tidak mengerti lagi gimana konsepnya.


Aku langsung mengangkat telepon tersebut, "Halo, Put." agar Putri paham, bahwa istri mas Givan kini ada selalu di sampingnya.


"Oh, Canda. Givan ada? Aku mau bicarakan SDA milik aku yang dikasih suamimu itu." apa maksudnya coba?


Mas Givan sudah menceritakan hal itu. Sepertinya, Putri sengaja mengatakan hal itu agar aku syok.


"Tak ada. Aku kira, masalah SDA itu udah kelar. Mas Givan udah ada bahasan tentang itu. Kau udah dapat juga, Put. Kau butuh apalagi sebetulnya? Aku udah ngandung anaknya mas Givan lagi. Aku pikir, kau udah tak selera buat dapatkan suami orang." aku sampai berkata demikian, karena aku benar-benar muak padanya.


"Gak semudah itu aku mundur, Canda. Kau liat aja." tawanya begitu membahana.


Dasar, Putri Ular!


Aku rasa, orang tuanya salah memberi nama.


Aku langsung mematikan panggilan telepon itu sepihak. Aku memilih untuk manaruh ponsel mas Givan di tempatnya kembali, setelah menghapus histori panggilan telepon tadi.


Aku akan melapor pada mamah Dinda saja, meski jelas mas Givan pernah memperingatiku di awal. Ya apalagi kalau bukan masalah SDA yang diambil alih oleh Putri. Mas Givan menginginkan aku untuk menyembunyikan kebenaran itu dari mamah Dinda. Karena mamah Dinda menentang keputusan mas Givan itu.


Alias, mamah Dinda tidak tahu menahu mengenai SDA yang diambil alih oleh Putri itu.


Tetapi, dua kali menelpon nomor mamah Dinda. Dua kali juga, panggilan itu tidak mendapat jawaban.


Masa iya mamah Dinda sudah tidur jam delapan malam?


Mamah Dinda paling cepat tertidur, sekitar pukul sembilan.


Tiba-tiba, nomor keluarga lain menghubungiku.


"Ya, halo. Gimana, Giska?" aku langsung menempatkan bantal, agar bersandar nyaman.


"Bang Givan mana, Kakak Ipar?" suara Giska seperti menangis.


Aku langsung paniknya saja. Ada apa dengan ibu dua anak laki-laki ini. Ya, anak keduanya pun laki-laki. Yang diberi nama Fandi Ahmad.


"Mas Givan lagi keluar. Ngomong sama aku aja, nanti sampaikan. Terus kenapa, kok kau sampai nangis gitu? Ada apa, Giska?" aku memperhatikan jam dinding.


Baru sepuluh menit yang lalu, mas Givan meninggalkan rumah.


"Aku sama bang Adi lagi jalan ke rumah sakit. Papah......


...****************...


Disangka lempeng ya episode ini 🙈

__ADS_1


__ADS_2