Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD348. Kamar ayah


__ADS_3

Aku hanya bisa menghela nafasku, saat melihat wajah Putri di rumah ini. Ia asik-asikan rebahan di sofa ruang tamu.


Ia melirikku sekilas, lalu fokus pada ponselnya lagi.


Muak betul aku padanya. Entah kenapa, aku panas hati melihat rupanya. Tidak bang Daeng, tidak mas Givan, sama-sama dibelenggu olehnya. Aku bertambah tidak suka saja, saat mendengar cerita mamah Dinda, tentang Putri mengupload video singkat tentang keintimannya dengan mas Givan.


"Istirahat aja dulu, Canda. Aku tinggal dulu ya? Aku lagi diminta beres-beres sama pak wa."


Pak wa, adalah sebutan papah Adi untuk Novi.


Aku hanya mengangguk, kemudian aku berbelok ke kamar milik Giska. Aku cukup pangling, melihat kamar ini. Karena sudah dicat, barang-barangnya pun sudah banyak yang pindah posisi.


Aku memilih untuk mencuci muka terlebih dahulu, lalu mengistirahatkan tubuhku sejenak.


Malam harinya, kami sekeluarga tengah berada di rumah makan yang menyajikan makanan olahan kambing. Padahal, papah Adi dilarang. Tapi, mau bagaimana lagi. Olahan kambing muda, adalah makanan favorit papah Adi.


Ada aku, mas Givan, papah Adi, Novi, ibu, Ria, kak Ifa, Chandra, Key, Ceysa, Zio. Putri sengaja ditinggal sendiri, berharap agar ia mengerti bahwa keluarga kami keberatan.


"Helikopter yang anter bang Lendra itu punya siapa sih, Pah?" tanyaku pada papah Adi, beliau duduk bersebelahan denganku.


"Punya Putri, udah balik helikopter sih. Cuma anter Putri ke sini, terus helikopter pulang sekalian antar Lendra. Cuma entah, kenapa Putri tak pulang-pulang. Udah risih Papah, meski dia tak pakai baju seksi di rumah juga. Tak nyaman, kalau ada orang asing di rumah." jawab papah, ia menarik kembali daging sate kambing muda dari tusuknya.


"Ada masalah sama bang Givan, Canda. Cuma entahlah, kenapa tak selesai-selesai. Masih ada yang Putri tuntut dari bang Givan, pas aku nanya sih." tambah Novi, yang duduk di sisi lain dariku.


Aku diapit oleh papah Adi dan Novi.


"Udah Pak wa tanya, Pak wa coba bantu selesaikan, tapi Putri kek berbelit-belit. Udah capek ngobrolinnya." papah Adi menyahuti ucapan Novi.


"Masa harus nunggu mak wa, Pak wa? Lama dong."


Aku menoleh pada Novi, "Memang masih lama ya mamah di sana? Bang Lendra belum sembuh ya di sana?" tanyaku kemudian.


Namun, Novi malah mengedikan bahunya.


"Tanya Pak wa, aku tak pernah telponan. Aku tadi aja cuma diminta datang, buat bantu beres-beres rumah sama Pak wa. Mumpung aku libur kerja, anak-anak juga lagi main juga." pandangan Novi tertuju pada anak-anak yang tengah menyantap makanan yang susah dikunyah itu.


"Ayah......" Chandra memegangi kedua pelipisnya.


"Kenapa, Bang?" mas Givan masih menyuapi anak-anaknya bergantian, dengan dirinya menikmati makanan yang masih tersaji.


"Kepala aku kok pusing, kek goyang-goyang." aku malah tertawa, mendengar aduan Chandra tentang kondisinya.


"Abang makan sate yang mana?" tanya mas Givan.


Ada sate ayam, untuk dikonsumsi anak-anak dan yang tidak menyukai sate kambing.


"Itu." Chandra menunjuk piring yang berada di depan kakeknya.

__ADS_1


"Ambil dari situ, tapi tak pedas." Chandra kembali memegangi kepalanya.


"Pantaslah." mas Givan geleng-geleng kepala.


"Ayah aja tak makan, bisanya Abang berani makan?"


Mas Givan kurang menyukai olahan daging kambing, apa lagi daging kambing muda yang dikonsumsi papah Adi. Jika makan sate kambing lebih dari satu tusuk, mas Givan selalu merasa kepalanya pusing. Ternyata, hal itu menurun pada Chandra.


Yang jago makan olahan kambing, hanya Ghifar.


"Papah jangan banyak-banyak, Pah." aku menyentuh lengan papah Adi, yang terlapisi kemeja berwarna hitam yang digulung.


"Tak, Dek. Papah cuma makan secukupnya, bukan niat menjandakan mamah." jawab beliau.


Aku mengangguk, kemudian memilih bangkit untuk menolong Chandra.


"Bang Chandra makan berapa tadi?" aku menggendong Chandra.


"Segini, Biyung." Chandra mengisyaratkan empat jarinya, dengan ibu jari yang menekuk.


Mungkin, di taman kanak-kanaknya belum belajar sampai jauh.


"Mabok." ungkap papah Adi, membuat gelak tawa yang merata.


"Sama Ayah yuk? Cari es kelapa." tumben apa, mas Givan langsung mengambil alih Chandra.


Ia menciumi putranya yang paling beruntung itu, "Kasian anak Ayah Givan, mabok sate." ia membawa anaknya berjalan menjauh.


Mas Givan hanya mengacungkan ibu jarinya. Ia tetap melangkah tegap, dengan anaknya di dekapannya.


Aku merasa bahagia, melihat mas Givan banyak berubah. Atau, ia akan terbang ke Kalimantan lagi? Membuatnya begitu dekat pada anaknya. Karena seperti ini kebiasaan mas Givan.


"Lanjut makannya dulu, Dek."


Aku mengangguk, kemudian kembali ke kursiku.


Saat berada di rumah, aku dipaksa oleh Chandra untuk mengikutinya ke kamar ayahnya. Untungnya, di dalam kamar ada papah Adi juga.


"Bang Chandra tuh, tak bobo sama ibu kah?" aku menemaninya di atas ranjang penuh kenangan ini.


"Sama Kakek, sama Ayah." Chandra sudah tidak mabuk sate kambing lagi.


"Zio sama Chandra susah akur, Dek. Aku geram, tengok mereka berantem terus." ujar mas Givan.


Aku ingin disebut dek selamanya olehnya.


Aku kembali mengusap surainya, "Bobo, Bang. Adek Ceysa udah bobo."

__ADS_1


Ceysa sudah tergeletak di ruang televisi, bersama piring dan sendok mainannya. Setelah acara makan bersama di luar, Ceysa malah terus menerus melakukan acara menyuapi orang-orang rumah dengan mainannya.


Ceysa punya dunianya sendiri.


"Mau main, Biyung. Bosen." Chandra malah menggulingkan tubuhnya ke sana ke mari.


"Malam, Chandra! Besok sekolah! Berani begadang lagi?! Sekolah belum satu minggu, kau libur udah tiga hari." mas Givan mulai meninggikan suaranya.


"Nurut tuh sama Ayah." aku melindunginya, mendekapnya dan mengusap kepala belakangnya.


"Aku tak ngantuk, Biyung." Chandra bersuara lirih.


"Nanti tuh, Van. Jangan disuruh tidur siang. Tak apa badan anget sehari sih, yang penting jam tidurnya teratur lagi."


Chandra selalu meriang, jika tidak tidur siang. Namun, jika tidur siang. Ia malah kuat begadang. Dulunya tak seperti ini. Tapi ia malah seperti ini, sejak ia sakit diare itu.


"Tak tega aku liatnya nahan ngantuk, Pah." sahut mas Givan lirih.


"Sini sama Kakek, diayun-ayun." papah Adi melambaikan tangannya pada Chandra.


"Bobo tuh, Bang! Cepet, Ayah mau ngobrol. Udah berapa episode nih, nanti lama endingnya." tegas mas Givan.


Chandra berjalan lunglai menuju kakeknya. Dengan papah Adi, yang langsung menyambut Chandra dengan tersenyum. Beliau penyayang semua cucunya.


"Nanti kalau mamah tau Putri belum pulang tuh, marah lagi dia. Tak mau angkat telpon Papah lagi." ujar papah Adi, dengan menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan kanan. Mencoba membuat Chandra nyaman dan terlelap.


"Papah kan tau, aku coba selesaikan. Tiap hari, aku debat aja sama dia sampai aku bosen sendiri." mas Givan menutup kedua jendela kamar.


Lalu, ia menghidupkan pendingin ruangan. Kemudian memakai kaosnya yang tersampir di bahunya.


Aku memilih untuk tetap berbaring menyamping, dengan memeluk guling. Aku memperhatikan wajah mereka berdua bergantian.


"Ceysa pindahkan ke sini aja, Canda. Aku jam sepuluhan mau keluar." mas Givan melirik jam tangannya.


Aku malah melirik jam dinding, pukul setengah sembilan malam.


"Nanti aku pindahan ke kamar aja, Mas. Nanti aku mau liat TV." aku belum berniat ingin tidur.


"Di sini aja. Ada TV juga tuh!" mas Givan menunjuk televisi miliknya, yang menempel di tembok.


Ya, hanya itu yang terbaru di kamar ini.


Sepertinya, ini bukan barang peninggalan Nadya. Karena, saat bersama Nadya. Mas Givan masih belum memiliki televisi di kamarnya.


Aku mengangguk, lalu berjala untuk memindahkan Ceysa yang tergeletak pulas itu.


"Ya udah, nanti Papah coba ngomong lagi ke.....

__ADS_1


...****************...


Belum selesai konflik sama Putri ular 🙈


__ADS_2