
Aku menggeleng, mataku sudah basah karenanya. Aku tersakiti, karena ia menginginkan dua orang wanita sekaligus.
"Ini jawaban Adek kah? Gak sudi kah buat jadi pendamping Abang? Atau... Adek memang gak ada rasa ke Abang?" ia mencecar pertanyaan yang bingung kujawab.
"Canda!" ia menggoyangkan lengan atasku kembali.
Aku membuang nafas beratku, "Rasanya mustahil perempuan biasa aja, saat kebaikan yang Abang beri kelewat batas kek gini. Rasanya tak ada, perempuan yang bisa nolak dengan semua sikap Abang." aku melepaskan tangannya, yang masih menggenggam lenganku.
"Abang akui... Abang kelewat baik. Ini pun, Abang pertama kalinya sebaik ini sama orang. Jujur, Abang selalu gak tega liat kau diam dengan pandangan kosong. Jujur, Abang kasian Chandra dapat ibu macam Adek."
Mataku mencilak, saat ia berhasil menuntaskan kalimatnya.
Ia tertawa renyah, "Kasian, ibunya molor aja tiap kali dia kebangun. Adek gak tau kan berapa kali Abang nyeduh sufor tiap malam buat Chandra? Ya iya, roh Adek lagi traveling ke mancanegara sih." terangnya membuatku tertawa lepas.
Aku memang selalu seperti ini rupanya. Pantas saja, mas Givan selalu membentakku tiap malam agar terbangun.
__ADS_1
Tapi kenapa bang Daeng tidak membentak atau membangunkanku? Ia malah bergerak sendiri, untuk membuat sufor untuk Chandra. Meski dengan membangunkanku, sufor tidak perlu lagi diseduh. Karena aku bisa membuka tiga kancing teratas pakaian tidurku, dari pada bangkit untuk menyeduhkan sufor.
Pantas saja, botol dot milik Chandra tiap pagi selalu banyak yang kotor. Tidak pernah aku berpikir, bahwa Chandra terbangun tengah malam lalu menangis. Yang ada di pikiranku, bahwa aku lupa mencuci botol dot milik Chandra.
"Gak tega terus Abang kemarin tengok kau. Anak sakit, rewel. Adek cuma mampu nyusuin, sama ngasih makan Chandra. Selebihnya, Chandra disuruh tidur biar sembuh sendiri. Padahal, Chandra butuh obat buat legakan hidungnya. Chandra butuh obat buat nurunin demamnya. Chandra butuh vitamin, biar kekebalan tubuhnya cepat naik. Kadang mikir, ya ampun apa yang bakal terjadi kalau Adek gak diajak Enis. Menurut Abang, Adek ini bodoh-bodohnya orang sih. Tau pegang ATM saldonya besar, langsunglah ambil penerbangan ke rumah saudara. Atau kalau gak, ngontrak sendiri atau kek mana gitu." bang Daeng menempatkan bantal di atas pahanya.
Bang Daeng pasti belum mengetahui cerita aslinya tentang rencana Ghifar dan ATM itu.
"Bang Daeng..." aku memanggilnya, karena ia malah memainkan ponselku.
Ponselku tengah disita rupanya.
"Betul kah kalau transaksi itu ada jejaknya?" tanyaku kemudian.
Ia mengangguk, "Pasti ada. Tanggal masuk dan keluarnya uang juga pasti ada laporannya. Misal kita cetak mutasi buku tabungan kita, muncul tuh semua transaksi yang kita lakukan. Terus, kalau kita pakai mobile banking. Notifikasi langsung masuk tuh di HP kita, misal kita bayar belanjaan di minimarket pakai ATM." jelasnya dengan mengisyaratkan tangannya.
__ADS_1
Jadi seperti itu alarm yang Ghifar berikan untuk mengetahui posisiku?
"Itu yang papahnya Chandra buat." aku tak berani menarik nama Ghifar, apa lagi menjelaskan bahwa Ghifar adalah mantan pacarku dulu.
Dahinya berkerut, "Jadi... Pas di resto Samarinda, Adek pertama kalinya transaksi pakai ATM itu?" matanya mekar sempurna.
"Iya, Bang. Aku pun tak tau, kalau papahnya Chandra mantau aku dari situ. Awalnya... Dia minta aku pun ikut dia, dia ngasih tau surat cerai udah sampai juga. Tapi kata kak Raya, aku ini terikat kerja selama enam bulan. Jadi dia ngomong ini itu, jelasin masalah ATM itu. Terus akhirnya dibawanya Chandra. Mana kan, dia udah siapin mobil di bahu jalan. Jadi langsung dibawanya Chandra, lepas Chandra udah digendongnya. Mana Chandra juga tidur lelap, di tak nangis atau apapun pas dibawa papahnya." jelasku kemudian.
Bang Daeng mengusap tempat kumis dan rambut dagunya tumbuh. Kepalanya mengangguk beberapa kali.
Sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu.
...****************...
Tangkap sendiri 😢 lagi patah semangat ðŸ˜
__ADS_1