Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD371. Drama queen Canda


__ADS_3

"Heh, heh, heh.... Apa-apaan kau?!" Ghifar melongo saja, saat aku memberikan piring sarapanku padanya.


Ghifar doyan petai, orang rumah tidak akan curiga jika Ghifar membawa sepiring makanan dengan toping petai tersebut. Biar saja, kali ini aku mengambinghitamkan Ghifar.


"Ya, Mah." aku memenuhi panggilan ibu mertuaku.


Ke mana beliau?


"Mah?" aku celingukan di ujung ruang keluarga ini.


"Hei, Canda. Ini Mamah di dapur." seru mamah Dinda, membuatku langsung memutar arah.


"Canda.... Sini dulu!" suamiku yang berisik.


"Bentar, Mas. Dipanggil Mamah." aku melanjutkan langkah kakiku menuju dapur.


Entah di mana keberadaan mas Givan.


"Ya, Mah. Apa, Mah?" aku berjalan ke arah dispenser air dingin lebih dulu.


Aku ingin minum air, dengan kadar kesejukan yang tinggi.


"Heh! Kok pagi-pagi minum air dingin?" suara mamah Dinda semakin mendekat, saat aku tengah meneguk air minumku.


Biar saja, aku ingin tuntas minim sedikit lagi.


"Lagi pengen, Mah." aku menaruh gelasku di meja yang tersedia.


Mamah Dinda mengerutkan keningnya, beliau memperhatikanku dari atas sampai bawah.


"Kenapa, Mah?" aku malah ikut memperhatikan penampilanku pagi ini.


Daster baru yang Key berikan. Cukup bagus, dengan bahan yang tidak menerawang. Tidak ada yang salah dengan penampilanku. Aku pun, mengenakan hijab pasmina yang simpel.


Mamah Dinda menggeleng, lalu beliau berjalan ke arah wastafel cuci piring.


Ia menunjukkan sesuatu yang berada di dalam baskom, "Mamah belum tidur dari semalam. Minta tolong bersihkan dan rebus udang ya? Mamah mau istirahat dulu. Tapi biar bangun bisa langsung masak tuh." mamah Dinda mengusap lenganku, "Minta tolong ya, Canda?" beliau tersenyum manis.


Hal mudah. Aku pun sudah diajarkan untuk mengeluarkan jeroan udang yang berada di punggung udang tersebut. Dengan menusukkan tusuk gigi pada punggung udang, kemudian menariknya. Aku sudah bisa mengeluarkan kotoran udang yang tersimpan di saluran yang berbentuk seperti cacing itu.


"Ya, Mah. Tenang aja." aku menyanggupinya.


"Papah mana?" tanya beliau, dengan berjalan ke arah lain.


"Di belakang, Mah." aku langsung mengerjakan perintah dari mamah Dinda ini.


"Mamah ke papah dulu." aku hanya mengangguk, karena suara mamah Dinda pun sudah menjauh.

__ADS_1


Baru juga sukses melepaskan kepala udang, aku sudah dibuat mual-mual dan geli dengan cairan dari kepala udang. Berbau amis pada umumnya, tapi aku merasa begitu mual sekarang.


Cepat-cepat, aku langsung membasuh tanganku. Agar udang ini tidak semakin berbau, aku berinisiatif memberi perasaan jeruk nipis terlebih dahulu. Kemudian, aku segera meninggalkan area dapur ini dengan ujung hijab yang menutupi hidung dan mulutku.


"Mas...." aku memanggil ayahnya anak-anakku.


"Sini, Dek." sahutan itu berasal dari ruang depan.


Sepertinya mas Givan berada di ruang tamu. Aku tersentuh dengan panggilan dek dari mas Givan, sayangnya mulutnya tidak terbiasa menyebutku dek. Tapi aku ingin, itu nyaman di dengar telinga.


"Mas..." aku menyerukan lagi.


"Apa, Canda? Ada di sini tuh, mas-mas aja." sahutnya dengan bersantai di ruang tamu dengan secangkir s*su hangat.


"Mas...." aku langsung menghampirinya, kemudian duduk di sampingnya.


"Mas, aku belum sarapan." aku langsung bergelayut di lengannya.


"Kenapa belum? Jangan rewel coba makan tuh, biar anak-anaknya tak meniru. Makan tuh apa aja, yang penting sehat, halal. Jangan melulu daging terus, jangan melulu pedas terus." ia tengah memainkan ponselnya.


Ia tengah membalas chat seseorang. Tapi, ia tidak keberatan dengan aku mengintip isi pesannya. Ia membalas pesan untuk dua orang, pada Hala dan pak Romli. Kontak itu yang tertulis di bagian atas isi chatnya.


"Ngap tuh, Cendol!"


Aku malah terkekeh, kemudian memeluknya semakin erat.


Ia melirikku, "Apa?"


Namun, beberapa detik kemudian. Mas Givan langsung memencet hidungnya dengan ibu jari dan telunjuknya.


"Bau sih. Makan apa coba?!" alis mas Givan menyatu.


Aku langsung menyembunyikan wajahku di area ketiaknya. Aku malu, mas Givan pun pasti marah. Ia tidak suka makanan yang berbau, meski kadang-kadang ia ingin juga.


"Sana pakai obat kumur!" mas Givan melepaskan tautan tanganku yang masih memeluknya.


"Mas... Makan di luar yuk? Ke rumah makan Sunda." aku masih ingin makan dengan lalab petai mentah.


Aku malu jika malam di sini. Petai tadi pun, request papah Adi untuk dicampurkan sambel goreng. Bukan malah aku memakannya mentah, dengan dicocol sambel.


"Ayo lah, Mas." aku enggan melepas pelukanku.


"Masih pagi tuh! Sarapan aja dulu sana! Mana ada rumah makan Sunda pagi-pagi buka. Anak kau aja, belum berangkat sekolah. Yang ada tukang bubur ayam tuh, depan posyandu sana." mas Givan berhasil melepaskan pelukanku.


Namun, aku kembali mengganduli lengannya.


"Hal kecil aja tuh, Mas Givan tak mampu menuhin. Ya Allah....." aku merasa tidak dipentingkan di sini.

__ADS_1


"Hei!!! Kau nangis?" mas Givan menaikan daguku.


Aku sedih mendapat sikapnya yang seperti itu. Ia tidak sayang istrinya.


"Mas Givan tuh maunya apa coba?! Aku minta surat kuasa, iya he'em aja. Aku tak diminta tanda tangan sampai sekarang. Udah gitu, aku minta makan di luar, mas Givan ngomongnya gitu." aku seperti anak kecil yang menangis sembari berbicara.


Aku membatin, tapi langsung aku keluarkan dari mulutku.


"Nih, nih! Tanda tanda di sini! Disuruh sarapan cepet, terus tanda tangan. Terus aku mau pergi simpan surat, sekalian antar Chandra sekolah. Orang tuh baper aja! Sabar coba! Lagian aku tak ngelarang kau makan di luar, cuma ngasih tau kalau sekarang rumah makan Sunda belum buka. Apa tuh?! Nangis segala." ia malah mengomel cepat, dengan merangkulku.


"Aku mau makan di luar, mau makan di rumah makan Sunda."


Aku tidak mengerti diriku sendiri, tetapi aku sampai sesenggukan di sini. Aku merasa, mas Givan jahat. Dia tak mau mendengar dan menuruti inginku.


"Hei.... Drama queen sih pagi-pagi?"


Aku melirik ke arah seseorang yang datang dengan membawa piring dan seisinya. Itu piringku tadi, dengan petai yang masih berada di sana. Hanya saja, jumlah nasi di atas piring itu sampai menggunung.


Sepertinya Ghifar menambahkan nasi, lalu ia lanjut menyantap makananku.


Tangisku bertambah pecah, karena petaiku dimakan.


"Canda! Kenapa sih?! Kau kerasukan kah?" mas Givan mengusap-usap kedua lenganku cukup terasa.


"Aku mau makan di luar." hanya itu yang aku inginkan sekarang.


"Duh.... Ganggu rencana hari ini aja. Ya udah, nanti aja tanda tangannya. Sana cepet siap-siap, aku cari Chandra dulu." mas Givan bangkit dan membawa dokumen yang berada di atas meja.


Aku tidak percaya dengan ucapannya, itu terdengar kasar sekali.


"Aku ganggu rencana Mas? Aku perusak rencana Mas? Cuma hal kecil aja, Mas sampai ngomong gitu." aku meraung-raung seperti ditinggalkan bang Daeng kemarin.


Aku merasa tersakiti di sini.


Aku bisa melihat Ghifar yang melongo saja. Aku bisa melihat alis mas Givan yang menyatu juga. Mereka malah saling memandang.


"Bentar-bentar." mas Givan duduk kembali di sampingku.


Lalu ia menunjuk isi piring Ghifar, "Kau suapin Canda petai tadi? Mulutnya bau, ditambah kau makan petai. Kau jangan bikin Abang kau curiga ya, Far!" mas Givan seperti menuduh Ghifar.


Ghifar menelan makanannya segera, "Heh! Asal kau tau ya? Tadi di belakang, ada orang yang lagi ngumpet makan petai. Padahal, orang tersebut tak doyan petai. Panik dia, kasih piringnya ke aku, pas mamah panggil." Ghifar sampai menunjuk-nunjuk mas Givan, dengan jarinya yang berlumuran sambal.


Mas Givan kini tengah memandangku seribu makna, "Canda......


...****************...


Drama gak jelas, seperti ibu-ibu yang.... 🤭

__ADS_1


__ADS_2