Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD361. Diboyong


__ADS_3

"Wakilah wali bak Ulon tuan, Ulon peunikah Ananda Givan bin Mahendra keu Canda Pagi Dinanti binti Mansyur, dengoen jeulame lampoih kupi nam hektar, Tunai."


Tangan mas Givan diayunkan sekali oleh penghulu.


"Ulon tuan teurimong nikah Canda Pagi Dinanti binti Mansyur, dengoen jeulame lampoih kupi nam hektar, Tunai."


Menghafal atau membaca?


Bahkan, kertas itu ada di bawah tangan mereka.


"Sah...."


Alhamdulillah.


Sudahlah, bodi amat.


Aku tersenyum manis, sesuai keinginan mas Givan. Hari ini, di mana akan terjadi hari-hariku yang selalu dibentak olehnya


Siap-siap Canda.


Semoga, aku panjang umur menghadapi manusia jenis mas Givan sampai mati.


Yang terpenting, tidak ada orang ketiga.


Aku merapatkan mataku, saat teringat bahwa masih ada Putri Vishaka di antara mas Givan dan aku.


"Cium dong, Dek."


Aku langsung memelototinya.


Ia tertawa terbahak, bersama para saksi yang hadir.


Dasar, tukang iseng!


Benar kata mas Givan, tidak ada tamu undangan yang akan bertanya padaku tentang bang Daeng. Mungkin, ada di antara mereka yang bertanya pada keluarga bang Daeng. Karena aku sempat melihat mangge berkaca-kaca dan dato menangis dengan tamu undangan.


Mau bagaimana lagi?


Aku hanya mampu menunaikan amanat bang Daeng.


Hingga saat jam dua siang, mempelaiku melarikan diri. Ia tetap ingin berobat masalah giginya.


Mas Givan sudah tidak tahan lagi, menahan rasa sakit giginya.


Untungnya pun, tamu undangan sudah jarang yang datang. Aku pun sudah berganti pakaian, sudah tidak menggunakan pakaian adat kembali.


Aku sudah menggunakan dress midi berwarna ungu muda, dengan dipadukan dengan celana stretch putih dan hijab pasmina putih. Hanya saja, make up pengantin tadi belum dihapus. Itu dilarang oleh mamah Dinda, sebelum acara benar-benar selesai.


Ceysa pandai mengamuk.


Aku tidak tahu bagaimana suasana hatinya sekarang. Tapi, seharian ini ia mengamuk hebat bersama orang-orang terdekatnya.

__ADS_1


Matanya sampai bengkak, dengan hidung memerah penuh ingus.


"Sama Biyung yuk?" aku mencoba mengambil alih Ceysa dari Ghavi.


Ceysa menggeleng, ia menyandarkan kepalanya pada bahu Ghavi.


"Gimana ya biar tak ngamuk-ngamuk lagi?" tanyaku pada Ghavi.


"Mungkin nanti reda sendiri. Mungkin dia ngerasa kangen sama Noy, tapi tak tau cara nanya keberadaan ayahnya itu."


Pikirku pun begitu.


"Sabar aja, tiga empat harian mungkin Ceysa udah terbiasa. Waktu Lendra dibawa ke rumah sakit aja kan, ngamuk aja Ceysa. Sampai ikut ke sana ke mari sama Givan, dibawa kerja, biar lupa gitu. Apa-apa sama Lendra terus soalnya ini si Unyil." ujar Zuhdi, ia merapat dan langsung menimbrungi obrolan kami.


"Ceysa... Ada pekan raya. Nanti sore ya pergi ya sama aku?" Key datang dengan langsung menarik-narik kaki Ceysa.


Namun, Ceysa menggeleng. Ia sama sekali tidak merespon teman bermainnya itu.


"Aku diminta nenek ajak Ceysa, Biyung." Key langsung murung, dengan mendongak padaku.


"Sama Chandra gih, ajak Chandra aja." aku tersenyum dengan mengusap wajah cantik Key.


Ini adalah cucu yang paling mirip dengan mamah Dinda.


"Ya udah deh. Ceysa tak diajak, ajak Chandra aja." Key melarikan diri dengan mengejek Ceysa.


Ceysa tidak peduli dengan sekelilingnya.


"Jajan." jawabnya lirih.


"Ya tadi kan jajan, sama Aksa juga. Adek Ceysa tak mau mamam jajanannya." ujar Ghavi kemudian.


Bahkan, aku mendengar aduan dari Ria bahwa Ceysa hanya makan dua sendok saja.


"Age.... Jajan ma Ge." Ceysa menunjuk foto bang Daeng yang dipajang di sana.


Tolong, jangan ingatkan.


Karena hanya mendengar namanya saja, aku begitu tersiksa menahan air mata.


"Sama Hadi aja yuk? Main ke Hadi yuk? Hadi punya mainan pizza bohongan, ada burger juga. Ceysa yang jualan, Hadi yang beli. Yuk?" Zuhdi mengajak Ceysa dengan nada ceria.


"Asak-asak?" Ceysa mengerakkan tangannya, bagai memainkan sutil di atas wajan.


"Oh, ada. Kita beli dulu. Yuk? Sama Panda."


Ceysa mengangguk, ia langsung dibawa pergi oleh Zuhdi.


Hingga sore harinya, tenda dan perlengkapan pelaminan sudah diambil kembali oleh pihak WO. Tentu ini atas permintaan papah Adi, beliau tidak suka terlalu lama mengadakan pesta.


Aku tengah membenahi rumah. Karena anak-anak sedang diboyong para bibi-bibinya ke pekan raya. Biar saja, hitung-hitung anak refreshing agar tidak selalu bersedih.

__ADS_1


"Bu...." aku menoleh ke arah suara yang datang.


Mertuaku.


Akhirnya, aku kembali lagi menjadi menantu beliau.


"Ya, Mah." ibu muncul dari arah dapur.


"Canda sini dulu!" mamah Dinda berjalan melewatiku.


"Ya, Mah." aku meninggalkan bekas kardus-kardus yang sudah aku tumpuk ini. Kemudian aku mengikuti mamah Dinda.


"Gini, Bu." mamah Dinda sudah duduk di sofa tamu ruko.


Ada bibi Hana juga di sini. Beliau tengah duduk bersama Ria.


"Gimana?" ibu terlihat panik bercampur serius.


"Tak gimana-gimana." mamah Dinda malah tertawa.


Aku segera duduk di samping beliau, sedangkan ibu berada di hadapanku. Kami terhalang meja.


"Ini, Saya mau boyong Canda. Saya mau, menantu Saya ikut Saya. Untuk masalah dia tinggal sama Givan di rumah barunya, itu sih pasti. Tapi sementara waktu, karena Givan sibuk. Saya minta Canda ikut Saya. Bukan tetap di sini. Tapi, bukan berarti Canda tak boleh ke sini. Itu bebas, yang penting dia makan tidur di rumah Saya. Kalau masalah Zio, belum Saya omongkan dengan Givan. Kan rasanya tak pantas, kalau mertuanya digaji untuk urus anaknya menantu." ungkap mamah Dinda.


"Wong deket ini, Bu. Canda di sini juga gak apa. Ruko masih kotor, masa main boyong-boyong aja."


Kami semua memperhatikan bibi Hana.


"Dengan anak Saya nikahin itu, artinya Canda sudah milik suaminya. Givan amanatin Saya, buat izin ke ibunya Canda untuk bawa Canda. Kalau Canda tetap di sini, tinggal di sini. Buat apa fungsinya Givan ngerujukin? Kan fungsinya istri buat nemenin Givan tidur, ngurus Givan, ngebakti ke Givan, didik anak-anak, jalani rumah tangganya dengan baik." sepertinya tidak berkenan untuk mamah Dinda.


Terlihat, mamah Dinda sampai sewot begitu.


"Maksudnya, mungkin Givan yang ikut Canda ke sini gitu Mah." terang ibu lembut.


"Givan punya rumah sendiri, biar Canda tinggal di rumah Givan nanti. Tapi, sekarang Givan lagi tak ada di rumah. Dia minta, istrinya tinggal di rumah Saya sampai dia udah tak keteter dengan kerjaan dia nanti. Kan Saya tak ngelarang Canda main ke sini juga. Nginep juga silahkan, satu dua hari, sekedarnya. Tapi untuk tinggal, ya ikut Saya sementara waktu. Mau beres-beres rumah dulu, ya silahkan. Tapi masanya Canda ngantuk, ya pulang dan tidur di rumah Saya."


Sudahlah, Bu, Bi. Mamah Dinda sedang lelah, jangan mengajak berdebat. Bisa runyam masalahnya.


"Iya, Mah. Silahkan." sepertinya ibu memahami tabiat mamah Dinda.


Entah di belakang, mungkin nanti ibu akan menggerutu.


"Normalnya di Jawa, laki-laki yang ikut perempuan." celetuk bibi Hana.


Mamah Dinda mendengus keras, "Di sini umumnya, perempuan yang ikut laki-laki. Kalau kau lupa juga! Dulu kau minta Canda buat aku boyong! Dengan alasan, malu lah, pantasnya ikut suami lah, berbakti pada suami lah. Kalau mertuanya bukan Saya, udah tekanan batin, kena tukak lambung dia. Saya ingetin tuh ya, Bu!" mamah Dinda sampai menunjuk-nunjuk bibi Hana.


Aku sudah berkata kan tadi, agar tinggal menurut saja?


"Ndhuk.... Memang kamu bikin malu apa?"


...****************...

__ADS_1


Sedikit keributan setelah akad, yang aku bilang di GC 🤗


__ADS_2