
...Udah Senin aja, padahal stok naskah sedikit 😢...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Siapa sih itu, Yah?" Chandra seperti merasa asing, dengan tiga orang perempuan yang selalu mengajaknya mengobrol tersebut.
"Ini kak Devi, ini kak Lia, sama itu Ibu Muna." mas Givan mengenalkan kembali tiga kerabat jauh papah Adi tersebut pada Chandra.
"Terus ibu-ibu itu buat apa?" Chandra menyatukan alisnya seperti biasa.
"Masa aku ibu-ibu, Bang Chandra?" kak Devi langsung berakting cemberut.
Chandra menoleh pada kak Devi, lalu ia lebih rapat pada ayahnya. Chandra masih susah bersosialisasi dengan orang baru.
"Yah?" Chandra mendongak, kemudian menyentuh jakun ayahnya.
Mas Givan menunduk, kemudian mencium pipi Chandra.
"Bang Chandra nanti main sama Kak Devi, adek Zio nanti main sama kak Lia, nanti Ibu Muna yang bantu beres-beres mainan bang Chandra. Ya? Mau ya main sama kak Devi?" ujar mas Givan lembut.
Meski Chandra sering kasar terhadap Zio, sering nakal pada temannya, tapi ia tetap saja baperan dan cengeng. Sekarang saja, Chandra sudah akan menangis.
"Sama kakek aja, sama nenek." Chandra menunjuk arah dapur.
"Iya, sama kakak nenek juga. Tapi Chandra main sama bobo, nantinya sama kak Devi." mas Givan memeluk tubuh Chandra yang duduk di pangkuannya.
Wajahnya muncul di bahu kanan Chandra. Sesekali, ia juga mencium pipi Chandra.
"Mau ke mana, Key?" tanyaku cepat, karena Key berlari ke arah teras rumah tanpa kak Ifa.
"Main...." sahut Key begitu samar.
Aku langsung bangkit, lalu berjalan ke arah teras.
"Main ke mana, Key?" seruku, karena Key sudah berlari ke arah pagar.
"Duh, itu bocah." kak Ifa buru-buru memakai sendalnya, dengan membawa botol minum dan semangkuk makanan untuk Key.
"Kak Ifa.... Tolong bukain pintunya dong." seru Key.
Untungnya, kak Ifa bisa gerak cepat. Jika aku, mungkin memilih berguling saja untuk segera sampai pada anak itu. Tetap kewalahan, padahal Key sudah besar.
"Iyungggg...." si imut Ceysa muncul, ia menghampiriku dengan baju yang kedodoran lagi.
Hufttt...
__ADS_1
Aku tidak tahu ukuran pasti baju untuk Ceysa. Aku selalu mengatakan, untuk anak usia dua tahun. Tapi setelah dipakai oleh Ceysa, pasti kedodoran seperti ini.
Apa Ceysa sebaiknya menggunakan pakaian anak usia satu tahun?
Tapi, pakaian lamanya sudah kekecilan. Berarti tandanya, Ceysa memang sudah tidak muat dengan pakaian ukuran lamanya.
"Makan apa itu, Dek?" aku membawanya untuk masuk ke dalam rumah.
"Ki eli."
Itu adalah es jeli yang dibekukan di freezer.
"Yayah...." Ceysa menyapa ayahnya yang duduk di sofa tamu, tetapi ia malah berjalan lurus ke ruangan lain.
Ceysa suka muter-muter menyusuri rumah, meski ia sudah tau rutenya.
Ngomong-ngomong, ibu mertuaku dan ayah mertuaku sekarang sedang perang dingin. Dengan Gibran dan Gavin yang akan bersiap untuk berangkat ke pesantren. Itu pun, diurus semua oleh ayah Jefri. Pesantren yang di Aceh Besar, yang menjadi pilihan kedua anak itu. Anak itu sendiri yang ingin dan memilih. Mungkin, karena banyak anak dari daerah ini yang dipondokan di sana.
"Canda...." mas Givan menepuk sofa yang berada di sampingnya.
Aku mengangguk, kemudian duduk di sampingnya.
"Ibu Muna nanti nih, langsung tinggal di rumah kita. Nanti beliau tinggal sama Novi, di rumah kita. Key sama kak Ifa, nanti siang pindah ke rumah Key. Biar mereka mulai tinggal di sana. Kak Lia sama Kak Devi, nanti di rumah ibu dulu ya? Chandra juga di sana dulu. Kita ke Kalimantan nih, setelah aku nganter Gibran sama Gavin. Mamah sama papah, biar mereka berdua, biar bisa selesaikan masalahnya dengan romantis." mas Givan berkata lirih, dengan menahan tawa di akhir kalimat.
Namun, ia malah menepuk jidatnya sendiri.
"Tapi nanti ya ke Kalimantannya. Giska belum ada kabar nih." tambahannya kemudian.
Hadi dijemput pamannya dan bibinya tadi. Mereka mengatakan, akan mengajak Hadi untuk jalan-jalan sebentar.
Aku mendekatkan mulutku ke telinganya, "Atur aja, Mas. Tapi, kita pindah ke ibu dulu aja. Aku tak nyaman, mamah Dinda sama papah Adi lagi diem-dieman gini." aku berbisik pelan.
Mas Givan mengangguk, "Nanti pakaian kita langsung ditaruh di rumah aja. Di sana udah ada ranjang, udah siap walk in closed juga. Tinggal isi pakaian. Buat tinggal di rumah ibu, bawa aja beberapa baju. Paling satu atau dua hari lagi, kita langsung berangkat ke Kalimantan."
Aku tidak mengerti, kenapa ia tidak langsung membawaku untuk pindah ke rumah barunya. Ada apa sebenarnya? Aku malah dibuat penasaran.
"Biar ibu tak cemburu. Disangkanya berat ke mamah aja. Dengan beberapa hari kita di sana kan, ibu ngerasanya kita adil gitu. Kita bakal lama di Kalimantan soalnya nih, Dek. Mungkin sekitar tiga bulanan."
Oh, jadi itu alasannya.
"Ok, Mas." aku tersenyum lebar.
"Ayo Bu, Kak Devi, kak Lia. Ayo ke rumah ibu aja." mas Givan bangkit, dengan menggendong Chandra.
Aku menyentuh lengannya, "Mas, aku beresin pakaian dulu ya?"
__ADS_1
Mas Givan hanya mengangguk. Kemudian mengajak tiga orang kerabat papah Adi itu, untuk mengikutinya.
"Dek...." aku mencari keberadaan Ceysa.
"Ya...." suaranya begitu jauh.
Sepertinya, gadis kecil itu berada di dapur. Aku segera menuju ke sana. Terlihat, Ceysa tengah anteng melihat-lihat isi kulkas. Hanya matanya saja, yang menjelajahi seluruh isi kulkas itu.
"Dek..... Lagi apa?" aku menghampirinya.
Ceysa melirikku, "Dek au jajan. Ge dak ulang-ulang. Di nini, dak ada uweh."
Ia masih mengingat manggenya? Mangge tidak pulang-pulang katanya.
"Ya udah, jajan sama Biyung aja yuk?" aku menggandengnya.
Ceysa mundur beberapa langkah, sehingga aku bisa menutup lemari es ini.
"Au, Dek alan ya?"
Aku mengangguk, "Iya, pakai sendal ya?"
"Ya, Iyung."
Aku membawanya ke warung yang ia tunjuk. Seperti kebiasaannya dengan bang Daeng. Ceysa selalu membeli ciki satu renteng, kemudian dikalungkan ke lehernya. Ia girang, dengan kalung ciki tersebut.
"Adek Ceysa, dari mana?" sapa Jasmine, yang duduk di teras ruko mangge.
"Abis jajan, Kak. Kak Jasmine mau tak nih?" aku menawarinya plastik yang berisi beberapa makanan ringan.
"Aku lagi sakit sariawan, Biyung." Jasmine sampai meringis ketika berbicara.
Aku mengajak Ceysa untuk naik ke teras toko milik ma Nilam itu. Kemudian, aku duduk di samping Jasmine yang berpangku pipi.
"Ini ada kue yang tak keras. Kalau sariawan harus sering makan, biar sariawannya pecah, terus sembuh deh." aku merangkul anak dengan rupa perpaduan Putri ini.
Jasmine tidak begitu kentara manggenya seperti Ceysa. Ceysa seperti rupa bang Daeng yang dicopy, apalagi kalau Ceysa berambut pendek.
Apa karena dulu aku sering ribut dengan bang Daeng, membuat buah hatiku begitu mirip dengan dirinya?
"Biyung, betulkah Biyung rebut ayah Givan dari ammak? Kenapa Biyung gitu? Kan udah tukeran."
Berbicara apa anak ini? Pasti ia didoktrin dengan pengertian yang salah.
...****************...
__ADS_1