Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD159. Rekor tidur siang


__ADS_3

"Canda, Canda... Kau gampang betul dikuasai Lendra. Disogok uang aja, udah tepar." celetuk kak Raya padaku.


"Aku istrinya." aku sudah tidak mau mendengar apapun, karena aku sekarang adalah istri bang Daeng.


Kak Raya seperti terkejut. Ia bangkit dari posisinya, lalu mendekatiku ke ranjang ini.


"Halu ya kau?" kak Raya memperhatikan wajahku dengan seksama.


"Tak. Memang aku istrinya bang Daeng, tanyakan kalau tak percaya." ungkapku kemudian.


Kak Raya menoleh ke arah lain, ia seperti menimbang sesuatu.


"Pantesan, Lendra ngajuin resign kau. Tapi ini awal tahun, jadi agak susah resign. Bang Koto mau masuk pun susah juga, karena PT belum stabil buat perputaran pegawai." terangnya cepat.


"Kenapa aku diresign?" tanyaku tidak mengerti.


"Lendra mulai stabil, tadi dia cerita mau ambil rumah di Banda Aceh. Lendra bingung mau hutang rumah kah? Atau mau ambil cash aja. Sedangkan, kau mintanya perumahan katanya. Dia bingung juga tuh, mau resign atau bertahan di PT ini. Kalau kerjaan sepakat sama kawan-kawannya itu, dia bilang mau resign aja. Meski hasilnya nanti belum sebanding sama hasil di PT ini. Tapi tak terlalu makan waktu kek di PT ini." ungkap kak Raya bercerita.


Kenapa bang Daeng bercerita pada kak Raya?


Bukannya tukar pikiran dengan istrinya sendiri?


"Siapa nama kawan-kawannya itu, Kak?" tanyaku kemudian.


Karena aku berpikir, bahwa Ghavi berada di salah satu tamu yang duduk di ruang tamu itu. Bukan rahasia lagi, bahwa Ghavi ahli dalam segala bidang.


Ia adalah cerminan mamah Dinda.


Ghavi mengembangkan usaha coffe shop miliknya, itu sudah berjumlah lima cabang seingatku. Wisata kebun kopi milik mamah Dinda, dikelola oleh Ghavi. Jadi, Ghavi mendapat bayaran besar dari mamah Dinda.


Sawah bagian Ghifar dan papah Adi, diatur segalanya oleh Ghavi. Rumah pusaka dari kakeknya papah Adi pun, dijadikan gudang gabah oleh Ghavi.


Ghavi pun memiliki usaha bubuk kopi Gayo varian rasa. Tapi itu masih dibilang merintis, karena pasar Ghavi belum begitu terkenal.


"Tadi sih kalau tak salah. Namanya Saputra, Ari sama Arya."


Syukurlah, tidak ada Ghavi di antara mereka.


"Aku malah curiga terus nanti, kalau LDR sama bang Daeng. Akhir-akhir ini, aku cinta kali sama bang Daeng. Aku takut dia slengean." ungkapku jujur.

__ADS_1


"P*ju Lendra udah mendarah daging sih." ujar kak Raya dengan terkekeh geli.


"Mungkin, Kak. Soalnya dia buang dalam terus." sahutku dengan bersandar pada kepala ranjang.


"Awas hamil loh! Nikah resmi bukan? Kalau siri, bisa-bisa kau ditinggal pas udah hamil." kak Raya memeluk bantal yang terdapat di ranjang ini.


Aku mengangguk, "Resmi, Kak. Buku nikah, KK, KTP baru, udah ada di bapaknya bang Daeng."


"Ohh, syukurlah. Jangan bodoh-bodoh betul, kalau hadapin laki-laki kek Lendra ini. Licik, misterius, tak bisa ditebak, tak paham pola pikirnya."


Aku terdiam memikirkan. Aku pun tahu perihal kepribadian bang Daeng ini. Sayangnya, aku sudah terlanjur cinta pada laki-laki berkulit hitam dan berkumis tipis itu.


"Aku harus gimana sih, Kak?" tanyaku kemudian.


"Kalau dia licik, kau pun harus lebih cerdik. Jangan mau hamil dulu, kalau Lendra belum bisa kasih apa yang kau mau. Contoh kecilnya gini aja. Kau dapat rumah, mobil, usaha kecil-kecilan atas nama kau. Terus baru kau sepakat hamil tuh. Kalau Lendra berulah, kau yang depak Lendra nanti. Jangan kau yang pergi cuma bawa anak dan badan. Jangan ulangi kebodohan kau lagi, Canda."


Aku mengklaim kak Raya adalah orang yang pandai.


"Kau bulan ini haid belum sih?" tanyanya kemudian.


"Pas libur akhir tahun itu, haid setelah berhubungan. Awal tahun ini, aku belum haid."


Aku langsung mengangguk, aku mengerti saran dari kak Raya ini.


"Ya... Tolong ambilkan gofood di lobi. Drivernya malas lepas jas hujannya katanya."


Bang Daeng berjalan ke arah kami. Ia bisa seenak itu mengatur asistennya, padahal bukan masalah pekerjaan.


"Laper gak, Dek? Abang belinya martabak aja, gak beli makanan berat." lanjut bang Daeng, ia menghampiriku. Sedangkan kak Raya bersiap-siap dengan jedai dan switernya.


"Laper, Bang. Siang tadi aku langsung tidur, tak makan dulu." aku langsung menyentuh lengannya, kemudian membawa lengannya untuk aku ganduli.


Aku rindu padanya, padahal ia ada di jangkauanku.


Bang Daeng mengusap kepalaku, "Utuh dong uangnya?" suaranya seperti meledekku.


"Manjanya!!! Gemes Abang." bang Daeng menarik daguku, lalu ia meraup bibirku.


"Pengen nyelebor bawaannya." tambah bang Daeng, dengan mulai menindihiku.

__ADS_1


"Sayang masih ada kawan." tambahnya kemudian.


Ia langsung berguling ke sampingku.


Matanya tertuju pada plafon kamar hotel. Apa ya, yang ia pikirkan? Wajahnya terlihat begitu pusing. Aku tidak boleh menambahkan beban pikirannya.


"Abang ke depan dulu ya? Nanti martabaknya Abang minta Raya kasih ke Adek juga." bang Daeng segera bangkit dan melenggang pergi.


Aku memilih untuk membersihkan diri. Aku malas untuk mandi, yang penting aku cuci muka dan gosok gigi saja. Kemudian, aku memilih untuk berganti pakaian agar tidak bau keringat tidurku tadi.


Entah aku akan tidur pukul berapa, aku baru bangun dari tidur sembilan jamku. Rekor harusnya, aku mampu tidur siang dalam waktu yang cukup lama.


~


Satu minggu kemudian.


Aku dan kak Raya tengah dilanda kerepotan, karena bos kami tengah mengurus pekerjaan pribadinya di luar kantor.


Bang Daeng memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, bersama ketiga temannya yang sudah dikenalkan padaku tersebut. Mereka akan pergi ke Batam, lalu setelahnya akan pergi ke Banda Aceh. Perkiraan waktu sekitar sepuluh hari. Sedangkan tugas dari kantor, masih akan berjalan sampai satu minggu mendatang.


Kak Raya berubah menjadi bos dan asisten sekarang. Aku pun diminta kak Raya untuk mengurus laporan pekerjaan milik bang Daeng. Tentu saja kak Raya mau dengan iming-iming uang.


"Canda... Trip ini terakhir buat kau katanya. Lendra ngajuin resign buat kau." ungkap kak Raya, saat tandatangan kesepakatan sudah kami dapatkan.


Kami tengah menikmati makan siang yang tertunda satu jam.


"Terus, bang Koto langsung masuk?" tanyaku kemudian.


Kak Raya menyeruput minuman dingin miliknya, "Iya." ia mengaduk-aduk sedotan yang terhubung dengan gelas berisi air tersebut.


"Trip depan kita ke Sulawesi lagi. Kau katanya sementara di Padang dulu, nanti Lendra usahain satu bulan sekali pulang. Soalnya kita bakal lama di sana, mana kerjaan sedikit berat. Kita bakal turun ke lapangan, soalnya ada masalah pengiriman barang dari lokasi pertama, ke gudang kita. Kan itu tugas pekerjaannya si Lendra juga." jelas kak Raya dengan mengunyah nugget pelengkap nasi goreng miliknya.


"Kok aku was-was kalau bang Daeng ke Sulawesi. Putri di sana, kek pikirannya udah negatif aja." ungkapku jujur.


Aku langsung murung sekarang. Aku sadar, jika dibandingkan dengan Putri. Aku kalah dari segala sisi.


...****************...


😳

__ADS_1


Jam tiga sore up satu lagi.


__ADS_2