Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD25. Sharing


__ADS_3

"Bukan kek gitu, Kak. Tapi bang Lendra keknya salah paham sama Kakak. Kalian perlu ngobrol deh, biar sama-sama ngerti."


Aku tak mau mengadu langsung pada kak Anisa, tentang sangkaan bang Lendra. Yang mengatakan bahwa kak Anisa memiliki banyak FWB.


"Memang bang Lendra ada ngomong apa?"


Ia sampai meninggalkan makanannya, sepertinya kak Anisa begitu penasaran dengan pembahasan ini.


"Yaa... Kata Kakak, bang Lendra ngomong ke Kakak. Bahwa coba tanyakan pada diri Kakak sendiri, kenapa sampai saat ini bang Lendra enggan seriusin Kakak. Berartikan, ada alasan di balik itu semua. Kalian perlu ngobrol, biar paham masalah masing-masing."


Ia menghela nafasnya, memandang kosong ke arah lain.


"Bang Lendra pernah alasan kenapa dia gak bisa ninggalin Putri, karena masalah bisnis sarang walet itu. Aku ngerasa, apa karena aku gak punya bisnis, jadi bang Lendra gak berat sama aku?" nada suaranya seperti menuntut penjelasan.


"Aku kurang tau, Kak. Apa lagi, aku cuma ngobrol sedikit sama dia. Jadi, gak tau pasti dia orangnya kek mana. Kalau memang sulit didapatkan, lebih baik nyerah aja Kak. Aku pernah nyesel, karena terlalu berambisi buat dapatkan laki-laki. Laki-lakinya tak dapat, nasib buruk yang malah aku emban sampai sekarang."


Aku belajar dari pengalamanku kemarin.


"Terlalu cepet buat nyerah, ini baru enam bulan aku berjuang."


Enam bulan dia kata cepat? Aku yang baru tiga bulan bisa dapatkan posisi kekasih saja, sudah menuntut status lebih dari kekasih saat aku berhasil dekat dengan Ghifar.


"Bang Lendra udah lama kah kos di sini?" aku menyuapkan tappoki ke dalam mulutku.


Kak Anisa mengangguk, "Dari cerita bang Dendi sih. Bang Lendra paling lama di sini, mungkin sekitar tiga tahun. Tapi memang dia jarang pulang ke kos, lebih sering tidur di hotel, karena dia kerjanya jalan-jalan terus ke kota lain. Bang Dendi juga, masuk ke kos ini dibawa bang Lendra. Kenal di pesta nikahan temannya. Bang Dendi jadi fotografer, bang Lendra jadi tukang shooting. Yang videoin itu nah. Kalau bang Dendi kan, cuma foto-foto aja. Kalau aku, baru satu tahun setengah keknya."


Oh, jadi bang Lendra merangkap sebagai tukang shooting. Pantas saja bang Dendi pernah membahas tentang kameranya yang rusak, lalu ia berniat meminjam pada bang Lendra.


"Jadi gak tetheringnya?"

__ADS_1


Aku terdiam sejenak. Aku takut diberi banyak pertanyaan di chat, oleh para saudara mas Givan. Aku takut, ada hal yang membuatku tidak mantap mengambil keputusan ini.


Tapi bagaimana aku bisa memastikan sesuatu? Kalau aku tidak memastikannya sendiri.


"Keknya, kita ke sana aja Kak. Aku mau ambil dokumen juga, biar aku yang proses cerai, karena suami pernah bilang tak mau buat proses. Ijazah, KTP pun, masih tertinggal di sana. Tapi aku mau sama Kakak juga. Karena kalau berdua sama bang Dendi, malah aku jadi omongan. Disangka, aku pergi karena laki-laki lain. Yang namanya orang gak tau tuh gimana sih, Kak? Kakak pasti paham lah."


Kak Anisa manggut-manggut, "Sewa mobil aja. Kalau bus, keknya lebih boros deh."


"Apa sewa tak lebih mahal?" aku tidak paham tentang hal ini.


"Gak lah. Paling empat ratus, atau lima ratus ribuan. Kalau ongkos bertiga pulang pergi, keknya lebih dari itu deh. Supirnya kan, bang Dendi aja. Jadi, cuma sewa mobil aja."


Aku mengangguk setuju, karena aku tidak paham tentang ini.


"Terus kek mana, Kak? Kenapa Kakak bisa suka sama bang Lendra? Lebih asik bang Dendi kalau diajak ngobrol." ungkapku kemudian.


Aku ingin mengalihkan pikiranku, dari runyamnya rumah tanggaku. Setidaknya, dengan cara ini pun. Aku akan lebih yakin pada kak Anisa.


Aku menaruh Chandra yang sudah terlelap, ke atas tempat tidur. Kemudian, aku melanjutkan menikmati toppoki ini.


"Soalnya... Bang Lendra itu orangnya dewasa. Lebih-lebih, kalau ngomong dia natapnya mata terus. Kalau lagi jalan juga, dia itu bener-bener ngelindungin. Kalau club malam gitu kan, ramai orang berdesakan. Dia meluk-meluk dari belakang, tangannya ngelindungin badan aku dari desakan orang." kak Anisa mencontohkan kedua tangannya yang lurus ke depan, mungkin seperti itu yang ia maksud dalam ceritanya.


"Tapi kan, Kak. Ngajak Kakak tidur juga, berartikan dia tak murni jaga Kakak." aku mengeluarkan pendapatku, yang membuatku tak habis pikir pada kak Anisa ini.


"Awalnya gak begini kok, Dek. Mesra-mesraan aja biasa, di kamar tiduran sambil ngobrol. Biasa aja lah pokoknya, gak mengarah ke se*s. Mungkin pas itu aku lagi kangen disentuh. Soalnya... Aku kan memang pernah main, sama mantan tunangan aku yang udah beristri itu."


Pantas saja, bang Dendi pernah mengatakan bahwa kak Anisa adalah gadis bukan perawan. Karena sering membawa masuk mantan tunangannya itu.


"Aku diminta bang Lendra buat jauhin Bobby. Kalau lagi ada dia main, bang Lendra langsung masuk aja ke kamar ini. Biar kesannya, kita kek tinggal bareng kek gitu. Lepas itu, aku benar-benar udah lepas dari Bobby."

__ADS_1


Aku ingat siapa Bobby, dia adalah nama mantan tunangan kak Anisa.


"Kangen kan, biasa sering hubungan kek gitu. Bang Lendra juga ada nanya, katanya ada teman aku gak yang open BO. Aku jawab, ya ada. Tapi dia bilang lagi, bersih gak sih, soalnya gak pernah jajan juga, tapi lagi pengen. Pas itu udah ok, bang Lendra udah berangkat. Tapi gak lama, dia balik lagi, main masuk aja ke kos aku. Dia ngadu, katanya gak cocok sama bentukannya, jadi dibatalkan. Udah tuh, sampai situ aja. Tiba-tiba besoknya ngobrol-ngobrol kan, nanya aku udah pernah berapa kali main sama cowok. Aku jawab jujur, memang cuma satu cowok aja, mantan tunangan aku aja, tapi mainnya udah sering, bukan sekali dua kali lagi. Dia nimbrungin juga, meski gak ditanya. Katanya... Aku cuma sama pacar-pacar aja, sama Venya, Naura, terus sama Putri ini. Tapi sekarang lagi jauh sama Putri, sedangkan aku lagi pengen dari hari itu."


Aku memvisualkan cerita kak Anisa, dalam khayalan di pikiranku.


"Bang Lendra tangannya mulai nakal tuh. Biasa cium pipi genit, ini malah dike*up kek gitu. Udah gitu, tiba-tiba royalnya lebih-lebih. Ngajak jalan-jalan ke Mall, belanja kebutuhan aku dari ujung kaki sampai kepala. Udah gitu, aku bilang mampir ke perlengkapan skincare, dia iyain aja. Aku ini gila kali yang namanya skincare, ada uang juga, aku pasti jalan-jalan buat beli skincare. Ehh, gak taunya. Malamnya stay di kos aku aja, tak balik-balik ke kosnya, meski bersebelahan kek gini. Terus kejadian lah, berhubungan malam itu. Paginya, aku minta kejelasan. Aku jujur, aku suka sama dia. Tapi mulai pagi itu, dia malah murung. Gak jawab cinta aku, tapi gak ditolak juga. Digantung sampai sekarang, kalau dimintain kejelasan, dia bungkam, seribu alasan, bawa-bawa sarang walet, ini itu."


Ternyata cerita seperti ini, banyak terjadi di sekitar kita.


"Aku sampai pernah jebak bang Lendra, biar dia lupa k*ndomnya. Biar aku bisa hamil anaknya. Tapi dia lebih rela gak ngelakuin, dari pada berhubungan gak pakai k*ndom. Aku sampai sering lecet, ya gara-gara k*ndom itu. Gak nyaman pakai itu, pedih. Apa lagi ukurannya besar, jadi nikmatnya gak ada, karena gak ada anget-angetnya."


Aku tidak pernah menggunakan karet itu. Jadi, aku tidak bisa membayangkan rasanya.


Namun, aku malah ingat dengan orang yang bercerita di dapur. Tapi siapa ya?


Pada cerita itu, si laki-laki yang berusaha menghamili wanitanya. Bukan wanitanya, yang begitu menginginkan kehamilan.


...***************...


Ceritanya siapa ya? mirip-mirip ceritanya......


Oh iya... Segala ketidakpuasan kalian pada cerita ini, mohon dimengerti ya. Canda bukan tipe wanita kuat, mandiri dan pemikirannya luas seperti mamah Dinda. Aku sengaja ambil tipe seperti ini. Karena bukan satu atau dua orang saja, banyak di sekeliling kita yang memiliki sifat seperti Canda. Banyak alasan pendukung di baliknya, kenapa Canda gak seperti ini itu yang kalian pikirkan.


Pertanyaan dan sangkaan yang kalian pendam selama ini. Pada akhirnya akan mission completed juga.


Jangankan isi hati Givan. Isi hati mamah Dinda, papah Adi, saudara yang lain dan masalah yang akan timbul di rumah megah itu pun bakal kalian ketahui kalau baca kisah ini sampai tamat.


Ayo teruslah berkomentar yang membangun, terima kasih sudah mendukung author sejauh ini. Aku cakap banyak kek gini, biar kalian gak kabur karena nganggapnya cerita ini monoton πŸ˜…

__ADS_1


Harap maklum dan sabar. Karena author cuma pandai alur lambat πŸ€— episodenya keknya bakal banyak, sebisa mungkin author percepat. Kalau bisa itu pun 🀭


Terima kasih kakak-kakak semuanya πŸ™ aku seneng dapat komentar banyak πŸ˜‰ like, vote dan tap ❀️ kak ☺️ bukan apa-apa, aku merasa karyaku diapresiasi kalau tengok like bertambah, vote bertambah, komentarnya banyak, yang favorit pun bertambah.. karena aku cukup trauma di novel Belenggu Delapan Saudara, karena jumlah episode sama jumlah favorit. Lebih banyakan episodenya, dari pada orang sukanya πŸ€—


__ADS_2